Jakarta, dorlanhikmah.com – Gunung berdiri gagah membawa ribuan manfaat bagi ekosistem permukaan Bumi dan keberlangsungan hidup manusia. Islam mengajak umat untuk menelaah tafsir surah at tur guna memahami pesan mendalam di balik penciptaan bentang alam tersebut. Melalui kitab suci Al-Qur’an, Allah SWT bahkan bersumpah khusus mengatasnamakan gunung sebagai tanda keagungan Pencipta.
Fenomena sumpah Ilahi ini kerap memicu pertanyaan mengenai alasan pemilihan gunung sebagai objek yang begitu istimewa. Para ulama tafsir ternama mengurai secara terperinci hikmah tersembunyi yang terkandung di dalam firman-Nya. Penjelasan komprehensif ini membukakan mata manusia akan besarnya nikmat serta kekuasaan Sang Maha Kuasa.
Sumpah Allah SWT Menggunakan Objek Gunung
Allah SWT membuka surah At-Tur dengan kalimat sumpah yang sangat tegas pada ayat pertama. Sumpah ini langsung mengarah pada satu objek alam yang memegang peranan sangat vital di Bumi.
Dalam QS At-Tur ayat 1, Allah SWT berfirman:
وَالطُّوْرِۙ ١
Artinya, “Demi gunung (Sinai).”
Para ahli tafsir memberikan rincian luas mengenai asal-usul kata serta pemaknaan dari ayat yang sangat mulia ini. Pemahaman bahasa menjadi kunci utama dalam membedah makna tersirat di balik pilihan kata tersebut.
Imam Ibnu Jarir at-Thabari menjelaskan bahwa kata الطُّور (at-Thur) bermakna gunung dalam pengertian bahasa yang digunakan masyarakat masa lampau. Beliau mengutip pandangan Mujahid yang menyebutkan bahwa istilah thur berakar dari bahasa Suryani yang memiliki arti gunung secara umum.
At-Thabari meriwayatkan sanad penafsiran tersebut secara utuh dalam karya besarnya untuk menjaga keutamaan riwayat:
حدثني محمد بن عمرو، قال: ثنا أبو عاصم، قال: ثنا عيسى وحدثني الحارث، قال: ثنا الحسن، قال: ثنا ورقاء جميعاً، عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد، في قول الله تبارك وتعالى: { والطُّورِ} قال الجبل بالسُّرْيانية.
Artinya, “Muhammad bin ‘Amr menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu ‘Ashim menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Isa menceritakan kepada kami. Al-Harits juga menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: Warqa’ menceritakan kepada kami. Mereka semua meriwayatkan dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, mengenai firman Allah SWT, “Wat-Thur” (وَالطُّورِ). Mujahid berkata: “Artinya adalah gunung dalam bahasa Suryani.” (Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami’ul Bayan [Kairo: Dar Hijr, 2001], juz XXI, hlm. 560).
Kedudukan Gunung Tur dalam Lintasan Sejarah dan Keagungan Surga
Imam Al-Qurthubi memperkaya pemahaman umat dengan memaparkan konteks sejarah yang sangat sakral di balik nama gunung tersebut. Beliau menerangkan dalam kitab tafsirnya bahwa at-Tur merujuk pada nama gunung spesifik tempat Allah SWT berbicara langsung kepada Nabi Musa a.s.
Allah SWT sengaja bersumpah dengan menyebut Gunung Tur sebagai bentuk penghormatan serta pemuliaan yang sangat tinggi terhadap lokasi bersejarah tersebut. Langkah ini sekaligus bertujuan memantik kesadaran manusia agar senantiasa mengingat berbagai keajaiban dan tanda kekuasaan-Nya.
Tidak hanya memiliki posisi istimewa di dunia, Gunung Tur juga memegang keutamaan luar biasa dalam alam akhirat kelak. Imam Al-Qurthubi mencantumkan riwayat yang menegaskan bahwa objek alam ini tergolong sebagai salah satu gunung penyusun surga.
