Surah At-Takwir dan Gambaran Dahsyat Hari Kiamat

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi dahsyatnya hari kiamat(poto : radarkepahiang)

Ilustrasi dahsyatnya hari kiamat(poto : radarkepahiang)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Gambaran dahsyatnya hari kiamat menjadi pesan utama yang Allah tampilkan dalam Surah At-Takwir.

Melalui rangkaian ayat yang kuat dan berurutan, Allah memperlihatkan bagaimana alam semesta berubah total, manusia meninggalkan seluruh yang di cintainya, dan setiap jiwa akhirnya melihat sendiri hasil amal yang pernah di kerjakan.

Surah ini tidak hanya menggambarkan akhir dunia. Sebaliknya, Allah mengajak manusia untuk memikirkan kehidupan setelah kematian dan menyiapkan bekal sebelum datang hari yang tidak bisa di hindari.

Allah Ta’ala berfirman:

إِذَا ٱلشَّمْسُ كُوِّرَتْ

“Apabila matahari digulung.” (QS. At-Takwir: 1)

Matahari Padam dan Bintang Tidak Lagi Beredar

Surah At-Takwir dibuka dengan peristiwa yang mengguncang seluruh alam.

Allah menjelaskan bahwa matahari yang selama ini menerangi kehidupan akan kehilangan cahayanya. Tidak ada lagi siang sebagaimana manusia mengenalnya di dunia.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa pada saat hari kiamat terjadi, Allah menggulung matahari dan menggelapkan bulan. Setelah itu, Allah melempar keduanya ke dalam neraka sebagai tanda berakhirnya kehidupan dunia.

Kemudian Allah berfirman:

وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتْ

“Dan apabila bintang-bintang berjatuhan.” (QS. At-Takwir: 2)

As-Sa’di menerangkan bahwa bintang-bintang akan berubah dari keadaan semula. Mereka keluar dari tempat peredarannya lalu berserakan.

Selama ini manusia melihat langit sebagai simbol keteraturan. Namun pada hari itu, seluruh keteraturan berhenti karena Allah mengakhiri kehidupan dunia.

Gunung Hancur dan Harta Tidak Lagi Berarti

Setelah menggambarkan langit, Allah mengalihkan perhatian manusia kepada bumi.

Allah berfirman:

وَإِذَا ٱلْجِبَالُ سُيِّرَتْ

“Dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At-Takwir: 3)

As-Sa’di menjelaskan bahwa Allah menggerakkan gunung-gunung hingga kehilangan bentuknya.

Mula-mula gunung berubah menjadi seperti pasir. Setelah itu, gunung menjadi seperti bulu yang beterbangan. Pada akhirnya, gunung berubah menjadi debu dan lenyap.

Kemudian Allah berfirman:

وَإِذَا ٱلْعِشَارُ عُطِّلَتْ

“Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan.” (QS. At-Takwir: 4)

Pada masa Arab, masyarakat menempatkan unta bunting sebagai harta paling berharga.

Namun ketika hari kiamat datang, manusia tidak lagi memikirkan harta, kekayaan, atau kepemilikan. Rasa takut menguasai seluruh perhatian mereka.

Karena itu, ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mampu mengalahkan dahsyatnya peristiwa tersebut.

Baca Juga :  Politisasi Al-Qur’an dalam Politik: Sejarah, Tafsir, dan Kritik Ulama

Seluruh Makhluk Berkumpul dan Lautan Menyala

Allah lalu menjelaskan bahwa perubahan tidak hanya terjadi pada manusia.

Allah berfirman:

وَإِذَا ٱلْوُحُوشُ حُشِرَتْ

“Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)

As-Sa’di menerangkan bahwa Allah mengumpulkan seluruh hewan untuk menegakkan keadilan.

Bahkan hewan yang pernah menerima perlakuan zalim akan memperoleh haknya.

Dengan demikian, manusia dapat melihat kesempurnaan keadilan Allah.

Selanjutnya Allah berfirman:

وَإِذَا ٱلْبِحَارُ سُجِّرَتْ

“Dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir: 6)

Menurut penjelasan para ulama, Allah memanaskan lautan hingga berubah menjadi api yang menyala.

Laut yang selama ini menjadi simbol kehidupan berubah menjadi bagian dari peristiwa kehancuran besar.

Setiap Jiwa Berkumpul Sesuai Amalnya

Setelah menggambarkan perubahan alam, Allah mengarahkan perhatian kepada manusia.

Allah berfirman:

وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ

“Dan apabila ruh-ruh dipertemukan.” (QS. At-Takwir: 7)

As-Sa’di menjelaskan bahwa Allah mengumpulkan setiap orang bersama golongan yang sesuai dengan amal mereka.

Orang yang beriman berkumpul dengan orang beriman.

Sebaliknya, orang yang durhaka berkumpul dengan golongannya.

Allah juga berfirman:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok.” (QS. Az-Zumar: 73)

Sementara itu, orang yang menolak kebenaran akan menerima balasan sesuai perbuatannya.

Bayi Perempuan yang Pernah Dizalimi Akan Ditanya

Salah satu bagian paling kuat dalam Surah At-Takwir muncul pada ayat berikut:

وَإِذَا ٱلْمَوْءُۥدَةُ سُئِلَتْ
بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتْ

“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS. At-Takwir: 8–9)

Ayat ini menyoroti kebiasaan masyarakat jahiliah yang mengubur anak perempuan hidup-hidup.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah menanyakan hal itu sebagai bentuk kecaman terhadap pelaku kezaliman.

