Jakarta, dorlanhikmah.com – Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon tanpa buah. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya ilmu dan amal menjadi kunci utama bagi seorang muslim untuk meraih kesuksesan dunia dan keselamatan di akhirat.
Selain itu, keinginan meraih surga menuntut seseorang untuk senantiasa memperbanyak amal shalih. Bahkan, Allah SWT menegaskan perintah bekerja dan beramal melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'” (QS. At-Taubah: 105).
Selanjutnya, landasan ini semakin kuat dengan janji tempat tinggal indah di surga Firdaus bagi hamba beriman. Sebab, Allah SWT menyampaikan janji-Nya dalam ayat lain:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
“Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107).
Meneladani Petunjuk Rasulullah dalam Beramal
Suatu hari, seorang sahabat mempertanyakan relevansi usaha jika Allah telah menetapkan ketentuan surga dan neraka. Namun, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban tegas untuk meluruskan pemahaman tersebut:
اعْمَلُوا ، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
“Berbuatlah, masing-masing akan dimudahkan kemana akan menuju.” (HR. Bukhari).
Oleh sebab itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa khusus agar umatnya terhindar dari ilmu yang tidak memberi manfaat. Akibatnya, beliau menganjurkan lafaz doa perlindungan berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
“Ya Allah … aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud, At-Turmudzi, dan An-Nasaie).
Menyempurnakan Iman Melalui Rincian Amal
Sementara itu, ulama terkemuka Al-Khatib Al-Baghdadi menegaskan hubungan ini melalui bukunya yang berjudul اقتضاء العلم العمل (Iqtidha’ al-‘Ilm al-‘Amal). Penulis menjelaskan bahwa ilmu dan amal merupakan satu paket utuh sebagai jalan yang lurus (ash-shiratul mustaqim).
Di samping itu, Imam Ibnu Hibban merinci cabang iman menjadi 69 atau 79 bagian sebagaimana kutipan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari. Rincian tersebut memuat 24 amalan hati, 7 amalan lisan, serta 38 amalan anggota badan.
Kemudian, Imam Al-Ghazali memprioritaskan sepuluh amalan hati sebagai jalan keselamatan. Hal tersebut meliputi penyesalan atas dosa, kesabaran atas ujian, keridhaan pada takdir, rasa syukur atas nikmat, keseimbangan rasa takut dan harap, sikap zuhud, keikhlasan, akhlak mulia, rasa cinta kepada Allah, serta kekhusyukan dalam beribadah.
Mewaspadai Penghalang Amal dan Kehidupan Baik
Sebaliknya, terdapat sepuluh penyakit hati yang menjadi penghalang amal sekaligus pemicu kehancuran. Sifat buruk ini meliputi sikap bakhil, kesombongan, rasa ujub, perilaku riya’, kedengkian, emosi tak terkendali, ketamakan makanan, seks tak terkendali, kecintaan pada harta, serta kerakusan kekuasaan.
Maka dari itu, setiap muslim perlu membebaskan diri dari rintangan tersebut demi meraih kehidupan yang tenteram. Bahkan, Allah SWT memberikan janji kehidupan yang baik melalui firman-Nya:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Akhirnya, bekal amal shalih ini menjadi kunci pemungkas untuk menggapai kebahagiaan sejati di dunia hingga akhirat.(ust)










Komentar