Jakarta, dorlanhikmah.com – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Abu Rokhmad membeberkan peran strategis penyuluh agama di era media sosial. Langkah ini sangat krusial untuk menjawab berbagai tantangan dinamika keagamaan di ruang digital.
Abu Rokhmad menyampaikan arahan tersebut saat menghadiri kegiatan Implementasi Regulasi Kepenyuluhan di Semarang, Jawa Tengah. Ia menilai perkembangan teknologi informasi secara cepat telah menghadirkan lanskap baru bagi kehidupan beragama.
Menurut Abu Rokhmad, ruang digital kini mengaburkan batas antara pihak berotoritas keagamaan dengan pihak tanpa kompetensi. Fenomena persaingan pengaruh di dunia maya bahkan berlangsung jauh lebih keras ketimbang di dunia nyata.
Kondisi tersebut mendorong para penyuluh untuk terus mengasah dan memperkuat kompetensi keagamaan secara berkesinambungan. Pemahaman ajaran agama yang mendalam wajib menjadi fondasi utama sebelum melengkapinya dengan berbagai keahlian pendukung.
Abu Rokhmad menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas diri agar penyuluh mampu mengarahkan pemahaman masyarakat secara tepat. Langkah ini sekaligus membentengi umat dari serbuan informasi keagamaan yang keliru di media sosial.
Ia mengimbau seluruh pihak agar menjadikan ajaran agama sebagai sarana perekat persatuan bangsa Indonesia. Nilai-nilai spiritual hendaknya menjadi inspirasi positif dalam berbangsa, bukan justru memicu perpecahan di tengah publik.
Penguatan Otoritas Keagamaan dan Pendampingan Remaja Era Digital
Selain aspek keagamaan, Abu Rokhmad menekankan pentingnya pendampingan intensif bagi kelompok generasi muda. Penyuluh agama memegang posisi sentral dalam membimbing anak-anak serta remaja agar terhindar dari dampak buruk media sosial.
Pendampingan khusus ini menjadi kebutuhan mendesak demi melindungi pilar masa depan bangsa dari potensi penyalahgunaan teknologi. Penyuluh harus hadir memberikan penguatan nilai-nilai moral secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Kemenag memandang keberadaan penyuluh sangat strategis untuk membentengi mentalitas generasi muda dari gempuran konten negatif. Upaya ini selaras dengan makin meluasnya durasi penggunaan gawai di kalangan remaja setiap hari.
Pencegahan Masalah Sosial Melalui Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Peran ketiga yang tidak kalah penting yakni keterlibatan aktif penyuluh dalam mencegah berbagai persoalan sosial. Abu Rokhmad mendorong para petugas di lapangan untuk menguasai isu-isu faktual yang menjadi perhatian publik.
Salah satu wujud nyata peran sosial tersebut mencakup keikutsertaan penyuluh dalam gerakan pencegahan penyalahgunaan narkoba. Edukasi masyarakat perlu berjalan secara berkelanjutan meskipun temuan kasus di wilayah tertentu tergolong kecil.
Penanganan berbagai ancaman penyakit masyarakat tetap memerlukan ruang pembinaan serta pendampingan yang tepat dan terukur. Pendekatan persuasif bernuansa keagamaan diyakini efektif meredam potensi kerawanan sosial di tingkat tapak.
Abu Rokhmad mengingatkan bahwa ketiga fungsi strategis tersebut tidak mungkin berjalan optimal jika dikerjakan secara individual. Penyuluh membutuhkan jejaring kerja sama yang kokoh dengan institusi pemerintah maupun beragam elemen masyarakat.
Sinergi lintas sektor akan memperluas jangkauan dakwah sekaligus mengoptimalkan potensi penyuluh bagi kemaslahatan publik. Kolaborasi ini menjadi kunci utama dalam memajukan berbagai bidang pembangunan keagamaan di Tanah Air.(ust)










Komentar