Bahaya Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Sunnah

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 7 Juni 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bahaya lalai dalam mengamalkan perkara sunnah( ilustrasi poto :chatGPT)

Bahaya lalai dalam mengamalkan perkara sunnah( ilustrasi poto :chatGPT)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Bahaya lalai amalkan ketaatan sunnah sering bermula dari hal kecil yang tidak disadari seorang muslim.

Kelalaian itu tidak langsung tampak besar, tetapi perlahan menggerus kekuatan iman hingga seseorang kehilangan arah dalam ketaatan kepada Allah.

Teks nasihat para ulama menjelaskan bahwa banyak orang jatuh dalam kerusakan hati bukan karena dosa besar di awal, tetapi karena mengabaikan amal kecil seperti sunnah dan ibadah rahasia. Dari sini, hati mulai kehilangan cahaya hidayah sedikit demi sedikit.

Penulis juga menegaskan bahwa kerusakan batin sering terjadi ketika seseorang hanya menjaga tampilan luar ibadah, tetapi mengabaikan kualitas hati di dalamnya.

Kelalaian dalam amal ketaatan tidak muncul sekaligus. Ia tumbuh dari kebiasaan meninggalkan sunnah secara perlahan. Seseorang mungkin masih menjaga shalat wajib, tetapi mulai meninggalkan shalat sunnah rawatib.

Ia juga mulai jarang shalat malam, tidak lagi memperhatikan kekhusyukan dalam shalat, dan mengurangi interaksi dengan Al-Qur’an. Semua itu terjadi tanpa disadari sebagai awal kemunduran spiritual.

Lama-kelamaan, hati menjadi terbiasa dengan kekosongan ibadah tambahan yang sebenarnya berfungsi sebagai penjaga iman.

Tanda-Tanda Hati yang Mulai Lalai

Para ulama menjelaskan beberapa tanda awal kelalaian hati, di antaranya:

  • Tidak lagi peduli dengan kondisi batin saat beribadah
  • Menjalankan ibadah hanya sebagai rutinitas
  • Tidak merasakan nikmatnya kekhusyukan
  • Mulai ringan meninggalkan sunnah
  • Tidak sensitif terhadap dosa kecil

Tanda-tanda ini sering muncul tanpa di sadari. Seseorang merasa dirinya masih baik karena tetap menjalankan ibadah wajib, padahal hatinya mulai kehilangan kedalaman iman.

Dampak Berantai dari Kelalaian Kecil

Kelalaian kecil yang dibiarkan akan berkembang menjadi kebiasaan buruk. Seseorang yang meninggalkan sunnah secara perlahan akan mulai melemah dalam menjaga kewajiban yang lebih besar.

Ia mulai tidak peduli terhadap kemungkaran di sekitarnya. Bahkan pada tahap berikutnya, ia bisa ikut terlibat dalam hal yang dilarang.

Setelah itu, muncul ketergantungan pada hiburan dunia yang melalaikan. Ketika jauh dari hiburan tersebut, ia justru merasa gelisah dan tidak nyaman.

Akhirnya, jalan ketaatan terasa berat, sementara jalan maksiat terasa ringan. Inilah titik bahaya yang disebut sebagai awal berpaling dari hidayah.

Baca Juga :  Jamaah Haji 2026 Diminta Siap Hadapi Wukuf di Arafah

Pandangan Ulama tentang Sebab Kesesatan

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam Al-Fawaid:

“Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali bahwa amalan-amalan yang dilakukan oleh hati dan anggota badan dapat menjadi sebab hidayah atau kesesatan…”

Penjelasan ini menunjukkan bahwa setiap amal memiliki pengaruh langsung terhadap kondisi hati. Kebaikan akan menguatkan iman, sementara kelalaian akan melemahkannya.

Beliau menegaskan bahwa hubungan antara amal dan hidayah berjalan seperti sebab dan akibat yang tidak terpisahkan.

Abu Mahmud Abdullah bin Muhammad bin Manazil an-Naisaburi menyatakan:

“Tidaklah seseorang melalaikan kewajiban kecuali Allah akan mengujinya dengan pelalaian sunnah. Dan tidaklah ia di uji dengan meninggalkan sunnah kecuali ia akan terancam dengan bid’ah.”

Pernyataan ini menggambarkan proses bertahap dalam kerusakan iman. Awalnya seseorang hanya meninggalkan sunnah, lalu berkembang menjadi penyimpangan dalam agama.

Hassan bin Athiyah juga menegaskan:

“Tidaklah suatu kaum melakukan bid’ah kecuali Allah mencabut dari mereka sunnah yang serupa.”

Riwayat ini memperkuat bahwa sunnah adalah penjaga stabilitas agama seseorang.

Peringatan dari Hadis tentang Telaga Nabi

Rasulullah ﷺ juga memberikan peringatan keras tentang orang-orang yang berpaling setelah beliau wafat. Dalam hadis yang di riwayatkan Abu Hurairah di sebutkan:

“Mereka telah murtad, berbalik ke belakang.”

Hadis ini menggambarkan kondisi orang yang pernah berada di jalan kebenaran, tetapi kemudian meninggalkannya karena kelalaian dan godaan dunia.

