Bungo, dorlanhikmah.com – Penyucian jiwa Ponpes Ad Dhuha menjadi materi utama kajian yang disampaikan oleh Ustadz Qodri pada Sabtu malam (15/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, beliau mengupas tuntas konsep tazkiyatun nafs sebagai langkah penting membersihkan batin seorang Muslim.
Secara bahasa, tazkiyatun nafs berarti penyucian dan pembersihan jiwa dari berbagai kotoran. Sementara secara istilah, istilah ini menggambarkan proses pembersihan hati dari berbagai penyakit batin yang merusak.
Penyakit Batin Mengancam Kebersihan Hati Seorang Muslim
Ustadz Qodri mengingatkan seluruh jamaah agar selalu mewaspadai bahaya penyakit batin dalam kehidupan. Penyakit hati tersebut dapat merusak kebaikan dan menjauhkan seorang hamba dari keridaan Allah SWT.
“Di antaranya syirik, riya, hasad, sombong, dengki, cinta dunia yang berlebihan, serta hawa nafsu yang buruk,” kata Ustadz Qodri saat menyampaikan materi kajian.
Beliau menegaskan bahwa proses pembersihan jiwa tidak hanya berhenti pada tindakan menjauhi larangan. Seseorang juga harus aktif mengisi hatinya dengan berbagai sifat terpuji yang mendatangkan ketenangan.
Menghiasi Jiwa Dengan Sifat Terpuji Sesuai Ajaran
Upaya menyucikan batin membutuhkan hiasan sifat terpuji seperti iman, ikhlas, sabar, syukur, dan tawakal. Penguatan akhlak mulia ini menjadi benteng utama dalam menjaga kesucian hati dari godaan.
Proses spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan mendatangkan ketenangan serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pembentukan jiwa yang bersih akan melahirkan perilaku positif dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Ustadz Qodri juga mendorong jamaah untuk rutin melakukan introspeksi diri terhadap kondisi hati masing-masing. Langkah mawas diri ini memegang peranan sangat krusial bagi perjalanan spiritual setiap insan.
Menjaga Kebersihan Hati Sebagai Sumber Utama Segala Amal
Landasan utama pembahasan ini merujuk langsung pada firman Allah SWT dalam QS Asy-Syams ayat 9-10. Ayat tersebut menegaskan keberuntungan bagi orang yang menyucikan jiwa dan kerugian bagi yang mengotorinya.
Melalui firman tersebut, jamaah diajak untuk terus berikhtiar membuang penyakit batin secara konsisten. Penguatan iman harus berjalan seiring dengan perbaikan kualitas ibadah serta akhlak dalam aktivitas harian.
Ustadz Qodri mengimbau seluruh hadirin agar tidak sekadar memahami materi kajian sebagai wawasan teori semata. Beliau menekankan pentingnya mengamalkan seluruh poin kajian dalam tindakan nyata sehari-hari secara berkelanjutan.
“Jangan sampai kita sibuk memperbaiki sesuatu yang tampak di luar, tetapi lupa memperbaiki hati yang menjadi sumber segala amal. Karena keberuntungan yang sebenarnya adalah ketika kita mampu menjaga dan menyucikan jiwa kita di hadapan Allah SWT,” pungkasnya.(ust)










Komentar