Tata Cara Lontar Jumroh dalam Ibadah Haji Lengkap

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Temapat melontar Jumrah di Mina ( Poto : muidigital ).

Temapat melontar Jumrah di Mina ( Poto : muidigital ).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Lontar jumroh ibadah haji menjadi salah satu rangkaian wajib yang harus dipahami dan dilaksanakan jamaah saat berada di Mina. Dalam praktiknya, lontar jumroh ibadah haji dilakukan dengan melempar kerikil ke tiga titik jumroh sebagai simbol ketaatan kepada Allah SWT dan penolakan terhadap godaan setan.

Jamaah wajib menjalankan ibadah ini sesuai waktu dan aturan agar haji tetap sah dan sempurna.

Pengertian dan Kedudukan Lontar Jumroh

Jamaah haji melaksanakan lontar jumroh sebagai bagian dari rangkaian manasik yang wajib di Mina. Ibadah ini menuntut jamaah melempar kerikil ke tiga lokasi, yaitu jumroh sughra, wustha, dan aqabah.

Ulama fikih menegaskan bahwa jamaah tidak boleh meninggalkan amalan ini tanpa uzur syar’i. Jika jamaah sengaja meninggalkannya, maka ia wajib mengganti dengan dam sebagai bentuk tanggung jawab ibadah.

Kewajiban ini menunjukkan bahwa ibadah haji tidak hanya menuntut niat, tetapi juga kepatuhan penuh terhadap aturan yang telah ditetapkan dalam syariat Islam.

Waktu Pelaksanaan Lontar Jumroh

Jamaah melaksanakan lontar jumroh dalam dua fase utama. Pertama, jamaah melempar jumroh aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah Idul Adha. Jamaah menggunakan tujuh butir kerikil pada tahap ini.

Kedua, jamaah melanjutkan lontaran pada hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari ini, jamaah melempar tiga jumroh secara berurutan: sughra, wustha, lalu aqabah.

Setiap jumroh mendapatkan tujuh lemparan, sehingga jamaah bisa melakukan hingga 21 lemparan per hari. Jamaah melaksanakan seluruh rangkaian ini setelah waktu zuhur sesuai tuntunan ulama.

Tata Cara Lontar Jumroh yang Benar

Jamaah memulai lontar jumroh dengan mengambil tujuh kerikil kecil yang bersih. Biasanya jamaah sudah mengumpulkan kerikil tersebut sejak berada di Muzdalifah.

Setelah itu, jamaah berdiri menghadap jumroh dan melempar satu per satu kerikil ke dalam area sasaran. Jamaah menjaga niat agar setiap lemparan hanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Baca Juga :  5 Sifat Haji Mabrur dalam Islam yang Wajib Dipahami

Jamaah juga mengucapkan takbir setiap kali melempar kerikil. Amalan ini memperkuat makna spiritual dalam setiap lemparan yang dilakukan.

Jika jamaah meninggalkan sebagian lemparan pada satu hari, ia dapat menggantinya pada hari Tasyriq berikutnya. Namun jika jamaah tidak menyelesaikannya hingga akhir waktu, ia wajib membayar dam.

Penjelasan Ulama tentang Lontar Jumroh

Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in bahwa jamaah melaksanakan jumroh aqabah setelah pertengahan malam hari Nahr. Jamaah melempar tujuh kali lemparan pada tahap ini.

Beliau juga menegaskan bahwa jamaah melaksanakan tiga jumroh pada hari Tasyriq setelah waktu zuhur. Setiap jumroh mendapatkan tujuh lemparan secara berurutan.

Teks klasik tersebut menyebutkan:

وَرَمْيٌ إِلَى جَمْرَةِ الْعَقَبَةِ بَعْدَ انْتِصَافِ لَيْلَةِ النَّحْرِ سَبْعًا، وَإِلَى الْجَمَرَاتِ الثَّلَاثِ بَعْدَ زَوَالِ كُلِّ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ سَبْعًا سَبْعًا…

Penjelasan ini menegaskan bahwa jamaah tetap bisa mengganti lemparan yang tertinggal pada hari-hari berikutnya selama waktu Tasyriq masih berlangsung.

Kesunnahan dalam Lontar Jumroh

Jamaah tidak hanya menjalankan kewajiban, tetapi juga bisa meningkatkan nilai ibadah dengan mengikuti sunnah yang dianjurkan ulama.

Jamaah memulai lontaran dari jumroh aqabah terlebih dahulu dengan tujuh kerikil. Setelah itu, jamaah melanjutkan sesuai urutan pada hari Tasyriq.

Setiap kali melempar, jamaah membaca takbir dan doa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا، وَذَنْبًا مَغْفُورًا، وَسَعْيًا مَشْكُورًا

“Ya Allah, jadikanlah haji ini sebagai haji yang mabrur, dosa yang diampuni, dan usaha yang diterima.”

