Waspada Ulama Su’ di Balik Kasus Pelecehan Seksual

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 23 Mei 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kasus pelecehan seksual oleh tokoh agama harus menjadi alarm keras bagi masyarakat.( ilustrasi Poto : Majelis Masyayikh ).

Kasus pelecehan seksual oleh tokoh agama harus menjadi alarm keras bagi masyarakat.( ilustrasi Poto : Majelis Masyayikh ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Kasus ulama su pelecehan seksual kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah tokoh agama terseret dugaan kekerasan seksual terhadap murid dan santri. Peristiwa seperti ini memunculkan luka mendalam karena pelaku sering tampil sebagai sosok alim, santun, dan dekat dengan ajaran agama.

Banyak masyarakat sulit percaya ketika seorang guru agama atau pemuka pesantren justru menjadi pelaku pelecehan. Namun fakta menunjukkan, sebagian predator memang memakai citra religius untuk mendapatkan kepercayaan dan mengendalikan korban.

Fenomena ini sebenarnya sudah lama mendapat peringatan dalam khazanah Islam klasik. Para ulama terdahulu menyebut orang yang memanfaatkan agama demi kepentingan pribadi sebagai Ulama Sū’, yaitu orang berilmu yang buruk akhlaknya dan menyalahgunakan ilmu demi dunia.

Ulama Su’ dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihyā ‘Ulūmiddīn menjelaskan karakter ulama yang rusak moralnya. Mereka menjadikan ilmu agama bukan untuk mencari ridha Allah, melainkan demi popularitas dan kekuasaan.

Beliau menulis:

فَأَمَّا عُلَمَاءُ السُّوْءِ فَقَصْدُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ التَّنَعُّمُ بِالدُّنْيَا، وَالتَّوَصُّلُ إِلَى الْجَاهِ وَالْمَنْزِلَةِ عِنْدَ أَهْلِهَا

“Adapun ulama sū’ (ulama buruk), tujuan mereka mencari ilmu hanya untuk kesenangan dunia serta mengejar kedudukan di mata manusia.”
(Ihyā ‘Ulūmiddīn, I/59)

Kutipan ini terasa relevan dengan berbagai kasus kekerasan seksual di lingkungan keagamaan. Pelaku sering memanfaatkan statusnya sebagai guru atau ustaz agar korban tunduk dan takut melawan.

Mereka membangun citra lembut di depan publik, tetapi melakukan tindakan keji di ruang tertutup. Tidak sedikit korban akhirnya memilih diam karena takut disalahkan atau tidak dipercaya.

Relasi Kuasa Jadi Senjata Pelaku

Dalam banyak kasus, pelaku tidak memakai kekerasan fisik secara langsung. Mereka justru menggunakan relasi kuasa untuk mengendalikan korban.

Pelaku biasanya memanfaatkan doktrin “taat kepada guru”, ancaman dosa, hingga manipulasi agama. Korban dibuat merasa bersalah jika menolak atau melaporkan perbuatan tersebut.

Kondisi ini membuat korban kehilangan keberanian. Apalagi pelaku sering memiliki pengaruh besar di lingkungan pendidikan atau masyarakat.

Situasi seperti ini sangat berbahaya karena korban berada dalam posisi lemah. Sementara pelaku memiliki akses, kekuasaan, dan dukungan sosial yang kuat.

Hadis tentang Serigala Berbulu Domba

Rasulullah SAW pernah mengingatkan tentang munculnya orang yang memakai agama untuk mengejar kepentingan dunia.

Beliau bersabda:

يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتِلُونَ الدُّنْيَا بِالدِّينِ، يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ جُلُودَ الضَّأْنِ مِنَ اللِّينِ، أَلْسِنَتُهُمْ أَحْلَى مِنَ السُّكَّرِ، وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ

“Akan muncul pada akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Mereka memakai pakaian bulu domba untuk menunjukkan kelembutan. Lidah mereka lebih manis dari gula, tetapi hati mereka seperti serigala.”
(HR Tirmidzi)

Sebagian ulama memang menilai hadis ini lemah. Meski begitu, maknanya tetap bisa menjadi pengingat agar umat tidak mudah tertipu penampilan luar.

Baca Juga :  Dakwah Tauhid dalam Islam: Inti Perjuangan Para Nabi

Banyak pelaku kekerasan seksual justru tampil sangat santun dan religius. Mereka pandai berbicara, aktif berdakwah, dan terlihat penuh kelembutan di depan jamaah.

Namun di balik citra itu, mereka menyimpan perilaku yang bertolak belakang dengan ajaran agama.