Beliau mengutip riwayat hadits yang menyampaikan kabar gembira mengenai keberadaan gunung tersebut:
وروى إسماعيل بن إسحٰق قال: حدّثنا إسماعيل ابن أبي أويس، قال: حدّثنا كثير بن عبد الله بن عمرو بن عوف عن أبيه عن جدّه أنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أربعة أجبل من جبال الجنة وأربعة أنهار من أنهار الجنة وأربعة مَلاَحم من مَلاَحم الجنة” قيل: فما الأجبل؟ قال: “جبل أُحُد يحبنا ونحبه والطُّور جبل من جبال الجنة ولُبْنان جبل من جبال الجنة والجودي جبل من جبال الجنة”
Artinya, “Ismail bin Ishaq meriwayatkan: Ismail bin Abi Uwais menyampaikan kepada kami, ia berkata: Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf menyampaikan kepada kami, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ada empat gunung yang termasuk gunung-gunung di surga, empat sungai yang termasuk sungai-sungai di surga, dan empat medan pertempuran yang termasuk medan-medan pertempuran di surga.” Para sahabat bertanya, “Apa saja gunung-gunung tersebut?” Beliau menjawab: “Gunung Uhud. Ia mencintai kami dan kami mencintainya. Gunung Tur adalah salah satu gunung di surga, Gunung Lubnan adalah salah satu gunung di surga, dan Gunung Judi adalah salah satu gunung di surga.” (Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2006], jilid XIX, hlm. 511–512).
Makna Kitab Tertulis dalam Kitab Suci Al-Qur’an
Pesan Ilahi dalam surah ini berlanjut pada ayat kedua dengan menghadirkan objek sumpah berikutnya yang tidak kalah agung. Allah SWT mengarahkan perhatian manusia pada keberadaan lembaran teratur yang memuat petunjuk-petunjuk kebenaran.
Firman Allah SWT pada ayat selanjutnya berbunyi:
وَكِتٰبٍ مَّسْطُوْرٍۙ ٢
Artinya, “Demi Kitab yang ditulis.”
Istilah مَّسْطُوْر terambil dari akar kata السَّطْرُ yang mengandung arti penyusunan serta pengaturan huruf-huruf tulisan secara rinci. Imam Muhammad Sayyid Tantawi memberikan penjelasan mendalam mengenai korelasi antar kata dalam firman ini.
Beliau memaparkan bahwa al-kitab mewakili segala sesuatu yang sengaja dicatat atau dituliskan oleh pembuatnya. Sementara itu, kata al-masthur mendeskripsikan kondisi tulisan yang tersusun sangat rapi, teratur indah, serta menyajikan mutu tekstual terbaik.
Mayoritas ulama memegang pendapat kuat bahwa objek al-kitab al-masthur pada ayat ini merujuk secara langsung kepada Al-Qur’an. Kecenderungan ini berpatokan pada kebiasaan Al-Qur’an yang sangat sering mengulang sumpah atas nama kitab suci itu sendiri.
Contoh penegasan sumpah sejenis dapat masyarakat temukan pada QS Az-Zukhruf ayat 1–2 serta QS Yasin ayat 1–2. Penafsiran ini mempertegas betapa tingginya kemuliaan firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Pandangan senada terpapar dalam kitab Mahasinut Ta’wil karya Imam Muhammad Jamaluddin al-Qasimi. Beliau menegaskan bahwa firman tersebut mengacu pada Al-Qur’an, atau memuat pengertian yang lebih luas mencakup seluruh kitab wahyu ilahi.
Pembacaan Alam Semesta Menurut Buya Hamka
Ulama kenamaan Nusantara, Buya Hamka, memberikan cakrawala berpikir yang sangat luas dan menyegarkan dalam penafsiran ayat ini. Beliau mengaitkan keberadaan Bukit Thur sebagai lokasi penerimaan wahyu Kitab Taurat oleh Nabi Musa a.s.
Meskipun demikian, Buya Hamka mengajak pemikir muslim untuk memandang susunan ayat kedua dan ketiga ini melalui kacamata yang lebih terbuka. Menurut beliau, pemaknaan ayat tersebut menerobos batasan fisik lembaran tulisan harfiah semata.
Buya Hamka menyampaikan sebuah pesan pencerahan dalam karya fenomena miliknya, Tafsir Al-Azhar:
“Alam terbentang di kiri-kanan kita ini, di atas di bawah kita, di muka di belakang kita, asal kita masih suka memperhatikan, semuanya itu adalah kitab yang tertulis, yang ditulis oleh huruf-huruf dan bahasa pemahaman kita, kita selalu dapat membaca asal saja kecerdasan kita tidak buta huruf. Semuanya tertulis dengan sekalian bahasa manusia.”