Jamaah juga menjaga adab seperti tidak berdesakan, tidak mengganggu jamaah lain, dan tetap tenang saat melontar.

Adab dan Etika Saat Melontar

Jamaah menjaga ketertiban saat berada di area jumroh. Mereka tidak saling mendorong dan tetap mengikuti arahan petugas agar ibadah berjalan lancar.

Baca Juga :  Memahami Mazhab Fiqih dan Batas Ijtihad Menurut Imam Qarafi

Jamaah juga menghadap kiblat ketika melontar dan menjaga kekhusyukan selama proses berlangsung. Jamaah laki-laki mengangkat tangan saat melempar sebagai bagian dari sunnah.

Dalam kondisi padat, jamaah boleh naik ke lantai atas area jumroh untuk menghindari risiko berdesakan.

Jamaah juga menghentikan bacaan talbiyah saat mulai melontar jumroh aqabah sebagai tanda masuk ke rangkaian ibadah berikutnya.

Hikmah Lontar Jumroh

Lontar jumroh mengajarkan jamaah untuk melawan godaan setan dan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kerikil yang dilempar menjadi simbol penolakan terhadap keburukan.

Jamaah juga meneladani kisah Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Siti Hajar yang menolak godaan iblis dengan penuh keimanan.

Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi menjelaskan dalam kitab Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu:

رَمْيُ الْجَمَرَاتِ لَهُ حِكْمَةٌ عَظِيمَةٌ، وَيُقْصَدُ بِهِ رَجْمُ إِبْلِيسَ لَعَنَهُ اللَّهُ…

Makna ini menegaskan bahwa jamaah tidak hanya melakukan ritual fisik, tetapi juga membersihkan jiwa dari pengaruh buruk.

Nilai Spiritual Lontar Jumroh

Jamaah menjalankan lontar jumroh sebagai latihan disiplin dan ketaatan. Mereka belajar mengikuti aturan tanpa melanggar ketentuan waktu dan tata cara.

Setiap lemparan juga melatih kesabaran karena jamaah harus menghadapi kondisi padat dan antrean panjang di Mina.

Ibadah ini membentuk karakter jamaah agar lebih kuat secara spiritual setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.

Penutup

Lontar jumroh ibadah haji bukan sekadar ritual melempar kerikil, tetapi ibadah yang mengandung aturan, sunnah, dan hikmah mendalam. Jamaah harus memahami tata cara pelaksanaannya agar ibadah berjalan sah dan sempurna.

Dengan memahami setiap tahapannya, jamaah dapat menjalankan haji dengan lebih tertib, khusyuk, dan bermakna. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah jamaah haji dan memberikan predikat haji mabrur.(ust)

Berita Terkait

Menjawab Syubhat Taklid Buta dan Kewajiban Kembali ke Dalil
Nasihat Sabar di Tengah Krisis Ekonomi dan Konteksnya
Makna Zihar dalam Pernikahan yang Wajib Dipahami Suami
Bahaya Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Sunnah
Jumlah Malaikat Tidak Terhitung, Benarkah Hanya Sepuluh?
Penegak Hukum dalam Islam: Amanah, Keadilan, dan Ancaman
Bahaya Bid’ah dalam Islam Menurut Hadis dan Ulama
Khotbah Jumat: Waktu, Rukun, dan Syarat yang Perlu Dipahami (Bag.1)
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 13:00 WIB

Nasihat Sabar di Tengah Krisis Ekonomi dan Konteksnya

Senin, 8 Juni 2026 - 11:00 WIB

Makna Zihar dalam Pernikahan yang Wajib Dipahami Suami

Minggu, 7 Juni 2026 - 19:00 WIB

Bahaya Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Sunnah

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:00 WIB

Jumlah Malaikat Tidak Terhitung, Benarkah Hanya Sepuluh?

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:00 WIB

Penegak Hukum dalam Islam: Amanah, Keadilan, dan Ancaman

Berita Terbaru

Metode berpikir logis untuk membangun kesimpulan yang benar di tengah derasnya opini media sosial menurut Imam Al-gazali( ilustrasi poto : surau.co )

Sejarah

Tiga Metode Berpikir Imam Al-Ghazali di Era Media Sosial

Rabu, 10 Jun 2026 - 11:00 WIB

Asal usul Bulan Hijriyah( poto : madaninews.id )

Sejarah

Asal Usul Nama Bulan Hijriah dari Tradisi Arab Kuno

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:00 WIB

Delapan amalan yang mengundang do'a para Malaikat( poto :chatGPT ).

Al-Qur'an

8 Amalan yang Mengundang Doa Para Malaikat

Rabu, 10 Jun 2026 - 07:00 WIB

Al-Qur'an( poto : islami.co )

Al-Qur'an

Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi

Rabu, 10 Jun 2026 - 05:22 WIB