Adab Santri terhadap Guru dalam Tradisi Pesantren

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 31 Mei 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Adab Santri terhadap Guru ( Poto : nuonline)

Adab Santri terhadap Guru ( Poto : nuonline)

Jakarta, dorlanhikmah.com  – Pesantren menanamkan adab santri terhadap guru sebagai fondasi utama pembentukan karakter dan keberkahan ilmu dalam pendidikan Islam yang menekankan akhlak, disiplin, dan penghormatan kepada ulama.

Tradisi ini tidak hanya membentuk kedisiplinan belajar, tetapi juga menegaskan bahwa ilmu akan tumbuh melalui sikap hormat, rendah hati, dan ketaatan terhadap guru.

Pesantren dan Pembentukan Karakter Santri

Pesantren membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan akhlak.

Lembaga ini mengajarkan santri untuk memahami fikih, tafsir, dan berbagai cabang ilmu Islam sekaligus membiasakan mereka hidup dalam nilai kesederhanaan dan kedisiplinan.

Dalam proses tersebut, pesantren menempatkan adab sebagai fondasi utama. Santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga menjalani kehidupan sehari-hari yang penuh dengan nilai penghormatan, tanggung jawab, dan kebersamaan.

Makna Adab dalam Hubungan Santri dan Guru

Pesantren menekankan pentingnya penghormatan kepada guru sebagai bagian dari proses menuntut ilmu. Santri menghormati kyai dan ustaz dengan penuh kesadaran, bukan karena paksaan, tetapi karena keyakinan bahwa ilmu datang bersama keberkahan.

Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual. Karena itu, santri menjaga sikap, tutur kata, dan perilaku mereka di hadapan guru sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu yang mereka pelajari.

Sebagian pihak di luar lingkungan pesantren kadang salah memahami praktik ini. Mereka menganggap penghormatan santri terlalu berlebihan. Namun, pesantren menegaskan bahwa penghormatan tersebut tidak ditujukan kepada manusia secara berlebihan, melainkan kepada ilmu yang dibawa oleh guru.

Pandangan Ulama tentang Adab dan Ilmu

Para ulama klasik menempatkan adab sebagai kunci utama dalam memperoleh ilmu. Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim menegaskan bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan mendapatkan manfaat ilmu tanpa menghormati guru dan ilmu itu sendiri.

Baca Juga :  Tanda Hati Jauh dari Allah SWT dan Bahayanya bagi Muslim

Ia menulis dalam kitabnya:

اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لاَ يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ. قِيْلَ مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ

Artinya, seorang penuntut ilmu tidak akan mendapatkan ilmu dan manfaatnya kecuali dengan memuliakan ilmu, ahli ilmu, serta menghormati dan mengagungkan guru. Keberhasilan seseorang selalu terkait dengan penghormatan, sedangkan kegagalan muncul karena hilangnya adab.

Pandangan ini memperkuat posisi adab sebagai fondasi pendidikan dalam Islam, terutama dalam tradisi pesantren.

Adab Lebih Utama dari Ilmu yang Banyak

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menguatkan pentingnya adab dengan mengutip perkataan Imam Abdullah bin Mubarak:

نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ

Artinya, manusia lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.

Ungkapan ini menjadi prinsip utama dalam pendidikan pesantren. Santri tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral. Mereka belajar menahan diri, menjaga ucapan, serta menumbuhkan rasa hormat kepada guru dalam setiap proses belajar.

Al-Qur’an dan Nilai Penghormatan Ilmu

Al-Qur’an memberikan gambaran tentang pentingnya penghormatan dan kerendahan hati dalam proses belajar. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 34:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ ۗ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan. Iblis menolak karena kesombongannya, sehingga ia menjadi golongan yang ingkar.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa sujud tersebut merupakan bentuk penghormatan dengan membungkukkan badan, bukan sujud ibadah.

Baca Juga :  Ustadz Abdul Somad Ingatkan Bahaya Narkoba dan Judi Online di Tanjabbar, Tekankan Peran Orang Tua

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan:

وَ) اذْكُرْ (إِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اُسْجُدُوا لِآدَم) سُجُود تَحِيَّةٍ بِالْاِنْحِنَاء لَهُ

Artinya, Allah memerintahkan malaikat untuk memberikan penghormatan kepada Adam dengan membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan.

