Kediri, dorlanhikmah.com – Madrasah Hidayatul Mubtadiin Pondok Pesantren Lirboyo menggelar praktik Tajhizul Janaiz santri secara intensif. Program tahunan ini menjadi kurikulum wajib bagi seluruh santri kelas III Aliyah.
Kegiatan edukatif ini berlangsung selama sepuluh hari berturut-turut di area pesantren. Para santri mengikuti pelatihan pemulasaraan jenazah mulai Jumat hingga Selasa depan.
Panitia membagi ribuan peserta ke dalam beberapa gelombang pelatihan malam. Setiap malam ada empat kelas yang mengikuti sesi simulasi secara bergantian.
Pengurus lalu membagi kembali tiap kelas menjadi empat kelompok kecil. Langkah ini memastikan seluruh peserta mendapatkan kesempatan praktik secara langsung dan merata.
Pembekalan Materi Fikih Pengurusan Jenazah Secara Mendalam
Setiap kelompok santri mempelajari materi penanganan jenazah secara sistematis dan terstruktur. Pembahasan mencakup tata cara mengurus jenazah laki-laki serta jenazah perempuan.
Para pembimbing juga memberikan simulasi penanganan jenazah muslim maupun non-muslim. Materi pelatihan ini mengacu pada pembahasan kitab fikih yang santri pelajari.
Sebanyak dua ribu santri meramaikan agenda wajib tahunan pesantren tersebut. Keikutsertaan dalam kegiatan ini menjadi syarat penting penilaian kenaikan tingkat santri.
Pengurus pesantren merancang program ini guna meningkatkan kompetensi praktis para santri. Santri tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mahir menerapkan syariat.
Simulasi Rangkaian Pemulasaraan Hingga Prosesi Pemakaman Jenazah
Sebelum masuk sesi praktik, para santri mengikuti seminar fikih bersama pakar. Pemateri menyampaikan pengetahuan mendasar mengenai aturan penyelenggaraan jenazah secara runtut.
Setelah mendapatkan bekal teori, peserta langsung memeragakan seluruh tahapan pemulasaraan jenazah. Kegiatan berawal dari simulasi penanganan orang yang menghadapi fase sakaratul maut.
Para santri kemudian mempraktikkan teknik menjaga kelenturan fisik jenazah yang baru wafat. Selanjutnya, peserta melakukan simulasi memandikan jenazah dengan menjaga adab serta etika.
Santri membentuk lingkaran rapat sambil memegang kain penutup selama prosesi pemandian. Langkah ini menjaga agar prosesi pemandian tidak terlihat dari luar.
Pelaksanaan Praktik Mengafani Menyalatkan Hingga Prosesi Talqin
Peserta melantunkan doa-doa khusus selama proses pemandian jenazah berlangsung khidmat. Tahapan berikutnya memasuki proses mengafani jenazah sesuai dengan petunjuk fikih.
Santri membungkus jenazah laki-laki menggunakan tiga helai kain kafan putih bersih. Sementara itu, jenazah perempuan dibungkus memakai lima helai kain kafan.
Setelah proses mengafani selesai, seluruh peserta melaksanakan simulasi salat jenazah bersama. Santri kemudian melanjutkan prosesi pemberangkatan jenazah menuju lokasi pemakaman khusus.
Seorang santri bertindak sebagai tokoh masyarakat untuk memberikan persaksian kebaikan jenazah. Panitia menyiapkan empat liang kubur yang terdiri dari liang lahad dan syaq.
Proses pemakaman berlangsung secara simbolis menggunakan penutup tripleks sebagai pengganti tanah. Rangkaian kegiatan berakhir dengan praktik pembacaan talqin oleh santri pilihan di kubur.
para mustahiq mendampingi dan mengawasi jalannya praktik dari awal hingga akhir. Para pengajar memberikan arahan serta mengoreksi setiap kekeliruan santri secara langsung.(ust)










Komentar