Jakarta, dorlanhikmah.com – Kisah sahabat menegur penguasa menjadi salah satu teladan penting dalam sejarah Islam. Melalui peristiwa ini, Islam mengajarkan bahwa setiap pemimpin wajib menjaga amanah, sementara ulama dan orang saleh harus berani mengingatkan ketika penguasa menyimpang dari nilai-nilai agama.
Sejarah berkali-kali memperlihatkan bahwa kekuasaan dapat berubah menjadi alat penindasan apabila pemimpin mengabaikan nurani. Karena itu, Rasulullah SAW menegaskan pentingnya kepemimpinan yang penuh kasih sayang, bukan kekerasan.
‘Ubaidullah bin Ziyad Memegang Kekuasaan Besar
Sejarah Islam mencatat ‘Ubaidullah bin Ziyad sebagai salah satu pejabat penting pada masa Dinasti Umayyah. Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengangkatnya sebagai gubernur Basrah pada tahun 55 Hijriah, sebagaimana dicatat Syamsuddin adz-Dzahabi.
Ketika Yazid bin Mu’awiyah menjadi khalifah, ia mempercayakan pemerintahan Kufah kepada Ibnu Ziyad. Sebelumnya, Ibnu Ziyad juga memimpin Khurasan dan menjalankan ekspedisi militer hingga menyeberangi sungai menuju Bukhara.
Adz-Dzahabi menggambarkan Ibnu Ziyad sebagai sosok yang memiliki paras rupawan, pengaruh politik kuat, dan kekayaan melimpah.
Abu Wa’il pernah mengunjungi Ibnu Ziyad di Basrah. Saat itu, ia melihat tumpukan uang perak sebanyak tiga juta yang berasal dari pajak Isfahan.
Ibnu Ziyad lalu bertanya mengenai orang yang meninggalkan harta sebanyak itu. Abu Wa’il menjawab,
“Bagaimana jika harta itu termasuk ghulul?”
Ibnu Ziyad pun merespons,
“Itu kejahatan di atas kejahatan.”
Syamsuddin adz-Dzahabi memuat kisah tersebut dalam Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam.
Hasan al-Bashri Mengkritik Kepemimpinannya
Di balik kekuasaan dan kekayaannya, Ibnu Ziyad menerima kritik keras dari para ulama. Adz-Dzahabi meriwayatkan penilaian Hasan al-Bashri yang menyebutnya sebagai pemimpin muda yang bodoh dan gemar menumpahkan darah.
Kritik tersebut menggambarkan bagaimana sebagian ulama memandang gaya kepemimpinan Ibnu Ziyad pada masa itu.
‘Aidz bin ‘Amr Menyampaikan Nasihat Rasulullah SAW
Salah seorang sahabat Rasulullah SAW, ‘Aidz bin ‘Amr, kemudian menemui Ibnu Ziyad. Dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim, ia langsung mengingatkan gubernur tersebut dengan sabda Rasulullah SAW.
أَيْ بُنَيَّ، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ
Artinya, “Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya seburuk-buruk penggembala atau pemimpin adalah al-huthamah (pemimpin yang keras, kasar, dan merusak rakyatnya). Maka berhati-hatilah, jangan sampai engkau termasuk golongan mereka.'”
Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits tersebut dengan redaksi yang hampir sama.
Ibnu Ziyad Merendahkan Sang Sahabat
Alih-alih menerima nasihat, Ibnu Ziyad justru merendahkan ‘Aidz bin ‘Amr. Ia mengatakan bahwa sahabat Nabi tersebut hanya termasuk nukhalah, yaitu golongan rendah di antara para sahabat.
‘Aidz bin ‘Amr segera menjawab dengan tegas.
“Apakah pada diri mereka ada nukhalah? Sesungguhnya orang-orang rendahan itu baru ada setelah era sahabat Nabi.”
Melalui jawaban itu, ‘Aidz tidak hanya membela dirinya. Ia juga menjaga kehormatan seluruh sahabat Rasulullah SAW yang menjadi generasi terbaik umat Islam.
Imam an-Nawawi Menjelaskan Makna Nukhalah
Imam an-Nawawi memaknai istilah an-Nukhalah sebagai ampas atau sisa dedak. Menurut beliau, Ibnu Ziyad menggunakan istilah tersebut untuk merendahkan kedudukan ‘Aidz bin ‘Amr.
