Jakarta, dorlanhikmah.com – Keutamaan Nabi dan Rasul merupakan bagian dari akidah yang dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an dan hadis. Islam mengajarkan bahwa Allah Ta’ala memberikan kedudukan yang berbeda kepada para Nabi dan Rasul sesuai hikmah dan kehendak-Nya.
Namun, keyakinan tersebut tidak boleh melahirkan sikap merendahkan atau mencela Nabi yang lain karena seluruh Nabi adalah manusia pilihan yang menerima wahyu dari Allah.
Pembahasan tentang tingkatan para Nabi sering menimbulkan pertanyaan karena terdapat ayat yang menunjukkan adanya perbedaan keutamaan, sementara pada saat yang sama terdapat hadis yang melarang membanding-bandingkan para Nabi.
Para ulama kemudian menjelaskan bagaimana memahami seluruh dalil tersebut secara utuh agar tidak muncul pemahaman yang keliru.
Dalil Al-Qur’an Tentang Tingkatan Keutamaan Para Nabi
Al-Qur’an menjelaskan secara jelas bahwa Allah memberikan keutamaan kepada sebagian Nabi dan Rasul di atas yang lain.
Allah Ta’ala berfirman:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain” (QS. Al-Baqarah [2]: 253).
Ayat ini menunjukkan bahwa para Rasul memiliki kedudukan yang tidak sama. Ada yang Allah berikan keistimewaan tertentu berupa mukjizat, pengikut yang lebih banyak, ujian yang lebih berat, ataupun syariat yang lebih luas.
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً
“Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain). Dan Kami berikan Zabur kepada Daud” (QS. Al-Isra’ [17]: 55).
Ayat ini kembali menegaskan bahwa keutamaan tersebut merupakan ketetapan Allah. Tidak ada seorang pun yang menentukan tingkatan para Nabi berdasarkan pendapat pribadi.
Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan ini termasuk bagian dari iman kepada para Rasul sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.
Penjelasan Ulama Tentang Tingkatan Para Rasul
Para ulama telah menjelaskan adanya tingkatan di antara para Nabi dan Rasul berdasarkan nash yang sahih.
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:
“Tidak ada perbedaan pendapat bahwa Rasul itu lebih utama daripada para Nabi. Dan di antara para Rasul, yang lebih utama adalah Rasul ulul ‘azmi.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 5: 87)
Penjelasan ini menunjukkan adanya tingkatan yang jelas.
Secara umum, para ulama menerangkan bahwa:
- Rasul lebih utama daripada Nabi.
- Rasul ulul ‘azmi lebih utama dibanding Rasul lainnya.
- Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan Nabi dan Rasul yang paling utama.
Perbedaan keutamaan ini tidak mengurangi kemuliaan para Nabi yang lain. Seluruh Nabi tetap merupakan manusia pilihan yang membawa petunjuk kepada umat masing-masing.
Hadis yang Melarang Membandingkan Para Nabi
Di sisi lain, terdapat hadis-hadis yang secara lahiriah tampak melarang melebihkan sebagian Nabi atas Nabi lainnya.
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy Radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama para sahabat. Kemudian seorang Yahudi datang dan mengadu karena dipukul oleh seorang dari kalangan Anshar.
Peristiwa itu bermula ketika orang Yahudi tersebut bersumpah:
“Demi Dzat yang telah memilih Musa untuk seluruh manusia.”
Ucapan tersebut memicu emosi seorang sahabat sehingga terjadi perselisihan.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُخَيِّرُوا بَيْنَ الأَنْبِيَاءِ، فَإِنَّ النَّاسَ يَصْعَقُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ، فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ العَرْشِ، فَلاَ أَدْرِي أَكَانَ فِيمَنْ صَعِقَ، أَمْ حُوسِبَ بِصَعْقَةِ الأُولَى
“Janganlah kalian banding-bandingkan (lebihkan) sesama para Nabi. Karena nanti saat seluruh manusia dimatikan pada hari kiamat, akulah orang yang pertama kali dibangkitkan dari bumi. Namun saat itu di hadapanku telah ada Musa yang sedang berpegangan pada salah satu tiang ‘Arsy. Dan aku tidak tahu apakah dia termasuk orang yang dibangkitkan lebih dahulu atau diselamatkan karena kegoncangan pertama.”
(HR. Bukhari no. 2412)
Dalam riwayat lain disebutkan:
لاَ تُخَيِّرُوا بَيْنَ الأَنْبِيَاءِ
“Janganlah kalian banding-bandingkan sesama para Nabi.”
(HR. Muslim no. 2374)
Terdapat pula hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma:
لَا يَنْبَغِي لِعَبْدٍ أَنْ يَقُولَ أَنَا خَيْرٌ مِنْ يُونُسَ بْنِ مَتَّى
“Tidak sepatutnya seorang hamba berkata, aku lebih baik dari Yunus bin Matta.”
(HR. Bukhari no. 3395)
Hadis-hadis ini perlu dipahami bersama dengan ayat-ayat Al-Qur’an agar tidak muncul kesan adanya pertentangan.
Cara Ulama Mengkompromikan Dalil-Dalil Tersebut
Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada pertentangan antara ayat dan hadis di atas.
Penjelasan pertama menyebutkan bahwa larangan melebihkan sebagian Nabi atas yang lain berlaku ketika perbandingan tersebut menimbulkan pelecehan terhadap Nabi lain.
Seseorang tidak boleh mengatakan seorang Nabi mulia sementara Nabi lain direndahkan. Sikap seperti itu bertentangan dengan adab kepada para Rasul.
Penjelasan kedua menyebutkan bahwa larangan tersebut berasal dari ketawadhu’an Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Meski beliau adalah Nabi yang paling utama, beliau tetap mengajarkan umat agar menjaga adab dalam berbicara tentang para Nabi.
Karena itu, seorang muslim boleh meyakini adanya tingkatan keutamaan berdasarkan dalil, tetapi tidak boleh menjadikannya sebagai bahan perdebatan yang berujung merendahkan Nabi lain.
Siapa Nabi dan Rasul yang Paling Utama?
Ahlus Sunnah meyakini bahwa Nabi yang paling utama adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah itu, para Rasul ulul ‘azmi menempati kedudukan tertinggi di antara para Rasul lainnya.
Dalil tentang para Rasul ulul ‘azmi terdapat dalam firman Allah:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. Dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh” (QS. Al-Ahzab [33]: 7).
Allah juga berfirman:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa” (QS. Asy-Syuura [42]: 13).
Para ulama menyimpulkan bahwa Rasul ulul ‘azmi terdiri dari:
- Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
- Nabi Nuh ‘Alaihissalam
- Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
- Nabi Musa ‘Alaihissalam
- Nabi Isa ‘Alaihissalam
Mereka memperoleh kedudukan khusus karena besarnya amanah dakwah dan keteguhan menghadapi ujian.
Hikmah Memahami Keutamaan Para Nabi
Memahami tingkatan para Nabi bukan sekadar pembahasan teori akidah.
Pembahasan ini mengajarkan bahwa Allah memilih hamba-hamba terbaik untuk membawa risalah-Nya. Selain itu, seorang muslim juga belajar menjaga adab ketika membicarakan para Nabi.
Keutamaan yang Allah berikan tidak boleh menjadi alasan untuk meremehkan Nabi lain. Sebaliknya, hal itu harus memperkuat rasa hormat kepada seluruh Rasul.
Setiap Nabi membawa tauhid, mengajak manusia beribadah kepada Allah, dan menjadi teladan dalam kesabaran, keikhlasan, serta pengorbanan.(ust)







Komentar