Jakarta, dorlanhikmah.com – Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat penanganan gempa NTT Sulteng Sumut setelah bencana mengguncang sejumlah wilayah Indonesia. Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta jajarannya segera menyusun data kerusakan secara lengkap dan akurat.
Nasaruddin menyampaikan arahan tersebut dalam pertemuan hybrid bersama jajaran Kemenag pusat dan daerah. Pertemuan berlangsung dalam agenda breakfast meeting yang melibatkan pejabat Eselon I, II, III, dan IV.
Sejumlah pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, serta Kepala Kankemenag Kabupaten/Kota turut mengikuti pertemuan tersebut.
Pendataan Kerusakan Jadi Prioritas Kemenag
Dalam rapat itu, Nasaruddin meminta jajarannya berkonsentrasi menangani dampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tengah (Sulteng), dan Sumatera Utara (Sumut).
Ia menilai Kemenag membutuhkan data yang valid, lengkap, dan menyeluruh sebelum menentukan kebutuhan penanganan. Karena itu, jajaran di daerah harus mendata seluruh satuan kerja yang terdampak.
Pendataan tersebut mencakup berbagai fasilitas yang berkaitan dengan layanan keagamaan dan pendidikan. Kemenag tidak hanya memeriksa kondisi gedung kantor, tetapi juga rumah ibadah, madrasah, sekolah keagamaan, Kantor Urusan Agama (KUA), dan pondok pesantren.
Selain lokasi yang terdampak, petugas juga harus mengelompokkan kerusakan berdasarkan tingkat keparahannya. Kemenag membaginya menjadi rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat.
Nasaruddin juga meminta jajarannya mencatat kerusakan pada perabot atau mebel. Menurut dia, meja, kursi, dan papan tulis madrasah juga bisa mengalami kerusakan akibat gempa.
“Mungkin pendataan kita itu harus lengkap juga. Jadi bukan hanya kita bicara tentang gedung, tetapi termasuk mebelairnya. Kan rata-rata mereka itu juga mebelairnya rusak gitu misalnya, seperti meja, kursi dan papan tulis madrasah yang hancur,” kata Nasaruddin, dikutip dari laman resmi Kemenag, Selasa (18/8/2026).
Kemenag Siapkan Langkah Pencegahan Karhutla
Selain dampak gempa, pertemuan tersebut membahas ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Kemenag menilai pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat upaya pencegahan agar kebakaran tidak meluas.
Nasaruddin menyoroti dampak asap Karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, ia mendorong jajarannya meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya kebakaran hutan dan lahan.
Kemenag juga membahas tindak lanjut berupa Surat Edaran kepada jajaran di daerah. Selanjutnya, jajaran tersebut dapat meneruskan pesan pencegahan Karhutla hingga ke madrasah dan KUA.
Menurut Nasaruddin, pendekatan keagamaan dapat membantu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Upaya itu juga sejalan dengan salah satu program prioritas Kemenag, yakni ekoteologi.
“Oleh karenanya, surat edaran ini, sesegera mungkin dilakukan bahwa peran kepentingan agama juga sangat penting di dalam rangka pencegahan kebakaran,” ujar Nasaruddin.
Menag Ingatkan Bahaya Membakar Sampah
Nasaruddin juga menyoroti kebiasaan masyarakat membakar sampah. Ia meminta masyarakat menghentikan kebiasaan tersebut karena api dapat memicu kebakaran yang lebih luas.
Selain itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kebiasaan tersebut dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan.
“Jadi kita sampaikan kepada masyarakat kita jangan lagi ada pembakaran sampah, itu kan secara tradisional masyarakat kita itu membakar sampah. Mau membuka lahan itu dengan membakar lahan, kita sampaikan kepada mereka itu bahwa itu dosa,” pungkasnya.
Melalui pendataan yang lebih menyeluruh, Kemenag ingin mengetahui secara jelas kondisi fasilitas yang terdampak gempa di tiga wilayah tersebut. Di sisi lain, kementerian juga mendorong jajaran daerah menggunakan pendekatan keagamaan untuk memperkuat pencegahan Karhutla.(ust)










Komentar