Jakarta, dorlanhikmah.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menargetkan Indonesia bebas buta huruf Al-Qur’an dalam waktu tiga tahun ke depan. Beliau menyampaikan optimisme tersebut saat mengukuhkan 10.000 guru ngaji di Jakarta pada Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan besar ini berlangsung dalam rangkaian Pembukaan Muktamar V Wahdah Islamiyah. Oleh karena itu, momen tersebut menjadi langkah awal yang sangat penting untuk memperluas jangkauan pendidikan agama di seluruh daerah.
Menag membeberkan fakta bahwa sekitar 60 persen warga muslim Indonesia belum bisa membaca Al-Qur’an. Karena itu, Kementerian Agama mengajak ormas-ormas Islam untuk menyelesaikan persoalan besar ini secara bersama-sama.
Kehadiran puluhan ribu pengajar ini menjadi bentuk kontribusi nyata masyarakat dalam mengatasi masalah literasi Al-Qur’an. Selain itu, Wahdah Islamiyah langsung bergerak cepat dengan menyiagakan tenaga pengajar di berbagai wilayah.
Nasaruddin kemudian merinci kalkulasi matematis terkait skema percepatan pemberantasan buta aksara tersebut. Selanjutnya, setiap guru ngaji memikul tugas untuk membimbing minimal 10 orang murid.
Proses belajar membaca Al-Qur’an tersebut membutuhkan waktu paling lambat selama tiga bulan. Akibatnya, pola pembinaan berjenjang ini pasti mampu melahirkan kader-kader baru dengan sangat cepat.
Kontribusi Nyata Ormas Islam Bebaskan Buta Aksara
Meskipun demikian, Menag meminta para guru tidak sekadar mengajarkan teknis membaca ayat-ayat suci. Lebih dari itu, pengajar Al-Qur’an harus aktif membentuk karakter serta akhlak mulia para peserta didik.
Seorang guru idealnya mampu menyentuh batin para muridnya secara mendalam. Oleh sebab itu, proses transfer ilmu harus berjalan searah dengan penanaman nilai-nilai kebaikan.
Di samping itu, Nasaruddin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat Indonesia sebagai bangsa yang moderat. Beliau menegaskan bahwa prinsip moderasi beragama tidak pernah bertentangan dengan kekuatan syariat.
Bahkan, negara religi dan konsep masyarakat moderat justru dapat saling menguatkan satu sama lain. Sebab, Indonesia selalu berhasil menggabungkan kedua pilar tersebut demi menjaga kerukunan nasional.
Merawat Indonesia Moderat Melalui Pengajaran Keagamaan
Oleh karena itu, pengukuhan 10.000 guru Al-Qur’an ini akan menjadi gerakan masif di tengah masyarakat. Dengan demikian, sinergi antara pemerintah dan ormas Islam menjadi kunci utama keberhasilan target nasional ini.
Pada akhirnya, masyarakat dapat mendukung program ini dengan memanfaatkan fasilitas pembelajaran di daerah masing-masing. Sehingga, cita-cita mulia untuk membebaskan Indonesia dari buta aksara Al-Qur’an pasti terwujud tepat waktu.(ust)










Komentar