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa korban tidak membawa kesalahan.

Sebaliknya, pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Karena itu, Islam datang untuk menjaga kehormatan dan kehidupan manusia.

Catatan Amal Dibuka dan Langit Terbelah

Selanjutnya Allah menjelaskan fase pengadilan.

Allah berfirman:

وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتْ

“Dan apabila catatan-catatan di buka.” (QS. At-Takwir: 10)

Pada hari itu Allah membuka seluruh catatan amal.

Tidak ada tindakan yang tersembunyi.

Baca Juga :  Penguasa Zalim dalam Islam, Salah Siapa Sebenarnya?

Setiap manusia melihat sendiri apa yang pernah di lakukan selama hidup.

Kemudian Allah berfirman:

وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتْ

“Dan apabila langit di lenyapkan.” (QS. At-Takwir: 11)

Allah juga berfirman:

يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ

“Pada hari Kami melipat langit seperti melipat lembaran-lembaran kitab.” (QS. Al-Anbiya’: 104)

Dengan demikian, manusia tidak lagi hidup dalam ruang yang selama ini mereka kenal.

Neraka Menyala dan Surga Mendekat

Allah kemudian menggambarkan akhir perjalanan seluruh manusia.

وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ

“Dan apabila neraka Jahim di nyalakan.” (QS. At-Takwir: 12)

As-Sa’di menjelaskan bahwa Allah menyalakan neraka dengan kobaran yang sangat dahsyat.

Namun di sisi lain, Allah memberikan kabar gembira.

وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ

“Dan apabila surga di dekatkan.” (QS. At-Takwir: 13)

Allah mendekatkan surga kepada orang-orang bertakwa.

Kemudian Allah menutup rangkaian itu dengan firman:

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ أَحْضَرَتْ

“Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah di kerjakannya.” (QS. At-Takwir: 14)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa tidak ada amal yang hilang.

Al-Qur’an Datang Sebagai Peringatan

Pada bagian akhir surah, Allah menjelaskan kemuliaan Al-Qur’an.

إِنَّهُۥ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang di bawa oleh utusan yang mulia.” (QS. At-Takwir: 19)

As-Sa’di menjelaskan bahwa Malaikat Jibril membawa wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Selain itu, Allah membantah tuduhan yang di lontarkan kepada Nabi.

وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ

“Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.” (QS. At-Takwir: 22)

Karena itu, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan perkataan setan.

Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk dan peringatan untuk seluruh manusia.

Surah At-Takwir menghadirkan gambaran yang sangat kuat tentang hari kiamat. Allah memperlihatkan perubahan langit, kehancuran bumi, pengumpulan seluruh makhluk, dan pengadilan atas seluruh amal manusia.

Karena itu, surah ini tidak hanya mengajak manusia memahami masa depan, tetapi juga mendorong mereka memperbaiki kehidupan hari ini.

Sebagian ulama salaf berkata:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيَ عَيْنٍ، فَلْيَتَدَبَّرْ سُورَةَ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ

“Barang siapa ingin melihat hari kiamat seakan melihatnya secara langsung, maka renungkanlah Surah At-Takwir.”(ust)

Berita Terkait

Panduan Lengkap Cabang Ilmu Balaghah: Pengertian Bayan, Ma’ani, dan Badi’
Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah
Peran Al-Qur’an dan Sains Medis dalam Mencetak Dokter Masa Depan di PTKIN
Panduan Mad 6 Harakat Lengkap Contoh Bacaan Tajwid
Kemerdekaan Tanpa Diskriminasi Menurut Al-Hujurat Ayat 13
Kemuliaan Sejati Menurut Islam Bukan Ditentukan Jabatan
Panduan Alquran Menghadapi Tekanan Hidup dan Ujian Modern
Rezeki Tidak Akan Tertukar: Memahami Jaminan Allah dalam Alquran
Berita ini 11 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 09:33 WIB

Panduan Lengkap Cabang Ilmu Balaghah: Pengertian Bayan, Ma’ani, dan Badi’

Minggu, 13 September 2026 - 09:27 WIB

Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah

Sabtu, 12 September 2026 - 19:26 WIB

Peran Al-Qur’an dan Sains Medis dalam Mencetak Dokter Masa Depan di PTKIN

Jumat, 4 September 2026 - 20:55 WIB

Panduan Mad 6 Harakat Lengkap Contoh Bacaan Tajwid

Jumat, 4 September 2026 - 20:45 WIB

Kemerdekaan Tanpa Diskriminasi Menurut Al-Hujurat Ayat 13

Berita Terbaru

Ngaji Ilmu Balagah.(ilustrasi poto: istimewa).

Al-Qur'an

Rahasia Bahasa Al-Qur’an: Kalimat Berita Makna Perintah

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:27 WIB

Sikap tegas Ali bin Abi Thalib menolak korupsi.(ilustrasi poto: kemenag.go.id).

Sejarah

Ketegasan Ali bin Abi Thalib Menjaga Amanah Kas Negara

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:18 WIB

Ilustrasi Imam Abu Hanifah menolak Jabatan.(poto: istimewa).

Sejarah

Integritas Imam Abu Hanifah Hindari Konflik Kepentingan

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:13 WIB

Wawancara beserta awak media setelah acara pembukaan MTQ Nasional di Semarang, Sabtu (12/9/2026).(poto: kemenag.go.id).

Berita Islam

MTQ Nasional XXXI Semarang 2026 Integrasikan AI dan UMKM

Minggu, 13 Sep 2026 - 09:05 WIB