Jangan Ukur Kesalehan dari Ritual Saja

Masyarakat sering terjebak menilai seseorang hanya dari ibadah lahiriah. Ketika seorang tokoh agama tersandung kasus pelecehan, sebagian orang langsung membela tanpa melihat fakta.

Kalimat seperti “beliau rajin tahajud”, “hafal Al-Qur’an”, atau “sudah berdakwah puluhan tahun” kerap muncul untuk melindungi pelaku.

Padahal Islam tidak pernah mengajarkan umat menutup mata terhadap kezaliman.

Khalifah Umar bin Khattab pernah memberi peringatan penting tentang makna kesalehan yang sebenarnya.

Beliau berkata:

لَا تَغُرَّنَّكُمْ صَلَاةُ امْرِئٍ وَلَا صِيَامُهُ، مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ صَلَّى، وَلَكِنْ لَا دِينَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

“Jangan kalian tertipu oleh shalat dan puasa seseorang. Siapa pun bisa shalat dan puasa. Tetapi tidak ada agama bagi orang yang tidak menjaga amanah.”
(Baihaqi, Syu’abul Iman)

Pesan Umar sangat jelas. Ibadah ritual tidak akan berarti jika seseorang merusak kehormatan dan menyakiti orang lain.

Amanah Guru Sangat Besar

Seorang guru agama memegang tanggung jawab besar. Orang tua menitipkan anak mereka untuk dididik, dibimbing, dan dijaga.

Karena itu, pelanggaran yang dilakukan tokoh agama memiliki dampak jauh lebih berat dibanding kejahatan biasa.

Korban bukan hanya mengalami trauma fisik dan psikologis. Banyak korban juga kehilangan kepercayaan terhadap agama dan lingkungan pendidikan.

Sebagian korban bahkan mengalami trauma spiritual. Mereka merasa marah, kecewa, dan takut terhadap simbol-simbol agama yang sebelumnya dihormati.

Dampak seperti ini bisa berlangsung sangat lama. Tidak sedikit korban membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan diri.

Ibnu Qayyim Sebut Ulama Buruk sebagai Pembegal Jalan

Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah menggambarkan ulama buruk dengan perumpamaan yang sangat tajam.

Beliau berkata:

عُلَمَاءُ السُّوءِ جَلَسُوا عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ يَدْعُونَ إِلَيْهَا النَّاسَ بِأَقْوَالِهِمْ، وَيَدْعُونَهُمْ إِلَى النَّارِ بِأَفْعَالِهِمْ

“Ulama buruk duduk di pintu surga. Mereka mengajak manusia ke surga lewat ucapan, tetapi mengajak ke neraka lewat perbuatan.”
(Al-Fawā’id, hlm. 85)

Ibnu Qayyim menyebut mereka seperti pembegal jalan. Secara lahiriah terlihat membimbing umat, tetapi sebenarnya merusak agama dari dalam.

Fenomena ini terasa nyata dalam kasus pelecehan seksual yang melibatkan figur agama. Pelaku memakai ceramah dan simbol agama untuk membangun kepercayaan publik.

Ketika kejahatan mereka terbongkar, kepercayaan masyarakat ikut runtuh.

Ilmu yang Tidak Masuk ke Hati

Banyak orang bertanya, mengapa seseorang yang paham agama masih bisa melakukan kejahatan seksual?

Hasan Al-Bashri menjelaskan bahwa ilmu tidak selalu melahirkan akhlak. Ada ilmu yang hanya berhenti di lisan tanpa masuk ke hati.

Beliau berkata:

الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمٌ فِي الْقَلْبِ، فَذَاكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ، فَذَاكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى ابْنِ آدَمَ

“Ilmu ada dua: ilmu yang masuk ke hati dan itulah ilmu bermanfaat, serta ilmu yang hanya di lisan dan akan menjadi hujjah atas manusia.”
(Syarh al-Misykāt, II/714)

Baca Juga :  Nasihat Ibnu Al-Qayyim: Pentingnya Menjaga Lisan

Perkataan ini menunjukkan bahwa hafalan ayat dan ceramah tidak otomatis membuat seseorang memiliki moral yang baik.

Tanpa akhlak dan rasa takut kepada Allah, ilmu bisa berubah menjadi alat manipulasi.

Pentingnya Sikap Kritis dalam Beragama

Menghormati guru tetap menjadi bagian penting dalam Islam. Namun umat juga harus menjaga akal sehat dan sikap kritis.

Jangan sampai penghormatan berubah menjadi pengkultusan individu. Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan selain para nabi.

Masyarakat perlu berani melapor jika menemukan indikasi kekerasan seksual di lingkungan pendidikan agama.

