Flexing di Media Sosial dan Pelajaran Besar dari Kisah Qarun dalam Al-Qur’an

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena flexing media sosial semakin marak dan berdampak pada kehidupan sosial. Artikel ini membahas dampaknya serta pelajaran dari kisah Qarun dalam Al-Qur’an.( Poto : Sinergi Foundation ).

Fenomena flexing media sosial semakin marak dan berdampak pada kehidupan sosial. Artikel ini membahas dampaknya serta pelajaran dari kisah Qarun dalam Al-Qur’an.( Poto : Sinergi Foundation ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Fenomena flexing atau pamer kekayaan terus berkembang di media sosial. Banyak orang secara sadar menampilkan gaya hidup mewah, barang mahal, serta pencapaian finansial mereka kepada publik.

Tidak hanya masyarakat umum, sebagian tokoh publik juga ikut memperlihatkan hal yang sama.

Karena itu, tren ini semakin kuat dan memengaruhi cara orang menilai kesuksesan.

Di satu sisi, sebagian orang memandang flexing sebagai motivasi. Namun di sisi lain, banyak pihak melihatnya sebagai sumber masalah sosial.

Selain menimbulkan kecemburuan, perilaku ini juga dapat mengurangi rasa syukur dan memperlemah nilai kesederhanaan.

Oleh sebab itu, Islam memberikan peringatan keras melalui kisah Qarun dalam Al-Qur’an, seorang manusia kaya raya yang Allah binasakan karena kesombongannya.

1. Memahami Flexing di Era Digital

Pertama-tama, flexing berarti tindakan seseorang yang memamerkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup secara berlebihan.

Istilah ini berasal dari bahasa Inggris to flex, yang berarti menunjukkan sesuatu dengan tujuan menarik perhatian orang lain.

Kemudian, dalam praktiknya, flexing muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, seseorang mengunggah mobil mewah, rumah besar, atau liburan ke luar negeri.

Selain itu, sebagian orang juga menampilkan saldo rekening, transaksi mahal, atau barang branded.

Selanjutnya, flexing bisa bernilai positif maupun negatif. Jika seseorang melakukannya untuk menginspirasi orang lain, maka dampaknya bisa baik.

Namun, jika seseorang melakukannya untuk pamer dan mencari pengakuan, maka dampaknya menjadi buruk. Karena itu, niat sangat menentukan nilai dari perilaku ini.

2. Dampak Negatif Flexing dalam Kehidupan Sosial

Selain menjadi tren, flexing juga membawa dampak sosial yang cukup serius.

a. Menurunkan Kepercayaan Diri

Pertama, banyak orang merasa tidak cukup baik ketika melihat kemewahan orang lain di media sosial. Akibatnya, mereka mulai membandingkan hidupnya dan merasa rendah diri.

b. Mendorong Gaya Hidup Konsumtif

Kedua, flexing mendorong orang untuk membeli barang di luar kemampuan. Mereka ingin terlihat sukses, sehingga mereka meniru gaya hidup yang tidak sesuai kondisi keuangan.

c. Memicu Kecemburuan Sosial

Selain itu, pamer kekayaan sering menimbulkan rasa iri. Jika hal ini terus terjadi, hubungan sosial bisa menjadi renggang dan penuh prasangka.

d. Mengubah Standar Kesuksesan

Lebih lanjut, masyarakat mulai menilai kesuksesan hanya dari materi. Padahal, kesuksesan juga mencakup akhlak, ilmu, dan manfaat bagi orang lain.

e. Meningkatkan Risiko Keamanan

Selain dampak sosial, flexing juga meningkatkan risiko keamanan. Misalnya, seseorang dapat menjadi target kejahatan karena memamerkan kekayaannya secara terbuka.

Baca Juga :  Dirjen Bimas Islam Kemenag Ungkap Peran Penyuluh Agama

3. Dampak Flexing oleh Pejabat Publik

Jika seorang pejabat melakukan flexing, dampaknya menjadi lebih besar dan lebih luas.

Pertama, masyarakat mulai meragukan integritas pejabat tersebut. Mereka bertanya-tanya tentang sumber kekayaannya.

Kedua, muncul kecemburuan sosial karena rakyat melihat kesenjangan yang semakin jelas.

Selain itu, tindakan ini juga dapat memicu kemarahan publik. Bahkan, dalam beberapa kasus, hal ini dapat menurunkan kepercayaan terhadap lembaga negara.

Oleh karena itu, pejabat seharusnya menjaga sikap sederhana dan tidak menonjolkan kemewahan.

4. Kisah Qarun dalam Al-Qur’an sebagai Peringatan

Selanjutnya, Al-Qur’an mengabadikan kisah Qarun sebagai pelajaran penting tentang bahaya kesombongan harta. Qarun berasal dari kaum Nabi Musa dan dikenal sangat kaya. Namun, ia tidak menggunakan kekayaannya dengan benar.

Allah berfirman:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Maka Qarun keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata: ‘Seandainya kita memiliki seperti yang dimiliki Qarun, sungguh dia benar-benar orang yang sangat beruntung.’” (QS. Al-Qashash: 79)

Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bagaimana kemewahan dapat memengaruhi pandangan manusia.

Banyak orang terpesona oleh harta tanpa melihat nilai spiritual di baliknya.

