Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam terus mendalami kandungan Al-Qur’an melalui kajian para ulama ternama. Salah satu bahasan mendasar merujuk pada tafsir Surah Al Qadr karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah. Beliau mengupas tuntas ayat demi ayat dalam surah ke-97 ini untuk menjelaskan rahasia malam Lailatul Qadar.
Naskah lengkap Surah Al-Qadr menjadi pijakan utama dalam memahami peristiwa agung tersebut:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أدرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)
Penerjemahan ayat-ayat ini menegaskan kemuliaan Al-Qur’an dan malam penurunannya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ar Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur urusan. Malam itu (penuh) Salaam sampai terbit fajar”. (QS. Al Qadr [97] : 1-5).
Rahasia Penggunaan Kata Ganti dalam Firman Allah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengawali penjelasan dari potongan firman Allah Subhana wa Ta’ala:
(إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ) “Sesungguhnya Kami menurunkannya…”.
Dalam konteks bahasa, dhamir atau kata ganti pada kata (إِنَّا) merujuk langsung kepada lafadz Allah ‘Azza wa Jalla. Sementara itu, kata ganti pada (أَنْزَلْنَاهُ) kembali kepada kitab suci Al-Qur’an.
Allah Subhana wa Ta’ala menyebut Diri-Nya dengan sebutan pengagungan pada ayat ini. Langkah tersebut menegaskan bahwa Allah Subhana wa Ta’ala merupakan Dzat Yang Maha Agung dan tidak ada satu pun makhluk yang mampu melebihi keagungan-Nya.
Para ulama mencatat bahwa Allah terkadang menyebut Diri-Nya menggunakan bentuk pengagungan berupa dhamir jama’ atau kata ‘Kami’. Pola penulisan ini mirip dengan ayat Al-Qur’an dalam surah lain:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Kutipan tersebut memiliki arti sebagai berikut:
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur’an dan Kami pulalah yang menjaganya”. (QS. Al Hijr [15] : 9).
Penjelasan serupa juga mewarnai berbagai ayat Al-Qur’an lainnya. Namun, Allah Subhana wa Ta’ala tidak selalu menggunakan kata ganti jamak dalam firman-Nya.
Terkadang Allah Subhana wa Ta’ala menyebut Diri-Nya dengan bentuk tunggal atau dhamir tunggal berupa kata ‘Aku’. Firman Allah dalam Surah Thaha memberikan gambaran yang jelas mengenai hal ini:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Terjemahan dari firman tersebut menegaskan tauhid secara lugas:
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS. Thahaa [20] : 14).
Perbedaan penggunaan kata ganti ini berpijak pada hakikat bahwa Allah merupakan Dzat Yang Maha Esa sekaligus Maha Agung. Ketika sebuah ayat menjelaskan sifat keesaan (wahdaniyah), Allah menggunakan dhamir tunggal untuk menegaskan status-Nya sebagai satu-satunya sembahan.
Dua Pendapat Ulama Mengenai Cara Penurunan Al-Qur’an
Kajian tafsir kemudian menelaah makna kata inzaal pada firman Allah (أَنْزَلْنَاهُ) yang terjadi pada malam Lailatul Qadar. Para ahli tafsir membagi sudut pandang mereka menjadi dua pendapat utama.
Sebagian ulama menyatakan bahwa Allah Subhana wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an secara keseluruhan sekaligus dalam satu malam Lailatul Qadar. Proses penurunan ini bergerak dari Al Lauhul Mahfudz menuju Baitul Izzah yang berada di langit dunia.
Setelah tahap tersebut, Allah Subhana wa Ta’ala menurunkannya secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Malaikat Jibril menyampaikan wahyu ini secara bertahap sesuai rentetan peristiwa selama kurun waktu 23 tahun.
Pendapat lain menawarkan sudut pandang berbeda mengenai makna inzaal pada firman (أَنْزَلْنَاهُ). Kelompok ulama ini menilai bahwa Allah Subhana wa Ta’ala mulai menurunkan ayat Al-Qur’an yang pertama pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan.
Memahami Arti Kata Al-Qadr: Kemuliaan dan Takdir
Pembahasan berlanjut pada firman Allah Subhana wa Ta’ala (فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ) yang berarti “pada Lailatul Qadr”. Para pakar bahasa dan tafsir membedah makna kata (الْقَدْرِ) secara mendalam.
Sebagian ulama menetapkan bahwa makna kata (الْقَدْرِ) berfokus pada kemuliaan yang sangat tinggi. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa kata tersebut bermakna takdir.
Penetapan takdir hamba untuk satu tahun ke depan berlangsung pada malam penuh berkah ini. Al-Qur’an menguatkan penafsiran tersebut dalam Surah Ad-Dukhan:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)
Penggalan surah tersebut memuat pesan mendasar bagi manusia:
“sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dipisahkan dan dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (berupa rezeki, ajal dan lain-lain)”. (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4).
Syaikh Al ‘Utsaimin menegaskan bahwa pendapat paling tepat menggabungkan kedua makna di atas. Malam Lailatul Qadar mencakup kemuliaan yang agung sekaligus menjadi waktu penetapan takdir tahunan mulai dari kehidupan, kematian, hingga rezeki manusia.
