Jombang, dorlanhikmah.com – Perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang menjadi momentum berharga untuk melakukan napak tilas sejarah perjuangan para ulama Nusantara. Kota Santri ini menyimpan rekam jejak panjang lahirnya tokoh-tokoh bangsa melalui keberadaan berbagai pesantren bersejarah yang telah berdiri hingga ratusan tahun.
Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas menjadi salah satu panggung utama perhelatan besar ini. Cikal bakal pesantren bermula dari Pondok Selawe yang didirikan oleh KH. Abdus Salam pada tahun 1838.
Nama Pondok Selawe muncul karena bangunan awal hanya menggunakan bilik anyaman bambu dengan jumlah santri sebanyak 25 orang. Kepemimpinan pesantren kemudian berlanjut kepada menantunya, Kiai Utsman dan Kiai Sa’id, sebelum akhirnya diteruskan oleh Kiai Hasbullah.
Pembaharuan besar terjadi saat Kiai Abdul Wahab Chasbullah pulang dari Mekkah pada tahun 1914 dan mengubah sistem halaqoh menjadi madrasah. Beliau mendirikan madrasah pertama bernama Mubdil Fan pada tahun 1915 serta aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Setelah Kiai Abdul Wahab wafat pada 29 Desember 1971, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Abdul Fattah yang merintis Perguruan Tinggi Al-Ma’had Al-Aly. Kepengasuhan kemudian diteruskan KH. M. Najib Abd. Wahab pada 1977 hingga berpindah ke sistem kepemimpinan kolektif sejak 1987.
Saat ini Tambakberas terkenal dengan fokus kajian ilmu fikih, syariat Islam klasik, serta pendalaman kitab kuning. Pahlawan Nasional KH. Wahab Chasbullah menjadi sosok paling ikonik yang menuntun pesantren ini menembus panggung diplomasi nasional.
Pusat Kajian Hadis dan Pelopor Kesetaraan Gender
Perjalanan sejarah Islam di Jombang terasa belum lengkap tanpa mengunjungi Pondok Pesantren Tebuireng yang terletak di bagian selatan kota. Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mendirikan Tebuireng pada 3 Agustus 1899 atau 26 Rabiul Awal 1317 Hijriah.
Pemerintah Belanda mengakui keberadaan pesantren ini secara resmi pada 6 Februari 1906. Data Pemerintah Jepang tahun 1942 mencatat seluruh santri dan ulama di Pulau Jawa yang berjumlah 25.000 orang pernah menyantri di Tebuireng.
Banyak tokoh besar bangsa lahir dari rahim Tebuireng, seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Chudori, KH. Abdul Karim, dan KH. As’ad Syamsul Arifin. Pengembangan pendidikan formal modern juga dimulai lewat pembentukan Madrasah Nizhamiyah pada tahun 1919 oleh KH. Abdul Wahid Hasyim.
Pengasuh Tebuireng saat ini, KH. Abdul Hakim Machfudz, terus merawat warisan para pendahulu dan mendirikan Tebuireng Institute For Islamic Studies. Tebuireng memegang spesialisasi kajian Hadis melalui pengajian kitab Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, serta keberadaan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.
Pesantren ini berhasil melahirkan Pahlawan Nasional seperti KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahid Hasyim, hingga Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman Wahid.
Sementara itu, Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar berdiri pada tahun 1917 di Desa Denanyar bawah prakarsa KH. Bisri Syansuri. Pesantren ini mencetak generasi muslim Ahlussunnah wal Jama’ah dengan pendekatan moderat yang menggabungkan pendidikan agama dan formal.
Denanyar mengukir sejarah emas sebagai pelopor pendirian pondok pesantren putri pertama di Indonesia pada tahun 1919. Nyai Nur Khodijah Chasbullah bersama KH. Bisri Syansuri memperjuangkan hak pendidikan yang sama bagi anak-anak perempuan.
Fokus utama Denanyar saat ini tertuju pada pendalaman kitab kuning, khususnya bidang fikih dan ushul fikih melalui Ma’had Aly Mamba’ul Ma’arif. Pemerintah kini sedang memproses usulan gelar Pahlawan Nasional untuk KH. Bisri Syansuri atas kontribusi besarnya bagi bangsa.
Perpaduan Ajaran Tasawuf dan Modernitas Pendidikan Islam
Di sisi lain, Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso berdiri atas gagasan KH. Tamim Irsyad dan KH. Cholil Bangkalan. Dua ulama ini memadukan keahlian syariat dan ilmu kanuragan dengan pengamalan tasawuf Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah.
Perkembangan sistem pendidikan Rejoso dimulai dari Madrasah Ibtidaiyyah pada 1938, Madrasah Muallimin pada 1949, hingga sekolah putri pada 1954. KH. Musta’in Romly kemudian memodernisasi pesantren dan mendirikan Universitas Darul Ulum pada tahun 1965.
Ciri khas Darul ‘Ulum terletak pada pengenalan praktik tarekat yang menghimpun ribuan jamaah sebanyak tiga kali dalam setahun. Sosok KH. Romli Tamim menjadi figur sentral sebagai pengarang kitab wirid istighosah al-Istighatsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah.
Kunjungan ke empat pesantren besar ini memberikan pemahaman utuh tentang perpaduan nilai keislaman, kebangsaan, dan kesetaraan di Indonesia.(ust)










Komentar