Mabit di Muzdalifah: Makna, Doa, dan Dalil Haji

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 24 Mei 2026 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jamaah Hjai sedang melaksanakan mabid di Muzdalifah ( poto : istimewa )

Jamaah Hjai sedang melaksanakan mabid di Muzdalifah ( poto : istimewa )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Mabit di Muzdalifah menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji setelah wukuf di Arafah. Jamaah haji bergerak menuju Muzdalifah untuk bermalam, mengumpulkan batu kerikil untuk jumrah, serta memperbanyak dzikir dan doa. Pada fase ini, jamaah memasuki momen spiritual yang sarat makna dan penghambaan kepada Allah.

Muzdalifah, Titik Penting Setelah Arafah

Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah, jamaah haji tidak langsung menuju Mina. Mereka lebih dulu singgah di Muzdalifah. Di tempat inilah jamaah melakukan Mabit di Muzdalifah, yakni bermalam atau singgah sejenak sesuai ketentuan syariat.

Sebagian ulama juga membolehkan skema murur, yaitu hanya melintasi Muzdalifah tanpa bermalam lama. Hal ini tetap dianggap sah selama jamaah sudah melewati kawasan tersebut pada waktu yang ditentukan.

Muzdalifah tidak hanya menjadi tempat transit. Allah menjadikannya bagian dari Masy’aril Haram, wilayah suci yang memiliki keutamaan besar dalam rangkaian ibadah haji.

Dalil Al-Qur’an tentang Muzdalifah

Allah SWT menyebutkan perintah dzikir di Muzdalifah dalam Al-Qur’an:

فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ

Artinya:
“Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram.” (QS. Al-Baqarah: 198)

Ayat ini menegaskan bahwa Muzdalifah bukan sekadar tempat singgah. Allah memerintahkan jamaah haji untuk mengisi waktu di sana dengan dzikir, doa, dan penghambaan penuh.

Makna Nama Muzdalifah

Secara bahasa, Muzdalifah berasal dari kata al-izdilaf yang berarti berkumpul. Makna ini menggambarkan fungsi tempat tersebut sebagai lokasi berkumpulnya jamaah haji setelah Arafah.

Sebagian ulama dan riwayat juga menyebutkan bahwa Muzdalifah menjadi tempat pertemuan kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah diturunkan ke bumi. Walaupun riwayat ini tidak menjadi dalil utama, makna filosofisnya memperkuat nilai spiritual tempat tersebut.

Muzdalifah juga dikenal sebagai tempat jamaah mengumpulkan batu kerikil untuk lempar jumrah di Mina. Aktivitas ini dilakukan sambil memperbanyak doa dan istighfar.

Mabit dan Skema Murur di Muzdalifah

Para ulama menjelaskan bahwa Mabit di Muzdalifah dilakukan pada malam 10 Dzulhijjah. Jamaah haji bermalam di area tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina.

Baca Juga :  Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Beserta Niat Lengkap

Namun, dalam kondisi tertentu, sebagian jamaah diperbolehkan melakukan murur. Mereka hanya melintas tanpa bermalam penuh. Hal ini biasanya diterapkan untuk mengurangi kepadatan jamaah.

Meski begitu, inti dari mabit tetap sama, yaitu menghidupkan waktu di Muzdalifah dengan dzikir dan doa. Jamaah tidak dianjurkan menggunakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat.

Muzdalifah sebagai Tempat Dzikir

Allah memerintahkan umat Islam untuk memperbanyak dzikir di Masy’aril Haram. Karena itu, Muzdalifah menjadi ruang ibadah yang penuh ketenangan setelah puncak wukuf di Arafah.

Jamaah haji memanfaatkan malam tersebut untuk merenung, beristighfar, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah. Suasana sederhana di alam terbuka justru memperkuat rasa tawadhu seorang hamba.

Ibadah di Muzdalifah tidak menuntut aktivitas fisik yang berat. Fokus utama adalah ketenangan hati dan kekhusyukan doa.

Doa yang Dianjurkan di Muzdalifah

Para ulama menyebutkan doa yang sangat dianjurkan dibaca di Muzdalifah, yaitu doa dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Doa ini mencakup seluruh kebutuhan manusia. Para mufassir menjelaskan bahwa hasanah di dunia mencakup rezeki halal, ilmu bermanfaat, kesehatan, dan keluarga saleh. Sementara hasanah di akhirat mencakup ampunan Allah, keselamatan hisab, dan surga.

Doa ini menjadi inti permohonan yang menyatukan kebutuhan dunia dan akhirat dalam satu kalimat singkat namun penuh makna.

Tradisi Doa di Masa Jahiliyah

Imam Thabrani dalam kitab Ad-Du’a menjelaskan bahwa masyarakat Arab pada masa Jahiliyah juga berdoa di Masy’aril Haram.

Namun, doa mereka hanya berfokus pada urusan dunia, seperti meminta unta, kambing, dan harta. Mereka tidak menyertakan permohonan akhirat dalam doa mereka.

