Jakarta, dorlanhikmah.com – Seorang penerjemah menghadirkan karya terjemahan penting setelah mengikuti kajian penulis di Buraidah, Provinsi Qassim, Kerajaan Arab Saudi. Langkah ini bertujuan meluruskan berbagai kesalahan wudhu dan shalat yang sering dilakukan kaum muslimin.
Proses penerjemahan naskah ini menyajikan penjelasan yang jernih dan menyempurnakan struktur kalimat tanpa mengubah isi. Penerjemah juga menambahkan beberapa catatan ringkas agar pembaca lebih mudah menyerap pesan utama buku.
Landasan Utama dan Keutamaan Shalat
Umat Islam wajib menjalankan ibadah sesuai perintah Allah dan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Syarat penerimaan amal tersebut bertumpu pada niat yang ikhlas serta kesesuaian dengan sunnah Nabi.
Faktor ketidaktahuan, sifat lupa, dan sikap terburu-buru kerap memicu timbulnya kesalahan dalam ibadah harian. Naskah ini merangkum 40 pengingat penting yang sangat cocok untuk bahan diskusi keluarga maupun jamaah masjid.
Imam Ahmad rohimahullah menegaskan bahwa orang yang shalat sedang berdiri penuh kerendahan di hadapan Tuhan Yang Maha Perkasa. Shalat yang dikerjakan secara sempurna akan memperbaiki akhlak serta perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Ibadah shalat juga menjadi medan pertarungan melawan gangguan setan dengan cara menghadirkan kekhusyukan hati secara penuh. Para malaikat senantiasa memohonkan ampunan serta rahmat bagi orang-orang yang menetap di dalam masjid.
Umat Islam perlu memperbanyak ibadah sunnah untuk menutupi berbagai kekurangan dalam shalat wajib. Sementara itu, orang yang sengaja menunda shalat hingga akhir waktu tanpa alasan syar’i menghadapi bahaya besar.
Shalat memegang peran kunci sebagai tolok ukur utama dari seluruh amalan seorang hamba. Kualitas shalat yang baik akan memperbaiki amal lainnya, sedangkan shalat yang rusak akan merusak seluruh amalan.
Kekeliruan Umum Saat Menjalankan Wudhu
Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah lalai mengucapkan “bismillah” sebelum memulai wudhu. Sebagian ulama mewajibkan bacaan ini berdasarkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَلَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ
Artinya: “tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah” (H.R. Ahmad No. 25894).
Sebagian ulama lain menilai bacaan tersebut bernilai sunnah karena memandang sanad hadis tersebut lemah. Umat Islam sebaiknya tetap membaca basmalah untuk meraih keutamaan dan keluar dari perbedaan pendapat.
Kesalahan kedua timbul ketika seseorang membasuh tangan hanya dari pergelangan tangan hingga ke siku. Padahal, syariat mewajibkan pembasuhan tangan dari ujung jari sampai siku sesuai firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Maidah ayat 6:
…يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِۚ
Pembasuhan telapak tangan pada awal wudhu bersifat sunnah dan tidak menggantikan kewajiban membasuh tangan hingga siku. Kondisi cuaca dingin atau pakaian tebal tidak boleh membatalkan kewajiban rukun wudhu ini.
Doa Setelah Wudhu dan Penyempurnaan Basuhan
Kesalahan ketiga adalah melewatkan bacaan doa setelah menyempurnakan wudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan delapan pintu surga bagi siapa saja yang membaca doa ini:
قال النبي ﷺ: مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوُضُوءَ ، ثُمَّ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ.
Artinya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang berwudhu lalu menyempurnakan wudhu tersebut, kemudian membaca, ‘Asyhadu allā ilāha illallāh wa anna muḥammadan ‘abdullāhi wa rasūluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya)’, kecuali akan dibuka baginya kedelapan pintu surga agar ia masuk dari pintu mana saja yang kehendaki.”
Sunan Tirmidzi mencatat lafaz tambahan doa yang disahihkan oleh Syeikh Albani, Imam Ibnul Qoyyim, serta Syeikh bin Baz:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ»»
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dari golongan orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk dari golongan orang-orang yang mensucikan diri”
Masyarakat juga bisa mengamalkan doa dari hadis Abu Sa’iid Al-Khudry yang di riwayatkan secara mauquf:
»سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ»
Artinya: “Mahasuci Engkau wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak di sembah melainkan Engkau, aku meminta ampun dan bertobat kepada-Mu”.
Kesalahan keempat mencakup ketidaksempurnaan membasuh area wajah dekat telinga, siku, atau kaki. Sebagian orang justru melampaui batas dengan mengusap leher atau membasuh anggota wudhu lebih dari tiga kali. Sikap tenang dan pemahaman fiqih yang baik akan menghindarkan diri dari berbagai kekeliruan tersebut.(ust)










Komentar