Teladan Malaikat dan Makna Ketundukan

Syekh Najmuddin Al-Ghazi mengutip penjelasan Imam Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan An-Naqash yang menafsirkan bahwa malaikat pertama yang melaksanakan perintah sujud kepada Nabi Adam adalah malaikat Israfil. Karena ketaatannya, Allah menganugerahkan ilmu Lauhul Mahfuzh kepadanya.

Ia menulis:

وَذَكَرَ النَقَّاش فِي تَفْسِيْرِ هَذِهِ الآيَةِ: أَنَّ الملَائِكَة لَمَّا أُمِرُوا بِالسُّجُوْدِ كَانَ أَوَّلُهُمْ سُجُودًا إِسْرَافِيْلُ عليه السلام فَلِذَلِكَ مَنَحَهُ اللهُ تعالى عِلْمَ اللَّوْحِ المحْفُوْظِ

Artinya, ketika para malaikat diperintahkan sujud, malaikat Israfil menjadi yang pertama melaksanakannya. Karena itu Allah memberinya ilmu Lauhul Mahfuzh.

Al-Ghazi kemudian menjelaskan bahwa pelajaran dari kisah ini menunjukkan bahwa murid yang paling cepat dan tulus dalam melayani guru akan mendapatkan derajat ilmu yang lebih tinggi.

Ia menambahkan:

قُلْتُ: وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ مَنْ كَانَ مِنَ التَّلَامِذَةِ أَوِ المُرِيدِينَ أَسْرَعُ إِلَى خِدْمَةِ الأُسْتَاذِ وَالشَّيْخِ وَأَطْيَبُ نَفْسًا بِهَا، كَانَ أَرْقَى فِي وَرَاثَةِ عِلْمِ الأُسْتَاذِ وَأَقْرَبُ

Artinya, murid yang cepat dan tulus dalam melayani guru akan lebih dekat dalam mewarisi ilmu dan keberkahan dari gurunya.

Di era modern, sebagian orang menilai tradisi penghormatan di pesantren tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, pesantren tetap mempertahankan nilai ini karena melihat adab sebagai fondasi karakter, bukan sekadar budaya lama.

Pesantren menekankan bahwa kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tidak boleh menghilangkan etika dalam belajar. Justru, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar kebutuhan terhadap kerendahan hati.(ust)

Berita Terkait

Panduan Lengkap Cabang Ilmu Balaghah: Pengertian Bayan, Ma’ani, dan Badi’
Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah
Peran Al-Qur’an dan Sains Medis dalam Mencetak Dokter Masa Depan di PTKIN
Panduan Mad 6 Harakat Lengkap Contoh Bacaan Tajwid
Kemerdekaan Tanpa Diskriminasi Menurut Al-Hujurat Ayat 13
Kemuliaan Sejati Menurut Islam Bukan Ditentukan Jabatan
Panduan Alquran Menghadapi Tekanan Hidup dan Ujian Modern
Rezeki Tidak Akan Tertukar: Memahami Jaminan Allah dalam Alquran
Berita ini 19 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 09:33 WIB

Panduan Lengkap Cabang Ilmu Balaghah: Pengertian Bayan, Ma’ani, dan Badi’

Minggu, 13 September 2026 - 09:27 WIB

Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah

Sabtu, 12 September 2026 - 19:26 WIB

Peran Al-Qur’an dan Sains Medis dalam Mencetak Dokter Masa Depan di PTKIN

Jumat, 4 September 2026 - 20:55 WIB

Panduan Mad 6 Harakat Lengkap Contoh Bacaan Tajwid

Jumat, 4 September 2026 - 20:45 WIB

Kemerdekaan Tanpa Diskriminasi Menurut Al-Hujurat Ayat 13

Berita Terbaru

Ngaji Ilmu Balagah.(ilustrasi poto: istimewa).

Al-Qur'an

Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:27 WIB

Sikap tegas Ali bin Abi Thalib menolak korupsi.(ilustrasi poto: kemenag.go.id).

Sejarah

Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:18 WIB

Ilustrasi Imam Abu Hanifah menolak Jabatan.(poto: istimewa).

Sejarah

Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:13 WIB

Wawancara beserta awak media setelah acara pembukaan MTQ Nasional di Semarang, Sabtu (12/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

MTQ Nasional XXXI Semarang 2026 Integrasikan AI dan UMKM

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:05 WIB