5. Qarun Menolak Nasihat dan Bersikap Sombong

Kemudian, kaumnya menasihati Qarun agar tidak sombong. Namun, ia justru menolak nasihat tersebut.

Allah berfirman:

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ
“Dia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)

Dengan kata lain, Qarun menganggap bahwa kekayaannya berasal dari kemampuannya sendiri.

Karena itu, ia menolak bahwa semua itu adalah karunia Allah. Sikap ini menunjukkan kesombongan yang sangat berbahaya.

6. Nasihat Kaum yang Beriman

Setelah itu, orang-orang saleh menasihati Qarun agar menggunakan hartanya untuk kebaikan.

Allah berfirman:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Selain itu, berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menegaskan keseimbangan hidup. Oleh karena itu, manusia harus menggunakan harta untuk akhirat tanpa melupakan kebutuhan dunia.

Baca Juga :  Panduan Lengkap Perbedaan Ucapan Syafakallah Syafakillah dan Adab Menjenguk

7. Puncak Kesombongan Qarun

Setelah itu, Qarun tetap menunjukkan kemewahannya di depan umum. Banyak orang kembali terpesona.

Allah berfirman:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِۦ فِى زِينَتِهِۦ ۖ قَالَ ٱلَّذِينَ يُرِيدُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا يَٰلَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآ أُوتِىَ قَٰرُونُ إِنَّهُۥ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Maka Qarun keluar kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang dunia berkata: ‘Seandainya kita memiliki seperti Qarun, sungguh dia sangat beruntung.’” (QS. Al-Qashash: 79)

Namun demikian, orang-orang berilmu segera memberikan peringatan:

وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ
“Berkatalah orang-orang yang diberi ilmu: ‘Celakalah kalian, pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak akan mendapatkannya kecuali orang-orang yang sabar.’” (QS. Al-Qashash: 80)

Dengan demikian, Al-Qur’an membandingkan dua pandangan: pandangan duniawi dan pandangan orang beriman.

8. Kehancuran Qarun sebagai Akibat Kesombongan

Akhirnya, Allah menurunkan azab kepada Qarun.

Allah berfirman:

فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ
“Maka Kami benamkan Qarun bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada satu pun kelompok yang dapat menolongnya selain Allah, dan ia tidak dapat menolong dirinya sendiri.” (QS. Al-Qashash: 81)

Dengan demikian, seluruh kekayaan yang ia banggakan hilang dalam sekejap.

9. Hadis tentang Bahaya Kesombongan

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahaya kesombongan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر”
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“بينما رجل يمشي في حلة تعجبه نفسه… إذ خسف الله به الأرض” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Ketika seorang lelaki berjalan dengan pakaian yang membuatnya kagum pada dirinya, Allah menenggelamkannya ke dalam bumi.”

Kesimpulan

Sebagai penutup, fenomena flexing menunjukkan bagaimana manusia mudah terpengaruh oleh tampilan dunia.

Namun, Islam telah memberikan peringatan yang sangat jelas melalui kisah Qarun bahwa kesombongan harta hanya membawa kehancuran.

Oleh karena itu, setiap orang harus menggunakan harta dengan bijak, bersyukur, dan tidak menjadikannya sebagai alat untuk pamer.

Selain itu, manusia perlu memahami bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari kekayaan, tetapi dari ketakwaan, akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.(ust)

Berita Terkait

Menag Nasaruddin Umar Ingatkan Perlindungan Data Pribadi Bagian Martabat Manusia
Penghulu Viral Mojokerto Soroti Pentingnya Kerendahan Hati Orang Berilmu
Mengendalikan Volume Suara: Cermin Adab dan Tanggung Jawab Sosial Seorang Muslim
Akhlak Nabi Muhammad SAW: Cerminan Nyata Ajaran Alquran
6 Sifat Tercela yang Dibenci Allah Menurut Alquran dan Hadis
Nasihat KH Hasyim Asy’ari tentang Menghadapi Perbedaan Pendapat Ulama
4 Tipe Manusia Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Menyikapinya
Etika Bisnis dalam Islam: Panduan Lengkap Menurut Syariat
Berita ini 23 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:01 WIB

Menag Nasaruddin Umar Ingatkan Perlindungan Data Pribadi Bagian Martabat Manusia

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:02 WIB

Penghulu Viral Mojokerto Soroti Pentingnya Kerendahan Hati Orang Berilmu

Senin, 21 September 2026 - 16:36 WIB

Mengendalikan Volume Suara: Cermin Adab dan Tanggung Jawab Sosial Seorang Muslim

Selasa, 11 Agustus 2026 - 03:00 WIB

Akhlak Nabi Muhammad SAW: Cerminan Nyata Ajaran Alquran

Senin, 10 Agustus 2026 - 15:00 WIB

6 Sifat Tercela yang Dibenci Allah Menurut Alquran dan Hadis

Berita Terbaru

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:38 WIB

Ilustrasi Khutbah Jumat.(poto: dok.dorlanhikmah.com).

Kultum

Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai

Kamis, 22 Okt 2026 - 20:33 WIB

Pusat Studi Al-Qur'an menggelar diskusi keagamaan memperingati Hari Santri 2026 di Tangerang Selatan.(poto: kemenag.go.id).

Teknologi

Nilai Pesantren Jadi Kompas Hadapi Era AI

Kamis, 22 Okt 2026 - 14:57 WIB