Jakarta, dorlanhikmah.com – Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama menyita perhatian Menteri Agama ke-22 Lukman Hakim Saifuddin. Beliau mengajak seluruh peserta permusyawaratan tertinggi ini untuk senantiasa menjaga marwah serta kehormatan organisasi keagamaan tersebut.
Lukman menekankan pentingnya musyawarah mufakat secara optimal untuk menetapkan jajaran kepemimpinan tertinggi PBNU. Menurut beliau, proses dan hasil forum tertinggi ini harus melahirkan keputusan strategis yang membawa kemaslahatan nyata bagi seluruh umat.
Dalam pernyataan tertulis pada Jumat, Lukman mengingatkan agar proses permusyawaratan mencerminkan martabat Ormas Islam yang telah berusia panjang. Tempat berhimpun para ulama penebar kebajikan ini idealnya terbebas dari berbagai bentuk praktik tak terpuji.
Lukman Hakim Saifuddin Minta Muktamar NU Utamakan Musyawarah
Lukman mencermati berbagai kekhawatiran yang berkembang luas di tengah masyarakat menjelang pelaksanaan forum akbar tersebut. Ia secara terbuka menyoroti potensi kemunculan intimidasi kekuasaan hingga intervensi dari kaum pemodal yang dapat merusak independensi organisasi.
Potensi maraknya praktik transaksi jual-beli suara juga menjadi ancaman amat serius bagi seluruh elemen Nahdlatul Ulama. Seluruh pihak perlu mengambil langkah pencegahan sejak dini agar dinamika tersebut tidak mencederai marwah forum tertinggi tempat berhimpun para ulama.
Mantan Menteri Agama ini mendorong pengembalian mekanisme penetapan Rais Aam Syuriyah dan Ketua Umum PBNU pada hakikat musyawarah. Ia mengimbau para utusan mengoptimalkan jalan mufakat sebagai tradisi luhur dalam menetapkan jajaran pimpinan PBNU.
Lukman meminta peserta menghindari mekanisme pemungutan suara apabila proses musyawarah masih memungkinkan untuk mencapai kata mufakat. Beliau secara tegas menekankan agar para muktamirin berfokus menetapkan pimpinan, bukan sekadar memilih melalui mekanisme voting.
Sistem Pemungutan Suara Berpotensi Suburkan Praktik Politik Uang
Mekanisme pemungutan suara dalam menetapkan pimpinan berpotensi besar membuka celah lebar bagi masuknya praktik politik uang. Kondisi demikian dapat membuka pintu bagi pihak luar untuk mengintervensi arah kebijakan serta independensi organisasi.
Selama sistem pemilihan pimpinan masih memakai tata cara pemungutan suara, peserta akan sulit membendung praktik lancung jual-beli suara. Kekuatan pemodal maupun intervensi kekuasaan luar kerap memanfaatkan celah ini untuk memengaruhi hasil akhir keputusan.
Pengikisan sikap independensi pada organisasi keagamaan seperti NU berisiko tinggi menggerus marwah, keagungan, serta keberkahan organisasi. Jam’iyyah ini berpotensi kehilangan izzah sebagai rujukan moral dan spiritual utama bagi seluruh umat Islam di Indonesia.
Muktamirin Perlu Meneladani Spirit Para Pendiri Nahdlatul Ulama
Sebagai sesama warga Nahdlatul Ulama, Lukman mengajak seluruh muktamirin penerima mandat dari daerah untuk meresapi kembali sejarah panjang perjuangan para tokoh pendiri. Para utusan yang hadir perlu meneladani nilai keikhlasan, ketulusan, serta persatuan dari para kiai pendiri.
Muktamirin harus menjadikan nilai-nilai luhur dan keistimewaan dari Tambakberas Jombang sebagai pijakan utama dalam melangkah serta memutus agenda penting forum ini. Seluruh pengabdian dan ikhtiar tulus hendaknya berorientasi penuh pada kepentingan organisasi serta kemaslahatan bersama.
Lukman mendoakan secara tulus agar seluruh peserta mampu menjiwai tekad, semangat, dan ikhtiar perjuangan kiai sepuh. Semoga Allah SWT merestui setiap niat dan amalan baik demi menjaga persatuan serta keluhuran martabat Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.(ust)










Komentar