Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai sosok berhati lembut yang sangat dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. Kelembutan hati serta keluhuran akhlak tersebut menjadi bukti nyata indahnya pencerahan dan perdamaian Rasulullah bagi seluruh alam semesta.
Sifat mulia sang nabi menjadi pembeda utama yang membedakannya dengan manusia biasa maupun makhluk lain di muka bumi. Beliau senantiasa menyebarkan kasih sayang kepada siapa saja sehingga publik menjulukinya sebagai pemberi pencerahan sekaligus simbol kedamaian.
Cendekiawan muslim terkemuka, Prof. Quraish Shihab, turut memberikan pandangan mendalam mengenai keagungan sang nabi melalui akun YouTube pribadinya. Mantan Menteri Agama tersebut menegaskan bahwa ulasan mengenai kemuliaan Rasulullah tidak akan pernah habis meskipun manusia membicarakannya sepanjang usia.
Keterbatasan nalar manusia membuat kita tidak mampu menjangkau seluruh dimensi keagungan yang melekat pada diri utusan Allah tersebut. Kita hanya bisa mengakui bahwa beliau merupakan sosok manusia teragung yang pernah menginjakkan kaki di permukaan bumi ini.
Teladan Tegas Penghapus Mitos
Prof. Quraish Shihab kemudian memaparkan sebuah contoh sederhana namun sangat berharga tentang esensi pencerahan dari Nabi Muhammad SAW. Peristiwa tersebut bermula saat putra beliau wafat dan pada saat bersamaan alam mengalami fenomena gerhana matahari.
Masyarakat kala itu langsung mengaitkan kejadian alam tersebut sebagai tanda duka atas kematian sang putra nabi. Meskipun berada dalam keadaan sedih dan bercucuran air mata, Rasulullah SAW langsung meluruskan kekeliruan berpikir tersebut dengan tegas.
Beliau segera bersabda demi mengedukasi umat agar terhindar dari keyakinan keliru yang tidak berdasar. Rasulullah menegaskan bahwa matahari dan bulan merupakan tanda kebesaran Allah yang bergerak teratur sesuai ketentuan-Nya.
“Matahari dan bulan adalah ayat – ayat Tuhan, tanda – tanda kuasa Tuhan, dia tidak gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang kalau kalian menemukan itu, maka bersegeralah mengingat Allah SWT, bersegeralah Shalat,” ujar Rasulullah SAW.
Langkah taktis nabi dalam menghapus takhayul tersebut sangat selaras dengan mandat kerasulan yang tertuang di dalam kitab suci. Allah SWT menegaskan status serta tugas mulia utusan-Nya tersebut melalui firman-Nya dalam Q.S Al-Ahzab ayat 45.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
Artinya: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan.
Pengorbanan Besar Demi Kedamaian
Selain aspek pencerahan, Prof. Quraish Shihab juga menjelaskan contoh konkret mengenai komitmen luar biasa sang nabi dalam mewujudkan rekonsiliasi. Sikap agung tersebut terlihat jelas ketika Nabi Muhammad SAW bersedia menghapus tujuh kata sakral pada draf Perjanjian Hudaibiyyah.
Rasulullah merelakan penghapusan kata bismi, Allahi, ar-rahman, ar-rahim, dan Muhammad, Rasul, Allahi demi meredam ketegangan dengan kaum Quraisy. Langkah diplomatik ini sempat memicu dinamika internal karena beberapa sahabat merasa keberatan dengan tuntutan sepihak kaum kafir.
Menurut satu riwayat, sahabat Ali bin Abi Thalib bahkan merasa enggan untuk menghapus tulisan yang sudah dibuatnya tersebut. Penolakan halus tersebut muncul karena rasa hormat yang sangat mendalam kepada kedudukan suci sang nabi.
Sahabat Umar bin Khattab juga sempat melayangkan protes keras karena menganggap klausul tersebut merugikan posisi umat Islam. “Kenapa kita harus menerima sesuatu yang melecehkan (agama) kita?” ujar Umar bin Khattab dengan nada heran.
Mendengar keberatan dari para sahabat dekatnya, Nabi Muhammad SAW memberikan jawaban yang sangat menenangkan sekaligus tegas. “Saya Rasulullah,” jawab beliau singkat untuk meredakan gejolak emosi yang sedang menyelimuti para pengikutnya.
Tujuh kata penting tersebut akhirnya resmi terhapus dari lembar kesepakatan demi menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu. Pengorbanan besar ini bahkan membuat nabi rela membatalkan kunjungan umrah yang sejatinya bersifat sunnah pada tahun tersebut.
Sikap mengalah tersebut menjadi strategi jitu untuk mencapai kesepakatan akhir dan menandatangani perjanjian damai jangka panjang. Fakta sejarah yang monumental ini mematahkan segala argumen keliru dari pihak-pihak yang menyudutkan ajaran Islam.
Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa tidak ada alasan apa pun bagi siapa pun untuk mengklaim Islam menolak perdamaian. Mantan rektor ini memaparkan bahwa konsep damai terbagi menjadi dua dimensi yang saling berkaitan erat.
Manusia perlu membangun keselarasan batin melalui perdamaian yang kokoh antara seseorang dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, barulah seseorang dapat mewujudkan hubungan yang harmonis dan perdamaian sejati dengan orang lain di sekitarnya.(ust)










Komentar