Mitos Bulan Safar Sial, Begini Penjelasan Hukum Islam

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mitos bulan Safar sebagai waktu pembawa kesialan.( ilustrasi poto: baznas.go.id)

Mitos bulan Safar sebagai waktu pembawa kesialan.( ilustrasi poto: baznas.go.id)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam kini mulai memasuki bulan Safar 1448 Hijriah setelah melewati bulan Muharram. Sebagian masyarakat masih melestarikan asumsi keliru mengenai keberadaan mitos bulan Safar sial yang konon membawa nasib buruk.

Pemerintah bersama Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan awal Safar 1448 H jatuh pada 16 Juli 2026. Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal bulan kedua dalam kalender Hijriah ini satu hari lebih cepat, yaitu 15 Juli 2026.

Makna dan Asal-usul Nama Safar

Secara kebahasaan, kata Safar berakar dari kosakata bahasa Arab yakni ṣafar (صفر). Kata tersebut merujuk pada kondisi rumah-rumah masyarakat Arab kuno yang mendadak kosong (ṣifr).

Para lelaki memilih pergi meninggalkan rumah untuk berniaga atau berperang setelah masa larangan pada bulan Muharram berakhir. Pendapat lain menyatakan nama ini menggambarkan warna kuning padang pasir yang gersang serta menipisnya cadangan makanan.

Baca Juga :  Kisah Orang Terakhir Masuk Surga dan Besarnya Rahmat Allah

Kesetaraan Bulan Safar dalam Pandangan Agama

Islam memandang Safar sebagai bulan biasa yang tidak memiliki keutamaan khusus seperti Ramadhan. Bulan ini juga tidak termasuk dalam empat bulan haram, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Meskipun demikian, kaum muslimin tidak boleh merendahkan kedudukan bulan ini sama sekali. Allah SWT menciptakan seluruh waktu sebagai ladang amal subur bagi orang-orang yang beriman.

Terkait ketetapan waktu tersebut, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا

Artinya:”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan…” (QS At-Taubah: 36).

Rasulullah SAW Menolak Keyakinan Jahiliyah

Islam datang untuk meruntuhkan seluruh keyakinan jahiliyah yang mengaitkan waktu tertentu dengan petaka. Masyarakat Arab zaman dulu selalu menghindari pernikahan, perjalanan jauh, maupun memulai usaha baru sepanjang bulan ini.

Baca Juga :  Khutbah Jumat: Kunci Syafaat Rasulullah

Rasulullah SAW kemudian meluruskan kekeliruan berfikir tersebut melalui sabdanya yang tegas:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

Artinya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR Bukhari dan Muslim).

Para ulama menjadikan hadits tersebut sebagai pijakan utama untuk menolak segala bentuk tathayyur. Umat Islam wajib meyakini bahwa segala sesuatu terjadi murni atas kehendak Allah SWT, bukan karena pengaruh bulan Safar.(ust)

Berita Terkait

Mengenal Istilah Mukharrij dalam Tradisi Ilmu Hadis
Mengenal Ilmu Rijalul Hadis untuk Menjaga Keaslian Riwayat Nabi
Mengenal Makna Rawi dalam Ilmu Hadist
Memahami Matan: Jantung Teks Hadis dan Tradisi Kitab Kuning
Memahami Sanad Hadis: Penjaga Kemurnian Ajaran Islam
Hati Terkunci Akibat Sengaja Tinggalkan Shalat Jumat
Malaikat Penatap Sangkakala Kiamat: Rahasia Kesiapan Mukmin
Panduan Lengkap Mimpi Buruk dalam Islam: Penyebab, Dalil, dan Adab Menyikapinya
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 16:52 WIB

Mengenal Istilah Mukharrij dalam Tradisi Ilmu Hadis

Selasa, 3 November 2026 - 06:01 WIB

Mengenal Ilmu Rijalul Hadis untuk Menjaga Keaslian Riwayat Nabi

Minggu, 1 November 2026 - 13:43 WIB

Mengenal Makna Rawi dalam Ilmu Hadist

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Memahami Matan: Jantung Teks Hadis dan Tradisi Kitab Kuning

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:04 WIB

Memahami Sanad Hadis: Penjaga Kemurnian Ajaran Islam

Berita Terbaru

Ilustrasi Tafsir AL-qur'an.(poto: dorlanhikmah.com).

Al-Qur'an

Tafsir Al-Baqarah Ayat 5: Kunci Meraih Keberuntungan Abadi

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:52 WIB

Wali Kota Jambi, Dr. dr. H. Maulana, hadir langsung di lokasi acara untuk menyaksikan jalannya kompetisi.(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Persaingan Sengit Final KTIQ dan KTIH MTQH Ke-55 Provinsi Jambi

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:47 WIB

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyambut langsung kedatangan seluruh ketua delegasi negara anggota pada Minggu (1/11/2026).(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Menag Ajak Negara MABIMS Bangun Peradaban Islam dari Asia Tenggara

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:43 WIB

Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said.(poto: jemabi.kemenag.go.id).

Pendidikan

Kemenag Rilis Juknis Himayatu Thalabah untuk Lindungi Santri

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:40 WIB

Arena Musabaqah Al-Hadis MTQH Ke-55 Tingkat Provinsi Jambi Tahun 2026 resmi memasuki babak puncak pada Kamis (5/11/2026).(poto: jambi.kemenag.go.id).

Berita Islam

Peserta Finalis Beradu Hafalan di Musabaqah Al-Hadis MTQH Jambi

Sabtu, 7 Nov 2026 - 05:36 WIB