Dalam riwayat Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Allah berfirman:

“Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu, mereka terus berpaling di atas tumit-tumit mereka.”

Pesan ini menjadi peringatan bahwa istiqamah tidak cukup hanya di awal, tetapi harus di jaga sampai akhir hayat.

Jalan Keselamatan: Menjaga Keseimbangan Amal

Rasulullah ﷺ bersabda:

تِلْكَ ضَرُورَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ، وَلِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ فَنِعْمَ مَا هُوَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى الْمَعَاصِي فَأُولَئِكَ هُمُ الْهَالِكُونَ

Hadis ini menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki masa semangat dan masa lemah dalam beribadah. Namun, yang menjadi ukuran keselamatan adalah bagaimana seseorang menjaga dirinya saat masa lemah tersebut.

Baca Juga :  Rahasia Waktu Dhuha dan Amalan Terbaik untuk Meraih Berkah

Jika ia tetap berada dalam ketaatan dan tidak jatuh ke maksiat, maka ia berada di jalan yang selamat.

Ibnu Al-Qayyim dalam Madarij As-Salikin menjelaskan bahwa amal yang paling di cintai Allah adalah amal yang di lakukan secara konsisten, meskipun sedikit.

Konsistensi lebih utama daripada semangat sesaat yang tinggi tetapi tidak berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam menekankan stabilitas dalam ibadah, bukan sekadar lonjakan emosional.

Iman yang Bisa Menguat dan Melemah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh iman itu bisa menjadi usang di dalam hati kalian sebagaimana pakaian menjadi usang, maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman kalian.”

Hadis ini menunjukkan bahwa iman bukan sesuatu yang statis. Ia bisa naik dan turun tergantung amal seseorang.

Karena itu, seorang muslim harus terus memperbarui imannya dengan ibadah, doa, dan dzikir.

Dzikir sebagai Penjaga Hati

Dzikir memiliki kedudukan penting dalam menjaga kehidupan hati. Ibnu Al-Qayyim menyebut dzikir sebagai:

  • makanan hati
  • senjata orang beriman
  • penghubung dengan Allah
  • obat dari penyakit hati

Ketika seseorang meninggalkan dzikir, hatinya akan mengeras dan kehilangan ketenangan.

Sebaliknya, ketika ia memperbanyak dzikir, hatinya menjadi hidup dan lebih mudah menerima kebaikan.

Keadaan Hati Manusia

Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa hati manusia terbagi menjadi empat:

  • Hati yang bersinar dengan iman
  • Hati yang tertutup oleh kekafiran
  • Hati yang berbolak-balik (munafik)
  • Hati yang bercampur iman dan nifak

Penjelasan ini menunjukkan bahwa kondisi hati sangat di pengaruhi oleh amal yang di lakukan seseorang setiap hari.

Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat pernah tergoda oleh keindahan kebunnya saat shalat. Namun ia segera menyadari kelalaiannya dan menyedekahkan seluruh kebunnya karena takut hatinya terikat pada dunia.

Kisah ini menunjukkan bahwa orang beriman selalu waspada terhadap gangguan yang bisa mengalihkan hati dari Allah, bahkan ketika gangguan itu berupa harta yang halal.(ust)

Berita Terkait

Hukum Air Daur Ulang Menurut Fikih Islam untuk Berwudu
Keutamaan Shalat Isya Berjamaah Mengandung Pahala Melimpah
Batas Akhir Shalat Isya Menurut Ulama dan Hadis
Mengulas Hukum Membuat Akun Palsu untuk Komentar di Media Sosial Menurut Islam
Hukum Mengirim Karangan Bunga Duka Cita dalam Islam
Hukum Berobat Menggunakan Obat Berbahan Najis Menurut Mazhab Syafi’i
Makna Musibah dalam Islam: Ujian, Muhasabah, dan Hikmah
Dampak Maksiat Merusak Akal dan Hati Manusia
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 08:48 WIB

Hukum Air Daur Ulang Menurut Fikih Islam untuk Berwudu

Minggu, 13 September 2026 - 08:28 WIB

Keutamaan Shalat Isya Berjamaah Mengandung Pahala Melimpah

Minggu, 13 September 2026 - 08:05 WIB

Batas Akhir Shalat Isya Menurut Ulama dan Hadis

Kamis, 10 September 2026 - 20:43 WIB

Mengulas Hukum Membuat Akun Palsu untuk Komentar di Media Sosial Menurut Islam

Rabu, 9 September 2026 - 20:39 WIB

Hukum Mengirim Karangan Bunga Duka Cita dalam Islam

Berita Terbaru

Ngaji Ilmu Balagah.(ilustrasi poto: istimewa).

Al-Qur'an

Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:27 WIB

Sikap tegas Ali bin Abi Thalib menolak korupsi.(ilustrasi poto: kemenag.go.id).

Sejarah

Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:18 WIB

Ilustrasi Imam Abu Hanifah menolak Jabatan.(poto: istimewa).

Sejarah

Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:13 WIB

Wawancara beserta awak media setelah acara pembukaan MTQ Nasional di Semarang, Sabtu (12/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

MTQ Nasional XXXI Semarang 2026 Integrasikan AI dan UMKM

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:05 WIB