5 Sifat Haji Mabrur dalam Islam yang Wajib Dipahami

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 3 Juni 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi ibadah haji ( poto :  detiknews)

Ilustrasi ibadah haji ( poto : detiknews)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Haji mabrur dalam Islam menjadi tujuan utama setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji karena haji mabrur dalam Islam menjanjikan balasan surga dari Allah SWT.

Oleh karena itu, setiap jamaah harus memahami bahwa Allah tidak hanya menilai haji dari aspek ritual semata, tetapi juga dari niat, akhlak, serta cara seseorang menjalankan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Pada dasarnya, umat Islam di seluruh dunia selalu mendambakan haji mabrur karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa haji mabrur memiliki balasan yang sangat tinggi.

Dengan demikian, ibadah ini tidak hanya mengandalkan perjalanan fisik ke Makkah, melainkan juga menuntut kesempurnaan hati serta perilaku yang baik.

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda melalui riwayat Abu Hurairah:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Umrah ke umrah menjadi penghapus dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak mendapat balasan kecuali surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa Allah SWT menempatkan haji mabrur pada derajat yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, para ulama kemudian menjelaskan bahwa seorang Muslim harus memenuhi sejumlah sifat agar ia dapat meraih predikat tersebut.

Lebih lanjut, Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab At-Tamhid menegaskan bahwa seorang jamaah haji harus menjaga diri dari riya, sum’ah, perkataan kotor, serta perbuatan maksiat. Selain itu, ia juga harus membiayai ibadah dengan harta yang halal. Dengan demikian, penjelasan ini memperkuat bahwa kualitas batin sangat menentukan nilai haji seseorang.

Baca Juga :  Jangan Pernah Melupakan Kebaikan Orang Lain, Teladan Mulia dari Rasulullah

LIMA SIFAT HAJI MABRUR DALAM ISLAM

1. Menjaga Keikhlasan dalam Niat

Pertama-tama, jamaah haji harus memulai seluruh perjalanan dengan niat yang bersih hanya untuk Allah SWT. Selain itu, ia juga harus menghapus keinginan mendapatkan pujian manusia atau sekadar gelar sosial.

Dengan demikian, keikhlasan membuat setiap langkah ibadah bernilai tinggi. Sebaliknya, tanpa keikhlasan, seseorang hanya memperoleh kelelahan fisik tanpa nilai pahala yang maksimal.

Oleh karena itu, jamaah harus terus mengoreksi niatnya sejak berangkat hingga kembali ke tanah air.

2. Menggunakan Harta yang Halal

Selanjutnya, seorang Muslim harus memastikan bahwa seluruh biaya haji berasal dari sumber yang halal. Karena itu, Allah SWT hanya menerima ibadah yang bersumber dari rezeki yang bersih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa harta haram dapat mengurangi bahkan menghilangkan keberkahan ibadah. Oleh sebab itu, jamaah harus benar-benar memastikan sumber penghasilannya halal.

3. Menjaga Lisan dan Menjauhi Maksiat

Di sisi lain, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Baca Juga :  Keutamaan Wudhu dalam Islam: Cahaya, Penghapus Dosa, dan Jalan Menuju Surga

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui. Maka siapa yang menunaikan haji, ia tidak boleh berkata kotor, tidak berbuat fasik, dan tidak bertengkar dalam haji.”
(QS. Al-Baqarah: 197)

Dengan demikian, ayat ini mengajarkan jamaah untuk mengontrol lisan, emosi, dan tindakan selama ibadah berlangsung. Selain itu, dalam kondisi padat di Tanah Suci, jamaah sering menghadapi tantangan besar seperti antrean panjang dan cuaca panas.

Oleh karena itu, jamaah harus menahan diri dari pertengkaran serta ucapan kasar agar ibadah tetap bernilai.

4. Menunjukkan Akhlak Mulia dan Rendah Hati

Selain itu, akhlak mulia menjadi tanda utama haji yang diterima. Jamaah harus memperlihatkan sikap sabar, lemah lembut, serta tawadhu dalam setiap keadaan.

Di samping itu, ia harus menghormati sesama jamaah tanpa memandang negara, bahasa, maupun status sosial. Dengan demikian, semua manusia berdiri sama di hadapan Allah SWT.

Oleh sebab itu, setiap jamaah harus mengutamakan kesabaran karena situasi haji sering menguji emosi dan mental.

5. Mengagungkan Syiar Allah dalam Setiap Ibadah

Terakhir, jamaah haji harus mengagungkan syiar Allah dalam seluruh rangkaian ibadah. Ia harus memperbanyak dzikir seperti takbir, tahmid, tasbih, dan istighfar sepanjang waktu.

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan menjaga ketenangan serta kekhusyukan dalam setiap rangkaian haji. Dengan demikian, ibadah haji menjadi perjalanan spiritual yang penuh makna.(ust)

Berita Terkait

Hukum Memfoto Orang Diam-Diam Tanpa Izin dalam Islam
Penutupan Hati dalam Islam: Dosa, Maksiat, dan Peringatan
Shalat Jumat Bisa Tidak Sah? Ini Syarat dan Rukunnya
Hukum Muzara’ah dan Mukhabarah dalam Menggarap Tanah
Utang Si Mayit Harus Dilunasi Sebelum Warisan Dibagi
Ahli Waris dalam Ilmu Faraid: Jenis, Bagian, dan Hukum Warisan Islam
Hukum Warisan Anak Sepersusuan dalam Islam
Tanda Baligh dalam Islam: Usia, Biologis, dan Tanggung Jawab Syariat
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 23:00 WIB

Hukum Memfoto Orang Diam-Diam Tanpa Izin dalam Islam

Jumat, 5 Juni 2026 - 19:00 WIB

Penutupan Hati dalam Islam: Dosa, Maksiat, dan Peringatan

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:00 WIB

Shalat Jumat Bisa Tidak Sah? Ini Syarat dan Rukunnya

Jumat, 5 Juni 2026 - 09:00 WIB

Hukum Muzara’ah dan Mukhabarah dalam Menggarap Tanah

Jumat, 5 Juni 2026 - 05:00 WIB

Utang Si Mayit Harus Dilunasi Sebelum Warisan Dibagi

Berita Terbaru

Ilustrasi Seorang Fotografer dengan membawa peralatan kamera( poto : kompas edukasi )

Fiqih

Hukum Memfoto Orang Diam-Diam Tanpa Izin dalam Islam

Jumat, 5 Jun 2026 - 23:00 WIB

Al-Qur'an

QS Ghafir 3: Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Jumat, 5 Jun 2026 - 21:00 WIB