Jakarta, dorlanhikmah.com – Kitab kuning dasar pesantren menjadi pondasi utama dalam sistem pendidikan nonformal pesantren salaf untuk mengkaji ajaran Islam secara mendalam. Para santri mempelajari deretan kitab klasik tanpa harakat ini guna memahami tata bahasa Arab, fiqih, hingga akhlak.
Kini pesantren modern hingga berbagai forum seminar ilmiah juga rutin mengkaji karya para ulama abad terdahulu tersebut. Tradisi mengaji ini membuktikan bahwa khazanah kitab klasik tetap relevan dengan perkembangan zaman modern.
Untuk membaca kitab gundul, santri harus menguasai ilmu alat seperti nahwu dan balagah terlebih dahulu. Penguasaan kitab tingkat dasar menjadi pintu masuk utama sebelum santri mendalami ratusan literatur Islam lainnya.
Selain mentransfer pengetahuan agama, kitab-kitab dasar ini juga membentuk tata krama dan etika santri dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data dari Gus Dur, dunia pesantren setidaknya memelihara lebih dari 200 judul kitab klasik.
Menguasai Tata Bahasa Arab Melalui Nahwu dan Shorof
Syekh Sonhaji mengarang Kitab Al-Ajurumiyah sebagai pedoman paling dasar bagi santri yang ingin menguasai ilmu nahwu. Setelah menguasai kitab ini, santri dapat melanjutkan tingkatan belajar ke Kitab Imrithi, Mutamimah, hingga jenjang tertinggi Kitab Alfiyah.
Jika nahwu bertindak sebagai bapak ilmu, maka shorof berperan sebagai ibu yang tidak terpisahkan. Ulama asal Jombang, KH. Ma’shum ‘Aly, menyusun Kitab Amtsilah At-Tashrifiyah yang sistematis dan mudah dilagukan oleh para santri pemula.
Al-Qodhi Abu Muhammad ar-Romahurmuzi menulis Kitab Mushtholah Al-Hadits atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk menyaring hadis palsu. Sementara itu, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi menghimpun 42 matan hadis hukum dan akhlak dalam Kitab Arba’in Nawawi.
Pembentukan Akidah Fiqih dan Akhlak Mulia Santri
Al-Qodhi Abu Syuja’ merumuskan Kitab At-Taqrib sebagai acuan dasar ilmu fiqih yang melahirkan banyak kitab penjelasan seperti Fathul Qorib. Pada aspek keimanan, Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki menyusun Kitab Aqidatul Awam yang berisi 57 bait nadzom ajaran akidah.
Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji menegaskan pentingnya etika penuntut ilmu lewat Kitab Ta’limul Muta’alim agar pengetahuan santri menjadi berkah. Pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, juga memperkaya kurikulum akhlak ini melalui Kitab Adabul ‘alim wal Muta’alim.
Seluruh khazanah literatur salaf ini menjadi bukti nyata kiprah para ulama sebagai pewaris para nabi di tengah arus globalisasi. Para pengasuh pesantren terus menjaga kebudayaan mengaji ini agar eksis membimbing generasi muda Islam masa kini.(ust)










Komentar