Lembaga pendidikan juga harus memiliki sistem pengawasan yang jelas. Jangan biarkan posisi tokoh agama membuat hukum dan keadilan berhenti berjalan.

Korban perlu mendapat perlindungan, pendampingan psikologis, dan dukungan hukum agar berani berbicara.

Jangan Salah Menempatkan Loyalitas

Dalam banyak kasus, loyalitas buta justru memperpanjang penderitaan korban.

Sebagian orang lebih sibuk menjaga nama baik lembaga dibanding membantu korban mendapatkan keadilan.

Padahal menutupi kejahatan bukan bagian dari ajaran agama. Islam justru memerintahkan umat melindungi orang yang dizalimi.

Rasulullah SAW bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

“Tolonglah saudaramu yang zalim maupun yang dizalimi.”

Para sahabat bertanya bagaimana menolong orang zalim. Rasulullah menjawab dengan mencegahnya dari perbuatan zalim.
(HR Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa membela pelaku secara buta bukan bentuk loyalitas yang benar.

Menghentikan kejahatan justru menjadi cara terbaik untuk menolong pelaku agar tidak semakin jauh dalam dosa.

Jadikan Kasus Ini Sebagai Alarm

Kasus pelecehan seksual oleh tokoh agama harus menjadi alarm keras bagi masyarakat.

Umat perlu memahami bahwa pakaian religius tidak selalu mencerminkan akhlak seseorang. Kesalehan sejati terlihat dari amanah, kejujuran, dan cara memperlakukan manusia.

Karena itu, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menempatkan kepercayaan kepada figur publik, termasuk tokoh agama.

Kritik dan pengawasan bukan bentuk kebencian terhadap agama. Sikap itu justru bagian dari upaya menjaga marwah agama agar tidak dipakai sebagai alat menutupi kejahatan.

Penutup

Fenomena ulama su pelecehan seksual menunjukkan bahwa kejahatan bisa bersembunyi di balik simbol kesalehan. Pelaku memanfaatkan agama, jabatan, dan kepercayaan publik untuk melindungi perbuatannya.

Islam sejak lama sudah mengingatkan bahaya orang berilmu yang kehilangan amanah dan akhlak. Karena itu, umat tidak boleh mudah tertipu oleh citra religius semata.

Masyarakat perlu berdiri di pihak korban dan mendukung penegakan hukum tanpa pandang status. Menjaga kehormatan manusia jauh lebih penting daripada mempertahankan citra palsu seorang tokoh agama.(ust)

Berita Terkait

Dakwah Tauhid dalam Islam: Inti Perjuangan Para Nabi
Nasihat Ibnu Al-Qayyim: Pentingnya Menjaga Lisan
Keseimbangan Ibadah dan Akhlak dalam Islam: Antara Ritual dan Perilaku
Etika Dagang Rasulullah yang Penuh Berkah
Kesalahan dalam Ibadah Qurban yang Masih Sering Terjadi Saat Idul Adha
Flexing di Media Sosial dan Pelajaran Besar dari Kisah Qarun dalam Al-Qur’an
Al-‘Afuwwu: Allah Maha Menghapus Dosa dan Membuka Pintu Ampunan Tanpa Batas
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 17:00 WIB

Dakwah Tauhid dalam Islam: Inti Perjuangan Para Nabi

Minggu, 7 Juni 2026 - 21:00 WIB

Nasihat Ibnu Al-Qayyim: Pentingnya Menjaga Lisan

Minggu, 31 Mei 2026 - 19:00 WIB

Keseimbangan Ibadah dan Akhlak dalam Islam: Antara Ritual dan Perilaku

Senin, 25 Mei 2026 - 07:00 WIB

Etika Dagang Rasulullah yang Penuh Berkah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 07:00 WIB

Waspada Ulama Su’ di Balik Kasus Pelecehan Seksual

Berita Terbaru

Metode berpikir logis untuk membangun kesimpulan yang benar di tengah derasnya opini media sosial menurut Imam Al-gazali( ilustrasi poto : surau.co )

Sejarah

Tiga Metode Berpikir Imam Al-Ghazali di Era Media Sosial

Rabu, 10 Jun 2026 - 11:00 WIB

Asal usul Bulan Hijriyah( poto : madaninews.id )

Sejarah

Asal Usul Nama Bulan Hijriah dari Tradisi Arab Kuno

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:00 WIB

Delapan amalan yang mengundang do'a para Malaikat( poto :chatGPT ).

Al-Qur'an

8 Amalan yang Mengundang Doa Para Malaikat

Rabu, 10 Jun 2026 - 07:00 WIB

Al-Qur'an( poto : islami.co )

Al-Qur'an

Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi

Rabu, 10 Jun 2026 - 05:22 WIB