Jakarta, Dorlanhikmah.com – Kader perempuan Nahdlatul Ulama menaruh harapan besar terhadap jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031. Mereka secara terbuka menyuarakan aspirasi penguatan kaderisasi ranting Muslimat Fatayat saat pengukuhan pengurus baru berlangsung di Pondok Pesantren Al-Hamid Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).
Struktur badan otonom di tingkat akar rumput menginginkan kepengurusan baru ini menghadirkan perubahan nyata. Pembinaan organisasi serta program kerja strategis semestinya tidak hanya berputar di jajaran pusat, melainkan mengalir lancar hingga ke level ranting desa dan kelurahan.
Pemberdayaan ekonomi, pemerataan fasilitas pendidikan, serta pendampingan kapasitas kader menjadi poin utama yang mereka titipkan. Seluruh pengurus wilayah bawah membutuhkan dukungan konkret agar roda organisasi terus berputar aktif melayani masyarakat sekitar.
Penguatan Pembinaan Badan Otonom Tingkat Bawah
Pengurus Cabang Muslimat NU Jakarta Timur, Ria, menegaskan bahwa para pemimpin PBNU mesti menjadi teladan utama bagi seluruh warga nahdliyin. Keteladanan tersebut mencakup kedisiplinan mengelola waktu, kejernihan visi, dan kesungguhan mengayomi umat tanpa sekat birokrasi.
Ria menyoroti kenyataan lapangan bahwa pengurus ranting dan cabang kerap menjalankan agenda keumatan secara swadaya. Kader daerah bahkan sering urunan dana kas mandiri demi menopang kegiatan struktural tingkat atas.
Oleh karena itu, Ria mendorong PBNU membagi perhatian secara adil kepada seluruh badan otonom di daerah. Pengurus tingkat anak cabang berhak merasakan kucuran program serta fasilitas pembinaan yang serupa demi mewujudkan kemajuan organisasi secara serempak.
Perluasan Akses Edukasi dan Kemandirian Kader
Sekretaris Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Cipayung, Endang Setyaningsih, menyuarakan desakan serupa mengenai peningkatan wawasan intelektual kader muda. Ia menuntut PBNU membuka ruang belajar seluas mungkin agar anggota Fatayat di pelosok dapat mengasah keterampilan hidup dan kepemimpinan.
Endang mengusulkan pemanfaatan media digital secara agresif untuk menyebarkan modul pelatihan dan materi dakwah modern. Pendekatan digital ini memangkas jarak geografis, sehingga kader ranting langsung menerima ilmu terkini tanpa kendala perjalanan fisik.
Selain literasi digital, penguatan ekonomi mandiri menjadi kebutuhan mendesak bagi kader perempuan NU saat ini. Endang mengingatkan bahwa beban biaya administrasi tidak boleh memadamkan semangat kader daerah yang ingin menempuh pendidikan atau kursus keahlian resmi organisasi.
Seluruh jajaran PBNU kini memikul pekerjaan rumah besar untuk menerjemahkan aspirasi kader akar rumput menjadi kebijakan konkret. Pendampingan berkelanjutan dari pusat akan memastikan Muslimat dan Fatayat tetap menjadi benteng ketahanan sosial umat yang tangguh.(ar)










Komentar