Jakarta, dorlanhikmah.com – Perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sejak masa kecil diwarnai berbagai kisah penuh hikmah. Beliau mengawali perjalanan dagang ke Syam saat masih berusia belasan tahun bersama sang paman.
Sebelum meninggal dunia, sang kakek Abdul Muthalib mengamanatkan pengasuhan cucunya kepada Abu Thalib. Paman beliau kemudian memberikan kasih sayang dan merawat Rasulullah SAW layaknya anak kandung sendiri.
Memasuki usia 12 tahun, beliau mulai menyertai pamannya berniaga menuju daerah Bushra. Momen perjalanan tersebut menjadi awal mula tersingkapnya tanda-tanda kenabian pada diri beliau.
Pertemuan dengan Pendeta Buhaira dan Tanda Kenabian
Ketika rombongan tiba di wilayah Bushra, mereka bertemu seorang rahib bernama Pendeta Buhaira. Tokoh agama yang biasanya acuh ini mendadak keluar menyambut kedatangan para pedagang Makkah.
Pendeta Buhaira langsung mengundang seluruh anggota rombongan untuk menghadiri acara jamuan makan. Ia rupanya telah menyaksikan berbagai tanda keagungan sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Saat menggandeng tangan Muhammad kecil, pendeta tersebut tanpa ragu menyerukan pengakuan atas status kenabian beliau. Pernyataan mengejutkan ini seketika memicu rasa penasaran Abu Thalib mengenai dasar penilaian tersebut.
Mukjizat Awan Memayungi dan Isyarat Penguasa Romawi
Pendeta Buhaira menjelaskan bahwa pepohonan dan bebatuan di sekitar Aqabah merunduk memberi penghormatan. Fenomena alam yang amat langka ini tidak pernah terjadi kecuali kepada seorang nabi.
Ia juga mengenali stempel kenabian berbentuk mirip buah apel di antara kedua tulang belikat beliau. Tak hanya itu, gumpalan awan tebal terus bergerak memayungi Nabi Muhammad SAW dari sengatan panas.
Bahkan saat beliau duduk di bawah pepohonan, bayangan dedaunan secara ajaib bergeser mengikutinya. Menyaksikan sederet bukti kuat tersebut, Pendeta Buhaira segera memperingatkan Abu Thalib agar selalu waspada.
Ia mendesak sang paman untuk segera membawa keponakannya pulang ke Makkah demi keamanan jiwa. Pendeta tersebut khawatir penguasa Romawi akan mencelakai beliau jika mengenali tanda-tanda kebesaran itu.
Misi Niaga Kedua Membawa Dagangan Khadijah
Bertahun-tahun berselang, Nabi Muhammad SAW kembali melakukan ekspedisi perniagaan menuju kawasan Syam pada usia 25 tahun. Kali ini beliau mengelola modal serta barang dagangan milik wanita terpandang Makkah, Khadijah.
Khadijah sengaja meminang jasa beliau setelah mendengar reputasi kejujuran serta keluhuran akhlak yang terpuji. Wanita kaya tersebut menjanjikan imbalan jauh lebih besar ketimbang yang biasa ia berikan kepada pedagang lain.
Rasulullah SAW akhirnya berangkat menjalankan misi dagang tersebut bersama seorang pembantu kepercayaan bernama Maisarah. Ekspedisi perniagaan kedua ini meraih keberhasilan besar sekaligus menegaskan integritas serta keagungan watak beliau.(ust)










Komentar