Ungkapan filosofis tersebut menegaskan bahwa jagat raya berfungsi sebagai bentangan kitab terbuka bagi setiap insan berakal. Seluruh fenomena alam semesta menyimpan tanda-tanda keagungan yang siap dibaca oleh siapa saja yang menggunakan kecerdasannya secara optimal.
Manusia menciptakan jutaan jilid karya tulis ilmiah sepanjang sejarah peradaban untuk mengikat ilmu pengetahuan. Namun, batas usia manusia tidak akan pernah cukup meski sekadar untuk membalikkan lembaran dari seluruh tumpukan buku tersebut.
Kenyataan ini membuktikan betapa tidak terbatasnya lembaran ilmu yang dapat ditangkap oleh akal manusia. Baik tulisan yang tercetak di kertas maupun fenomena alam semesta, keduanya menyajikan pelajaran tanpa batas bagi jiwa pencari kebenaran.
Tafsiran Lembaran Terbuka dan Luasnya Pesan Ilahi
Allah SWT mengunci rangkaian sumpah permulaan ini pada ayat ketiga dengan menggambarkan keadaan media tulisan tersebut. Penjelasan mengenai bentuk fisik media ini semakin memperkaya dimensi makna dari rangkaian ayat sebelumnya.
Firman Allah SWT menyatakan:
فِيْ رَقٍّ مَّنْشُوْرٍۙ ٣
Artinya, “Pada lembaran yang terbuka.”
Secara etimologi, kata رَقٍّ dipahami para ahli sebagai materi fisik yang berguna merekam dan menyimpan catatan tulisan. Pemanfaatan media ini mencakup kertas, kulit hewan, hingga lembaran pelepah kurma, meski sebagian ulama membatasi maknanya khusus pada bahan kulit.
Pemilihan bentuk nakirah pada kata ini mengandung isyarat tersirat mengenai tingginya derajat kandungan isi tulisan tersebut. Hal ini menandakan bahwa tulisan yang dimaksud bukanlah selembar dokumen biasa yang beredar luas di tengah ruang publik masyarakat.
Para ulama memberikan variasi interpretasi yang sangat kaya dalam menafsirkan frasa رَقٍّ مَّنْشُوْرٍ secara keseluruhan. Sebagian ulama meyakini maknanya merujuk pada Lauh Mahfuz tempat seluruh ketetapan takdir Illahi tersimpan abadi.
Sebagian pandangan lain mengaitkan frasa tersebut langsung dengan keagungan Al-Qur’an al-Karim. Ada pula yang menghubungkannya dengan lembaran piagam boikot yang di buat suku musyrik Mekah untuk menekan Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau.
Piagam pemboikotan tersebut pernah di gantungkan secara sengaja di dinding Kabah selama kurang lebih dua tahun. Atas kuasa mutlak Allah SWT, rayap memakan habis seluruh lembaran piagam tersebut hingga tidak tersisa, kecuali lafaz nama Allah.
Prof. Quraish Shihab memaparkan dalam karya tafsirnya bahwa Allah SWT bersumpah dengan menyebut peristiwa serta benda tersebut guna membuktikan keagungan kuasa-Nya. Penafsiran ini menunjukkan bagaimana sejarah manusia terikat kuat dengan kehendak Sang Pencipta.
Ulama lain turut berpendapat bahwa lembaran terbuka tersebut bermakna catatan amal perbuatan manusia yang di tulis rapi oleh para malaikat. Catatan ini nantinya akan di beberkan secara terbuka pada hari pembalasan kelak di hadapan seluruh makhluk.
Prof. Quraish Shihab menyimpulkan bahwa jika mengacu pada konteks gunung tempat Nabi Musa a.s. menerima petunjuk, maka ayat ini sangat tepat di artikan sebagai Kitab Taurat. Namun jika menyambungkannya dengan ayat berikutnya, penafsiran menuju Lauh Mahfuz memiliki pijakan yang sangat rasional.(ust)










Komentar