Kesadaran Manusia dalam Ayat Al-Qur’an tentang Kembali

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kesadaran Manusia dalam Ayat Al-Qur’an tentang Kembali( Poto :chatGPT ).

Kesadaran Manusia dalam Ayat Al-Qur’an tentang Kembali( Poto :chatGPT ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Al-Qur’an mengarahkan manusia menuju kesadaran kembali kepada Tuhan sebagai inti dari seluruh perjalanan hidupnya, mulai dari pengakuan, nikmat, hingga kepastian akhir.

Ini menjadi inti refleksi bahwa manusia sering mengetahui kebenaran tetapi tidak selalu tunduk padanya, meski alam semesta terus memberi tanda yang jelas.

Irama Pengakuan Manusia

Al-Qur’an membuka refleksi tentang manusia yang mengakui Tuhan, tetapi tidak selalu menjadikan pengakuan itu sebagai arah hidupnya. Ia tahu siapa yang menciptakan langit dan bumi, namun ia sering tidak mengubah perilaku dan hatinya.

Allah berfirman:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلْعَزِيزُ ٱلْعَلِيمُ

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab: Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan paradoks manusia. Ia tidak menolak Tuhan, tetapi ia juga tidak sepenuhnya tunduk kepada-Nya. Ia mengakui secara lisan, namun tidak menghidupkan pengakuan itu dalam tindakan.

Ar-Razi menegaskan bahwa pengakuan tanpa ketundukan hanya menjadi suara kosong. Ia tidak mengubah arah hidup seseorang.

Bumi sebagai Petunjuk

Al-Qur’an kemudian mengarahkan perhatian manusia ke bumi, tempat ia berpijak setiap hari. Allah tidak hanya memperlihatkan langit yang jauh, tetapi juga tanah yang ia injak.

ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ مَهْدًا وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.”

Ar-Razi menjelaskan kata mahd sebagai hamparan yang lembut seperti buaian. Allah menghadirkan bumi sebagai tempat aman bagi manusia untuk hidup, tumbuh, dan bergerak.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Fatihah Berdasarkan Tafsir Jalalain

Namun Allah tidak berhenti di sana. Dia juga menciptakan subul atau jalan-jalan. Jalan ini bukan hanya jalan fisik, tetapi juga jalan makna dan petunjuk hidup.

Manusia sering menikmati bumi sebagai tempat tinggal, tetapi ia jarang membaca arah yang sudah Allah sediakan di dalamnya.

Hujan dan Kebangkitan Hati

Al-Qur’an kemudian menggambarkan hujan sebagai tanda kehidupan yang terus berulang. Allah menurunkan air dengan ukuran yang tepat, tidak kurang dan tidak berlebih.

وَٱلَّذِى نَزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۢ بِقَدَرٍ فَأَنشَرْنَا بِهِۦ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar, lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati; seperti itulah kamu akan dikeluarkan.”

Ar-Razi menafsirkan kata biqadar sebagai ukuran yang penuh hikmah. Allah tidak pernah menurunkan sesuatu secara sembarangan. Semua berjalan sesuai takaran ilmu-Nya.

Hujan menghidupkan tanah yang mati. Dari tanah kering, tumbuh kehidupan baru. Dari sesuatu yang tampak tidak bernyawa, muncul kehijauan yang segar.

Al-Qur’an mengajak manusia melihat dirinya dalam gambaran ini. Hati yang keras bisa hidup kembali ketika mendapatkan “air” berupa hidayah, ilmu, dan kesadaran.

Tanda-tanda Keteraturan Hidup

Al-Qur’an kemudian menunjukkan bahwa seluruh ciptaan berjalan dalam sistem keteraturan yang saling berpasangan.

وَٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْأَزْوَٰجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلْفُلْكِ وَٱلْأَنْعَٰمِ مَا تَرْكَبُونَ

“Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.”

Segala sesuatu hadir berpasangan: siang dan malam, hidup dan mati, kuat dan lemah, bahagia dan sedih. Keseimbangan ini menunjukkan bahwa kehidupan tidak berjalan sendiri.

Baca Juga :  Kurban dan Solidaritas Sosial di Tengah Krisis Ekonomi

Ar-Razi menjelaskan bahwa keteraturan ini menjadi tanda bahwa manusia selalu berada dalam sistem yang lebih besar dari dirinya. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi selalu terhubung dengan alam dan Penciptanya.

Kapal dan hewan tunggangan menjadi simbol bahwa Allah memberi manusia kemampuan untuk bergerak dan menjelajah dunia.

Perjalanan dan Kesadaran Syukur

Ketika manusia menaiki kendaraan, Al-Qur’an mengingatkannya agar tidak lupa sumber kekuatan yang menundukkan semua itu.

لِتَسْتَوُۥا۟ عَلَىٰ ظُهُورِهِۦ ثُمَّ تَذْكُرُوا۟ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ

“Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu…”

Kesadaran ini melahirkan doa yang penuh makna:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُۥ مُقْرِنِينَ

“Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.”

Doa ini meruntuhkan rasa sombong manusia. Ia mengingatkan bahwa semua yang ia gunakan berasal dari kekuasaan Allah, bukan dari kemampuannya sendiri.

Syukur muncul ketika manusia menyadari keterbatasannya.

Kembali sebagai Kepastian

Al-Qur’an kemudian menutup rangkaian ayat ini dengan kepastian yang tidak bisa dihindari:

وَإِنَّآ إِلَىٰ رَبِّرَا لَمُنقَلِبُونَ

“Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

Kalimat ini menegaskan bahwa seluruh perjalanan manusia memiliki tujuan akhir. Tidak ada perjalanan yang benar-benar abadi di dunia ini.

Ar-Razi menjelaskan bahwa ayat ini mengikat seluruh makna sebelumnya. Pengakuan, nikmat, perjalanan, dan kesadaran semuanya bermuara pada satu hal: kepulangan kepada Allah.

Ia menegaskan bahwa manusia seperti musafir. Ia hanya singgah sementara, lalu kembali ke tempat asalnya.(ust)

Berita Terkait

QS Ghafir 3: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah
Surah At-Takwir dan Gambaran Dahsyat Hari Kiamat
Pohon Zaqqum dalam Surah Ad-Dukhan, Azab bagi Kesombongan Manusia
Derajat Orang Berilmu dalam Islam dan Keutamaannya
Parenting di Media Sosial dan Etika dalam Islam
Adab Santri terhadap Guru dalam Tradisi Pesantren
Kurban dan Solidaritas Sosial di Tengah Krisis Ekonomi
Makna Huruf Muqatta’ah dalam Al-Qur’an Menurut Ulama
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 21:00 WIB

QS Ghafir 3: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Senin, 1 Juni 2026 - 19:00 WIB

Pohon Zaqqum dalam Surah Ad-Dukhan, Azab bagi Kesombongan Manusia

Senin, 1 Juni 2026 - 09:00 WIB

Derajat Orang Berilmu dalam Islam dan Keutamaannya

Senin, 1 Juni 2026 - 06:28 WIB

Parenting di Media Sosial dan Etika dalam Islam

Minggu, 31 Mei 2026 - 21:00 WIB

Adab Santri terhadap Guru dalam Tradisi Pesantren

Berita Terbaru

Ilustrasi Seorang Fotografer dengan membawa peralatan kamera( poto : kompas edukasi )

Fiqih

Hukum Memfoto Orang Diam-Diam Tanpa Izin dalam Islam

Jumat, 5 Jun 2026 - 23:00 WIB

Al-Qur'an

QS Ghafir 3: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Jumat, 5 Jun 2026 - 21:00 WIB