Jakarta, Dorlanhikmah.com – Peristiwa viral di Mojokerto membuka mata publik mengenai bahaya sombong karena ilmu di tengah masyarakat. Tindakan seorang penghulu yang meremehkan fotografer pernikahan menunjukkan lunturnya kebijaksanaan seorang tokoh panutan.
Kejadian bermula saat mempelai wanita ingin menunggu di dalam kamar sampai prosesi akad selesai. Pihak keluarga kemudian menitipkan pesan tersebut kepada fotografer untuk diteruskan kepada penghulu.
Fotografer langsung menyampaikan permintaan pihak keluarga tersebut secara sopan di lokasi acara. Namun penghulu justru tersulut emosi dan menganggap fotografer tidak paham tata cara mengaji.
Penghulu bahkan melontarkan teguran keras karena merasa sang fotografer telah lancang mengatur tugasnya. Perilaku emosional ini memicu sorotan luas masyarakat pengguna media sosial di Tanah Air.
Banyak pihak menyayangkan sikap arogan petugas pencatat nikah dalam momen sakral tersebut. Warganet menilai ilmu agama semestinya menuntun seseorang bertutur kata santun dan penuh welas asih.
Masyarakat kerap melihat orang pintar terjebak pada rasa paling tahu dan meremehkan sesama. Padahal keluasan wawasan harus menumbuhkan keteduhan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari.
Keterbatasan Pengetahuan Manusia Menuntut Sikap Santun Rendah Hati
Setiap manusia wajib menyadari bahwa akal pikiran memiliki batasan yang sangat nyata. Seseorang tidak boleh merasa paling benar hanya karena menempuh pendidikan agama yang tinggi.
Keluasan ilmu manusia tetap menyisakan celah ketidaktahuan yang justru orang lain kuasai. Kesadaran atas keterbatasan ini menuntut setiap penuntut ilmu untuk senantiasa menundukkan hati.
Al-Qur’an secara tegas mengingatkan keterbatasan wawasan manusia melalui firman Allah SWT dalam Surah Yusuf ayat 76:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Artinya: “Di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih Mengetahui.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa ilmu pengetahuan bertingkat dan puncak pengetahuan bermuara hanya kepada Allah SWT. Imam Abu Ja’far at-Thabari menguraikan tafsir ayat ini secara utuh dalam kitab Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an:
وَفَوْقَ كُلِّ عَالِمٍ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْهُ، حَتَّى يَنْتَهِيَ ذَلِكَ إِلَى اللهِ
Artinya: “Di atas setiap orang berilmu, ada orang yang lebih berilmu darinya, hingga hal itu berakhir kepada Allah swt.”
Penjelasan ulama klasik tersebut mengingatkan manusia agar tidak menyombongkan kapasitas pengetahuannya. Seseorang harus senantiasa bersikap luwes dan berhati-hati dalam memperlakukan orang lain.
Penyakit Sombong Sangat Cepat Merusak Hati Manusia
Sombong merupakan racun batin paling berbahaya yang menutup mata seseorang dari kebenaran. Penyakit hati ini menyusup sangat halus ke dalam jiwa para penuntut ilmu.
Syekh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi menyoroti ancaman tersebut dalam kitab Mau’idzatul Mukminin min Ihyai Ulumiddin:
وَمَا أَسْرَعَ الْكِبْرَ إِلَى بَعْضِ الْعُلَمَاءِ فَلَا يَلْبَثُ أَنْ يَسْتَشْعِرَ فِي نَفْسِهِ كَمَالُ الْعِلْمِ فَيَسْتَعْظِمُ نَفْسَهُ وَيَسْتَحْقِرَ النَّاسَ وَيَسْتَجْهِلَهُمْ وَيَسْتَخْدِمُ مَنْ خَالَطَهُ مِنْهُمْ، وَقَدْ يَرَى نَفْسَهُ عِنْدَ اللهِ تَعَالىَ أَعْلىَ وَأَفْضَلَ مِنْهُمْ
Artinya: “Betapa cepat kesombongan menyusup ke dalam diri sebagian orang berilmu. Tidak lama kemudian, ia merasa dirinya telah mencapai kesempurnaan ilmu, sehingga menganggap dirinya hebat, meremehkan orang lain, menganggap mereka bodoh, dan memperlakukan orang-orang yang bergaul dengannya sebagai bawahan yang harus melayaninya. Bahkan, terkadang memandang dirinya lebih tinggi dan lebih mulia di sisi Allah daripada mereka.”
Peringatan tersebut membuktikan bahaya besar jika seseorang merasa ilmunya sudah mencapai kesempurnaan. Rasa bangga diri sering melahirkan sikap merendahkan orang lain yang memiliki wawasan berbeda.
Insiden perselisihan di Mojokerto menjadi cermin moral penting bagi seluruh kalangan masyarakat. Publik memetik pelajaran berharga bahwa etika bergaul jauh melampaui gelar maupun tingkatan pengetahuan.
Seseorang yang bijak akan menggunakan ilmunya untuk merangkul dan menghormati sesama manusia. Kerendahan hati pada akhirnya menjadi bukti nyata kedalaman ilmu seseorang yang sesungguhnya.(ust)










Komentar