Kalimat Pengagungan dan Keutamaan Beramal Seribu Bulan
Allah Subhana wa Ta’ala melanjutkan firman-Nya dengan kalimat pertanyaan (وَمَا أدرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ) yang berartikan “Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu?”.
Bentuk kalimat seperti ini menyimpan faidah khusus untuk mengagungkan serta memuliakan objek yang sedang dibicarakan. Allah Subhana wa Ta’ala memakai pola susunan kalimat serupa di dalam Surah Al-Qari’ah:
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ
Ayat ini mempertegas kedahsyatan hari akhir:
“Dan tahukah kamu apa itu hari yang menggetarkan hati / hari qiyamat”. (QS. Al Qari’ah [101] : 3).
Allah Subhana wa Ta’ala kemudian menjawab pertanyaan tersebut pada ayat berikutnya melalui firman (لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ). Pernyataan ini menegaskan bahwa “Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan”.
Kebaikan yang menonjol dalam ayat ini merujuk pada melimpahnya pahala amal kebaikan pada malam tersebut. Seseorang yang beribadah pada Lailatul Qadar akan meraih pahala yang jauh lebih utama ketimbang beribadah selama seribu bulan tanpa Lailatul Qadar di dalamnya. Ibnu Jarir Ath Thabari Asy Syafi’i Rahimahullah memegang teguh pendapat ini dalam karya tafsirnya.
Kehadiran Para Malaikat dan Sosok Ar-Ruh di Bumi
Keistimewaan malam tersebut semakin terlihat pada firman Allah Subhana wa Ta’ala (تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا) yang berarti “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ar Ruh”.
Para malaikat berbondong-bondong turun secara bertahap dari langit yang berlapis tujuh. Kehadiran ribuan malaikat ini bergerak secara bergelombang hingga memenuhi seluruh penjuru bumi.
Turunnya para malaikat ke bumi membawa limpahan rahmat, kebaikan, serta keberkahan bagi para hamba yang beribadah. Sebaliknya, rumah yang tidak dimasuki malaikat akan kehilangan kebaikan dan keberkahan sebagaimana tertera dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَالرُّوحُ) merujuk khusus kepada Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam. Penyebutan nama Jibril secara tersendiri setelah kata malaikat menunjukkan keistimewaan serta keagungan derajat sang pemimpin malaikat.
Proses turunnya para malaikat berlangsung (بِإِذْنِ رَبِّهِمْ) atau “dengan izin Tuhannya”. Izin yang dimaksud dalam konteks ini adalah izin kauniyah dari Allah Subhana wa Ta’ala. Para ulama membagi izin Allah menjadi dua jenis, yaitu izin kauniyah yang berhubungan dengan kehendak penciptaan dan izin syar’iyah yang berkaitan dengan syariat.
Selanjutnya, firman Allah (مِنْ كُلِّ أَمْرٍ) diterjemahkan sebagai kalimat “untuk mengatur urusan”. Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa huruf (مِنْ) pada ayat ini bermakna huruf ba’ yang berarti seluruh. Makna ayat berkembang menjadi “untuk mengatur seluruh urusan yang Allah Subhana wa Ta’ala perintahkan”, meskipun rinci urusan tersebut tetap menjadi rahasia Allah.
Makna Salaam dan Jamitan Pengampunan Dosa
Bagian akhir surah di tutup dengan firman Allah Subhana wa Ta’ala (سَلَامٌ هِيَ) yang berarti “Salaam”. Allah Subhana wa Ta’ala menyusun kalimat ini dengan struktur mubtada’ dan khabar yang di dahulukan (khabar muqaddam) untuk memberi penekanan makna penuh kedamaian.
Para ulama menyampaikan beragam pandangan mengenai makna kata (سَلَامٌ) dalam ayat ini. Sebagian ulama mengartikannya sebagai kesejahteraan menyeluruh yang melingkupi seluruh urusan hamba.
Ulama lain seperti Mujahid mengartikannya sebagai keselamatan, di mana setan tidak mampu berbuat keburukan atau mengganggu manusia sepanjang malam. Asy Sya’bi menyebut makna (سَلَامٌ) sebagai ucapan salam dari para malaikat kepada orang-orang yang berada di dalam masjid. Sementara itu, Qatadah dan Ibnu Zaid menegaskan bahwa seluruh malam berisi kebaikan tanpa ada keburukan sedikit pun.
Allah Subhana wa Ta’ala menyifati malam ini dengan kata Salaam karena menyediakan pintu pengampunan dosa yang sangat luas. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menguatkan keutamaan ini melalui sabdanya:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Hadis sahih tersebut memiliki arti yang sangat melapangkan dada kaum muslimin:
“Barangsiapa yang mengerjakan sholat pada malam lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala maka akan di ampuni dosa-dosanya yang telah berlalu”.
Seluruh keutamaan tersebut berlangsung sesuai batas waktu dalam firman Allah (حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ) atau “sampai terbit fajar”. Para malaikat terus turun memenuhi bumi dan menyebarkan keberkahan sampai fajar menyingsing. Ketika fajar fajar terbit di ufuk timur, maka berakhirlah keberadaan malam Lailatul Qadar pada hari tersebut.(ust)










Komentar