Jakarta, dorlanhikmah.com – Manusia tidak pernah lepas dari interaksi sosial dengan sesamanya dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Pemetaan 4 tipe manusia Al Ghazali membantu masyarakat agar tidak salah mengambil sikap saat menimba ilmu maupun berinteraksi.
Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menguraikan pemetaan karakter manusia ini dalam kitab at-Tibr al-Masbuk fi Nashihat al-Muluk. Beliau mengutip pendapat sebagian ahli hikmah yang membagi manusia berdasarkan jalinan antara pengetahuan dan kesadaran diri mereka.
Tipe Manusia Berilmu dan Sadar Tanggung Jawab Keilmuan
Tipe pertama menggambarkan kondisi ideal seorang manusia yang menguasai ilmu sekaligus memiliki kesadaran penuh atas tanggung jawabnya. Imam al-Ghazali menyebut kelompok ini sebagai ulama yang patut menjadi panutan umat.
رَجُلٌ يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ عَالِمٌ فَاتَّبِعُوهُ
Artinya: “Seseorang yang tahu (berilmu) dan dia tahu (sadar) bahwa dirinya tahu, maka ia adalah seorang alim (ulama), maka ikutilah dia.”
Kelompok ini mencakup para guru dan pemandu umat yang ikhlas mengamalkan teori dalam kehidupan nyata. Masyarakat wajib mendekati, mengambil berkah ilmunya, serta mengikuti petunjuk kebaikannya.
Karakter Manusia Lalai Serta Pembelajar Pencari Petunjuk Kebajikan
Tipe kedua merupakan potret orang berilmu yang tengah berada dalam kondisi lalai, lupa, atau kehilangan kepekaan mengamalkannya. Beliau mengibaratkan kelompok ini seperti pemilik lentera yang berjalan di kegelapan dalam kondisi mengantuk.
وَرَجُلٌ يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ يَدْرِي فَذَلِكَ نَاسٍ فَذَكِّرُوهُ
Artinya: “Dan seseorang yang tahu (berilmu) tetapi dia tidak tahu (tidak sadar) bahwa dirinya tahu, maka ia adalah orang yang lupa (lalai), maka ingatkanlah dia.”
Sesama Muslim wajib memberikan peringatan secara santun agar kesadaran orang tersebut kembali bangkit. Sementara itu, tipe ketiga menunjukkan sikap kesatria intelektual yang sadar akan ketidaktahuannya.
وَرَجُلٌ لَا يَدْرِي وَيَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ مُسْتَرْشِدٌ فَأَرْشِدُوهُ
Artinya: “Dan seseorang yang tidak tahu dan dia tahu (sadar) bahwa dirinya tidak tahu, maka ia adalah seorang pencari petunjuk (pembelajar), maka berilah ia petunjuk.”
Masyarakat perlu melayani pencari petunjuk ini dengan membimbing, mengajari, serta mengarahkannya ke jalan ilmu yang benar. Mereka memiliki jiwa pembelajar ideal karena mau mengakui kekurangan dan meredam ego personalnya.
Bahaya Kebodohan Berlapis Yang Sangat Perlu Kita Waspadai
Tipe terakhir merupakan kelompok paling berbahaya yang mengidap jahlul murakkab atau kebodohan berlapis. Seseorang dalam golongan ini tidak memiliki ilmu, namun keangkuhannya menutup mata hati sehingga merasa paling paham segala urusan.
وَرَجُلٌ لَا يَدْرِي وَلَا يَدْرِي أَنَّهُ لَا يَدْرِي فَذَلِكَ جَاهِلٌ فَاحْذَرُوهُ
Artinya: “Dan seseorang yang tidak tahu dan dia tidak tahu (tidak sadar) bahwa dirinya tidak tahu, maka ia adalah orang bodoh yang bebal, maka waspadalah kalian terhadapnya.”
Masyarakat perlu mengambil jarak dan berhati-hati agar tidak tergelincir ke dalam fitnah pemikiran ciptaan mereka. Berdebat dengan kelompok bebal seperti ini hanya membuang energi secara sia-sia tanpa membuahkan hasil positif.
Catatan Imam al-Ghazali ini mengajak setiap individu melakukan introspeksi diri secara mendalam. Semoga Allah memelihara kita dari kebebalan yang sombong serta mendekatkan pada pemahaman agama yang baik. Wallahu a‘lam.(ust)










Komentar