Jakarta, dorlanhikmah.com – Adab makan Nabi menjadi salah satu ajaran Islam yang menunjukkan bahwa agama tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga membimbing manusia dalam menjaga kesehatan dan keseimbangan hidup.
Dalam Hadits ke-47 yang dibahas dalam Jami’ul Ulum wal Hikam, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar manusia tidak memenuhi perut secara berlebihan dan makan sesuai kebutuhan.
Di tengah gaya hidup modern yang identik dengan konsumsi berlebihan, pesan Rasulullah ﷺ ini tetap relevan. Islam tidak melarang menikmati makanan, tetapi mengajarkan batas agar tubuh tetap sehat dan hati tetap terjaga.
Hadits ini diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu.
عَنِ المِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيْكَرِبَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Artinya:
“Tidak ada wadah yang dipenuhi manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulangnya. Jika memang harus lebih dari itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Hadits Ini Mengajarkan Keseimbangan dalam Makan
Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan manusia meninggalkan kenikmatan makanan. Islam juga tidak mengajarkan sikap berlebihan dalam menahan lapar. Namun, Islam mengarahkan agar seseorang makan dengan tujuan menjaga kekuatan tubuh.
Kalimat “cukup beberapa suap yang menegakkan tulangnya” menunjukkan bahwa makan merupakan sarana untuk membantu manusia menjalankan aktivitas dan ibadah.
Karena itu, ukuran dalam makan bukan sekadar rasa puas, melainkan kecukupan.
Ketika seseorang perlu makan lebih banyak, Rasulullah ﷺ memberikan pedoman sederhana: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk ruang bernapas.
Hadits Ini Menjadi Dasar Pola Hidup Sehat
Para ulama menjadikan hadits ini sebagai salah satu dasar penting dalam pembahasan kesehatan dan pola hidup.
Dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, dijelaskan bahwa hadits ini termasuk petunjuk Nabi ﷺ dalam menjaga tubuh.
Seorang dokter Muslim terkenal pada masa silam, Ibnu Masawaih, pernah memberikan komentar setelah membaca hadits ini.
Beliau berkata:
لَوِ اسْتَعْمَلَ النَّاسُ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ سَلِمُوا مِنَ الْأَمْرَاضِ وَسَقَطَتِ الْمَارِسْتَانَاتُ وَدَكَاكِينُ الصَّيَادِلَةِ
“Seandainya manusia mengamalkan kalimat ini, mereka akan selamat dari berbagai penyakit dan rumah sakit serta toko obat akan menjadi sepi.”
(Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2/468)
Ucapan tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan makan berlebihan sering menjadi sebab munculnya gangguan kesehatan.
Sebagian ulama juga menyampaikan ungkapan terkenal:
أَصْلُ الدَّاءِ الْبِطْنَةُ
“Pokok dari berbagai penyakit adalah perut yang terlalu penuh.”
Ungkapan ini menekankan pentingnya mengendalikan pola makan.
Penjelasan Ibnu Rajab: Sedikit Makan Lebih Baik
Dalam syarah hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa makan secukupnya memberikan manfaat nyata bagi kesehatan.
Beliau berkata:
وَقِلَّةُ الْأَكْلِ أَنْفَعُ لِصِحَّةِ الْبَدَنِ مِنْ كَثْرَتِهِ
“Sedikit makan lebih bermanfaat bagi kesehatan tubuh daripada banyak makan.”
(Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2/468)
Penjelasan ini menunjukkan bahwa Islam tidak mendorong manusia menyiksa diri dengan lapar. Yang dianjurkan adalah menghindari kebiasaan makan tanpa kendali.
Tubuh yang tidak terbebani makanan berlebihan akan bekerja lebih baik dan lebih ringan menjalankan aktivitas.
Sedikit Makan Membantu Menjaga Hati
Ibnu Rajab juga menjelaskan bahwa manfaat menjaga pola makan tidak berhenti pada kesehatan fisik.
Beliau berkata:
وَفِي قِلَّةِ الْأَكْلِ مِنَ الْمَنَافِعِ لِلْقَلْبِ رِقَّتُهُ وَصَفَاؤُهُ، وَقُوَّةُ الْفَهْمِ، وَانْكِسَارُ النَّفْسِ وَضَعْفُ الْهَوَى وَالْغَضَبِ
“Di antara manfaat sedikit makan bagi hati adalah hati menjadi lembut dan bersih, pemahaman menjadi kuat, jiwa lebih terkendali, serta hawa nafsu dan amarah menjadi lebih lemah.”
(Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2/469)
Penjelasan ini memperlihatkan bahwa para ulama melihat hubungan erat antara tubuh dan kondisi spiritual.
Seseorang yang menjaga pola makan cenderung lebih tenang, lebih fokus, dan lebih mudah mengendalikan diri.
Sebaliknya, terlalu banyak makan sering memunculkan rasa malas dan menurunkan semangat.
Imam Syafii Menjaga Diri dari Kekenyangan
Imam Syafii rahimahullah dikenal sangat memperhatikan adab makan.
Beliau berkata:
مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً إِلَّا مَرَّةً وَاحِدَةً فَأَخْرَجْتُهَا
“Aku tidak pernah kenyang selama enam belas tahun kecuali satu kali, lalu aku berusaha mengeluarkannya.”
Kemudian beliau menjelaskan alasannya:
لِأَنَّ الشِّبَعَ يُثَقِّلُ الْبَدَنَ وَيُقَسِّي الْقَلْبَ وَيُزِيلُ الْفِطْنَةَ وَيَجْلِبُ النَّوْمَ وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةِ
“Karena kenyang membuat badan berat bergerak, mengeraskan hati, mengurangi kecerdasan, memperbanyak tidur, dan melemahkan seseorang dari ibadah.”
(Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2/474)
Perkataan Imam Syafii bukan ajakan menyiksa tubuh, tetapi bentuk latihan mengendalikan diri agar tetap produktif dan kuat dalam ibadah.
Memahami Konsep Sepertiga Perut
Sebagian orang memahami hadits ini secara sangat harfiah. Padahal para ulama menjelaskan bahwa pembagian sepertiga bukan ukuran matematis yang wajib di hitung.
Tujuan hadits adalah mengajarkan keseimbangan.
Jangan memenuhi seluruh kapasitas perut.
Berikan ruang bagi tubuh untuk bekerja dengan nyaman.
Kebutuhan setiap orang bisa berbeda sesuai aktivitas, usia, dan kondisi tubuh.
Namun prinsipnya tetap sama: berhenti sebelum terlalu kenyang.
Relevansi Hadits Ini di Masa Sekarang
Di zaman modern, makanan tersedia dengan sangat mudah. Pilihan semakin banyak dan budaya konsumsi terus berkembang.
Dalam kondisi seperti ini, hadits Rasulullah ﷺ menjadi pengingat penting.
Islam mengajarkan agar manusia tetap memiliki kontrol terhadap keinginan makan.
Makan saat membutuhkan.
Berhenti sebelum berlebihan.
Menjadikan makanan sebagai sarana menjaga amanah tubuh.
Prinsip sederhana ini dapat membantu menjaga kesehatan dan kualitas hidup dalam jangka panjang.(ust)








Komentar