Allah kemudian menurunkan ayat yang mengoreksi pola tersebut, agar manusia tidak hanya mengejar dunia semata.

Riwayat tersebut berbunyi:

وَكَانَ النَّاسُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وَقَفُوا عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ دَعَوْا، فَقَالَ أَحَدُهُمُ: اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي إِبِلًا، اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي غَنَمًا…

Baca Juga :  Penguasa Zalim dalam Islam, Salah Siapa Sebenarnya?

Riwayat ini menegaskan pentingnya keseimbangan doa antara dunia dan akhirat.

Dzikir Rasulullah di Hari Nahr

Dalam riwayat Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW membaca doa berikut:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ فَاكْفِنِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Artinya:
“Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus seluruh makhluk, tidak ada Tuhan selain Engkau. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Cukupkanlah seluruh urusanku, dan jangan serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani.

Doa ini menunjukkan betapa Rasulullah SAW tetap bergantung penuh kepada Allah dalam setiap keadaan.

Pandangan Ulama Klasik

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa ibadah haji bukan sekadar rangkaian fisik. Ia menilai bahwa setiap tempat dalam haji, termasuk Muzdalifah, menjadi sarana pembersihan hati.

Al-Ghazali menekankan bahwa jamaah harus meninggalkan kesibukan dunia saat berada di Muzdalifah. Fokus utama adalah menghadirkan hati dalam dzikir dan doa.

Pandangan ini memperkuat bahwa Mabit di Muzdalifah memiliki dimensi spiritual yang sangat dalam.

Hikmah Mabit di Muzdalifah

Mabit di Muzdalifah mengajarkan kesederhanaan. Jamaah tidur di alam terbuka tanpa kemewahan.

Kondisi ini melatih kerendahan hati dan kesetaraan. Semua jamaah, tanpa melihat status sosial, berada dalam kondisi yang sama di hadapan Allah.

Selain itu, jamaah juga belajar mengendalikan diri setelah puncak ibadah di Arafah. Mereka tidak langsung kembali ke aktivitas dunia, tetapi menenangkan diri terlebih dahulu.

Penutup

Mabit di Muzdalifah menjadi salah satu fase penting dalam ibadah haji yang penuh makna spiritual. Jamaah tidak hanya singgah secara fisik, tetapi juga memperkuat hubungan dengan Allah melalui dzikir dan doa.

Muzdalifah mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Jamaah haji belajar bahwa setiap doa harus mencakup kebaikan hidup di dunia sekaligus keselamatan di akhirat.

Dengan memahami makna ini, ibadah haji tidak hanya menjadi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah SWT.(ust)

Berita Terkait

Menjawab Syubhat Taklid Buta dan Kewajiban Kembali ke Dalil
Nasihat Sabar di Tengah Krisis Ekonomi dan Konteksnya
Makna Zihar dalam Pernikahan yang Wajib Dipahami Suami
Bahaya Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Sunnah
Jumlah Malaikat Tidak Terhitung, Benarkah Hanya Sepuluh?
Penegak Hukum dalam Islam: Amanah, Keadilan, dan Ancaman
Bahaya Bid’ah dalam Islam Menurut Hadis dan Ulama
Khotbah Jumat: Waktu, Rukun, dan Syarat yang Perlu Dipahami (Bag.1)
Berita ini 17 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 13:00 WIB

Nasihat Sabar di Tengah Krisis Ekonomi dan Konteksnya

Senin, 8 Juni 2026 - 11:00 WIB

Makna Zihar dalam Pernikahan yang Wajib Dipahami Suami

Minggu, 7 Juni 2026 - 19:00 WIB

Bahaya Lalai dalam Amal Ketaatan dan Meremehkan Sunnah

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:00 WIB

Jumlah Malaikat Tidak Terhitung, Benarkah Hanya Sepuluh?

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:00 WIB

Penegak Hukum dalam Islam: Amanah, Keadilan, dan Ancaman

Berita Terbaru

Metode berpikir logis untuk membangun kesimpulan yang benar di tengah derasnya opini media sosial menurut Imam Al-gazali( ilustrasi poto : surau.co )

Sejarah

Tiga Metode Berpikir Imam Al-Ghazali di Era Media Sosial

Rabu, 10 Jun 2026 - 11:00 WIB

Asal usul Bulan Hijriyah( poto : madaninews.id )

Sejarah

Asal Usul Nama Bulan Hijriah dari Tradisi Arab Kuno

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:00 WIB

Delapan amalan yang mengundang do'a para Malaikat( poto :chatGPT ).

Al-Qur'an

8 Amalan yang Mengundang Doa Para Malaikat

Rabu, 10 Jun 2026 - 07:00 WIB

Al-Qur'an( poto : islami.co )

Al-Qur'an

Bergembira dengan Al-Qur’an, Karunia yang Tak Tertandingi

Rabu, 10 Jun 2026 - 05:22 WIB