Beliau menjelaskan:
قوله: إِنَّمَا أَنْتَ مِنْ نُخَالَتِهِمْ، يَعْنِي لَسْتَ مِنْ فُضَلَائِهِمْ وَعُلَمَائِهِمْ وَأَهْلِ الْمَرَاتِبِ مِنْهُمْ، بَلْ مِنْ سَقَطِهِمْ… وَهَلْ كَانَتْ لَهُمْ نُخَالَةٌ؟ إِنَّمَا كَانَتِ النُّخَالَةُ بَعْدَهُمْ وَفِي غَيْرِهِمْ، هَذَا مِنْ جَزْلِ الْكَلَامِ وَفَصِيحِهِ وَصِدْقِهِ الَّذِي يَنْقَادُ لَهُ كُلُّ مُسْلِمٍ، فَإِنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كُلَّهُمْ هُمْ صَفْوَةُ النَّاسِ وَسَادَاتُ الْأُمَّةِ
Artinya, “Maksud ucapan Ibnu Ziyad, ‘Engkau hanyalah ampasnya generasi sahabat,’ adalah: engkau bukan termasuk orang-orang utama, ulama, dan orang-orang berkedudukan di generasi sahabat, tetapi termasuk golongan rendah dari mereka. Kemudian jawaban ‘Aidz, ‘Apakah generasi sahabat memiliki orang-orang yang dianggap ampas? Sesungguhnya orang-orang ampas dan rendahan justru muncul setelah generasi sahabat,’ merupakan ucapan yang kuat, fasih, dan benar yang diterima setiap Muslim. Sebab para sahabat seluruhnya adalah manusia pilihan dan pemuka umat.”
Rasulullah SAW Mengingatkan Pemimpin yang Keras
Imam an-Nawawi juga menerangkan makna hadits tentang al-huthamah melalui penjelasan berikut.
قوله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ شَرَّ الرِّعَاءِ الْحُطَمَةُ، قَالُوا: هُوَ الْعَنِيفُ فِي رَعِيَّتِهِ، لَا يَرْفُقُ بِهَا فِي سَوْقِهَا وَمَرْعَاهَا، بَلْ يَحْطِمُهَا فِي ذَلِكَ وَفِي سَقْيِهَا وَغَيْرِهِ، وَيَزْحَمُ بَعْضَهَا بِبَعْضٍ بِحَيْثُ يُؤْذِيهَا وَيَحْطِمُهَا
Artinya, “Maksud sabda Nabi SAW adalah peringatan terhadap pemimpin yang kasar dan tidak memiliki kasih sayang kepada rakyatnya. Para ulama menjelaskan bahwa al-huthamah adalah sosok yang memperlakukan orang-orang di bawah tanggung jawabnya dengan keras, tidak lembut, dan tidak peduli apakah tindakannya menyakiti mereka atau tidak. Perumpamaan ini diambil dari seorang penggembala yang buruk. Ia tidak menggiring hewan gembalaannya dengan hati-hati, tidak memperhatikan yang lemah, dan tidak menjaga mereka saat berjalan, makan, atau minum. Akibatnya, sebagian hewan saling berdesakan, terinjak, terluka, bahkan rusak. Begitulah pemimpin yang buruk: bukan menjaga rakyatnya, tetapi justru menekan, menyakiti, dan merusak kehidupan mereka.”
Kepemimpinan Merupakan Amanah
Kisah ‘Aidz bin ‘Amr menunjukkan bahwa tradisi menasihati penguasa telah hidup sejak masa sahabat Nabi SAW. Para sahabat menyampaikan kritik sebagai bentuk tanggung jawab moral, bukan karena kepentingan pribadi.
Hadits Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa rakyat merupakan amanah yang harus dijaga. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kekuasaan dan kewibawaan, tetapi juga harus menghadirkan keadilan, membuka ruang bagi nasihat, serta memperlakukan masyarakat dengan kasih sayang.
Pesan tersebut tetap relevan hingga sekarang. Pemimpin negara, pejabat, hakim, guru, orang tua, maupun pengelola lembaga sama-sama memikul amanah untuk melindungi orang yang berada di bawah tanggung jawab mereka, bukan menekan atau menyakiti mereka.(ust)









Komentar