Quraish Shihab Ungkap Bukti Rasulullah Simbol Damai

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Umat Islam mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai sosok berhati lembut yang sangat dicintai.( ilustrasi poto : masjid ar-rahmah).

Umat Islam mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai sosok berhati lembut yang sangat dicintai.( ilustrasi poto : masjid ar-rahmah).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai sosok berhati lembut yang sangat dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. Kelembutan hati serta keluhuran akhlak tersebut menjadi bukti nyata indahnya pencerahan dan perdamaian Rasulullah bagi seluruh alam semesta.

Sifat mulia sang nabi menjadi pembeda utama yang membedakannya dengan manusia biasa maupun makhluk lain di muka bumi. Beliau senantiasa menyebarkan kasih sayang kepada siapa saja sehingga publik menjulukinya sebagai pemberi pencerahan sekaligus simbol kedamaian.

Cendekiawan muslim terkemuka, Prof. Quraish Shihab, turut memberikan pandangan mendalam mengenai keagungan sang nabi melalui akun YouTube pribadinya. Mantan Menteri Agama tersebut menegaskan bahwa ulasan mengenai kemuliaan Rasulullah tidak akan pernah habis meskipun manusia membicarakannya sepanjang usia.

Keterbatasan nalar manusia membuat kita tidak mampu menjangkau seluruh dimensi keagungan yang melekat pada diri utusan Allah tersebut. Kita hanya bisa mengakui bahwa beliau merupakan sosok manusia teragung yang pernah menginjakkan kaki di permukaan bumi ini.

Teladan Tegas Penghapus Mitos

Prof. Quraish Shihab kemudian memaparkan sebuah contoh sederhana namun sangat berharga tentang esensi pencerahan dari Nabi Muhammad SAW. Peristiwa tersebut bermula saat putra beliau wafat dan pada saat bersamaan alam mengalami fenomena gerhana matahari.

Masyarakat kala itu langsung mengaitkan kejadian alam tersebut sebagai tanda duka atas kematian sang putra nabi. Meskipun berada dalam keadaan sedih dan bercucuran air mata, Rasulullah SAW langsung meluruskan kekeliruan berpikir tersebut dengan tegas.

Baca Juga :  Kesehatan Mental dalam Islam: Sabar, Takdir, dan Ketenangan Jiwa

Beliau segera bersabda demi mengedukasi umat agar terhindar dari keyakinan keliru yang tidak berdasar. Rasulullah menegaskan bahwa matahari dan bulan merupakan tanda kebesaran Allah yang bergerak teratur sesuai ketentuan-Nya.

“Matahari dan bulan adalah ayat – ayat Tuhan, tanda – tanda kuasa Tuhan, dia tidak gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang kalau kalian menemukan itu, maka bersegeralah mengingat Allah SWT, bersegeralah Shalat,” ujar Rasulullah SAW.

Langkah taktis nabi dalam menghapus takhayul tersebut sangat selaras dengan mandat kerasulan yang tertuang di dalam kitab suci. Allah SWT menegaskan status serta tugas mulia utusan-Nya tersebut melalui firman-Nya dalam Q.S Al-Ahzab ayat 45.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Artinya: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan.

Pengorbanan Besar Demi Kedamaian

Selain aspek pencerahan, Prof. Quraish Shihab juga menjelaskan contoh konkret mengenai komitmen luar biasa sang nabi dalam mewujudkan rekonsiliasi. Sikap agung tersebut terlihat jelas ketika Nabi Muhammad SAW bersedia menghapus tujuh kata sakral pada draf Perjanjian Hudaibiyyah.

Rasulullah merelakan penghapusan kata bismi, Allahi, ar-rahman, ar-rahim, dan Muhammad, Rasul, Allahi demi meredam ketegangan dengan kaum Quraisy. Langkah diplomatik ini sempat memicu dinamika internal karena beberapa sahabat merasa keberatan dengan tuntutan sepihak kaum kafir.

Menurut satu riwayat, sahabat Ali bin Abi Thalib bahkan merasa enggan untuk menghapus tulisan yang sudah dibuatnya tersebut. Penolakan halus tersebut muncul karena rasa hormat yang sangat mendalam kepada kedudukan suci sang nabi.

Baca Juga :  Adab Memperbaiki Bacaan Imam Salat yang Keliru Menurut Ulama

Sahabat Umar bin Khattab juga sempat melayangkan protes keras karena menganggap klausul tersebut merugikan posisi umat Islam. “Kenapa kita harus menerima sesuatu yang melecehkan (agama) kita?” ujar Umar bin Khattab dengan nada heran.

Mendengar keberatan dari para sahabat dekatnya, Nabi Muhammad SAW memberikan jawaban yang sangat menenangkan sekaligus tegas. “Saya Rasulullah,” jawab beliau singkat untuk meredakan gejolak emosi yang sedang menyelimuti para pengikutnya.

Tujuh kata penting tersebut akhirnya resmi terhapus dari lembar kesepakatan demi menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu. Pengorbanan besar ini bahkan membuat nabi rela membatalkan kunjungan umrah yang sejatinya bersifat sunnah pada tahun tersebut.

Sikap mengalah tersebut menjadi strategi jitu untuk mencapai kesepakatan akhir dan menandatangani perjanjian damai jangka panjang. Fakta sejarah yang monumental ini mematahkan segala argumen keliru dari pihak-pihak yang menyudutkan ajaran Islam.

Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa tidak ada alasan apa pun bagi siapa pun untuk mengklaim Islam menolak perdamaian. Mantan rektor ini memaparkan bahwa konsep damai terbagi menjadi dua dimensi yang saling berkaitan erat.

Manusia perlu membangun keselarasan batin melalui perdamaian yang kokoh antara seseorang dengan dirinya sendiri terlebih dahulu. Setelah itu, barulah seseorang dapat mewujudkan hubungan yang harmonis dan perdamaian sejati dengan orang lain di sekitarnya.(ust)

Berita Terkait

Nasihat KH Hasyim Asy’ari tentang Menghadapi Perbedaan Pendapat Ulama
4 Tipe Manusia Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Menyikapinya
Etika Bisnis dalam Islam: Panduan Lengkap Menurut Syariat
Adab Memperbaiki Bacaan Imam Salat yang Keliru Menurut Ulama
Arti Akhlak Menurut Prof Quraish Shihab dan Hak Jalanan
Makna Berpakaian tetapi Telanjang Menurut Hadis Nabi
6 Adab Imam Sholat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali
Generasi Sandwich dalam Islam: Batas Nafkah dan Aturan Fikih
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 21:00 WIB

Nasihat KH Hasyim Asy’ari tentang Menghadapi Perbedaan Pendapat Ulama

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:00 WIB

4 Tipe Manusia Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Menyikapinya

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:00 WIB

Etika Bisnis dalam Islam: Panduan Lengkap Menurut Syariat

Sabtu, 25 Juli 2026 - 05:00 WIB

Adab Memperbaiki Bacaan Imam Salat yang Keliru Menurut Ulama

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:00 WIB

Quraish Shihab Ungkap Bukti Rasulullah Simbol Damai

Berita Terbaru

Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) MUI berkolaborasi dengan Baznas RI untuk memperkuat literasi keislaman digital AI.(poto: hidayatullah.com).

Berita Islam

MUI dan Baznas Latih Mujahid Digital Kuasai Teknologi AI

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:00 WIB