Jakarta, Dorlanhikmah.com – Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar meminta seluruh pengurus Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031 menepikan urusan pribadi saat mengelola jamiyah. Pesan tegas tersebut meluncur langsung saat ia memimpin prosesi baiat pengurus baru di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).
Langkah pengabdian lima tahun ke depan ini menandai fase awal abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama. Kiai Miftach mengingatkan para pengurus agar selalu berpijak teguh pada nilai luhur Qanun Asasi.
Prinsip welas asih, persatuan, dan rasa kasih sayang harus memandu setiap keputusan organisasi. Sikap mendahulukan umat ketimbang keuntungan personal menjadi harga mati bagi keberhasilan kerja kepengurusan periode baru ini.
Tantangan Ruang Digital dan Polarisasi Publik
Kiai Miftach menyoroti dinamika dunia maya yang kini berkembang begitu cepat tanpa jeda. Kanal digital kerap menggiring publik melontarkan komentar liar tanpa landasan data yang valid maupun rujukan ilmu yang sahih.
Situasi tersebut membuat batas antara kebenaran dan kekeliruan kian kabur di mata masyarakat awam. Akibatnya, banyak warga terjebak opini sesat serta mudah tersulut konflik horizontal.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini meminta pengurus tidak menghabiskan energi untuk membalas kegaduhan maya. PBNU wajib tampil menghadirkan penyejuk suasana lewat karya nyata yang membawa jalan keluar konkret.
Setiap level kepengurusan harus menjawab sinisme publik dengan memperkuat program pemberdayaan keumatan. Pengurus perlu menuntun kembali masyarakat yang tersesat narasi digital agar cita-cita luhur para muassis NU tetap hidup.
Dakwah Merangkul dan Keragaman Warga Nahdliyin
Kiai Miftach juga menggarisbawahi realitas warga Nahdliyin yang tersebar luas dengan ragam latar belakang sosial, ekonomi, hingga pandangan politik. Perbedaan mencolok tersebut merupakan modal dasar keumatan yang butuh tata kelola bijak.
Keragaman warga menuntut cara komunikasi yang mengayomi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan golongan. Pendekatan dakwah masa kini harus meneladani jejak langkah Rasulullah SAW secara konsisten.
Para kader NU perlu mengedepankan metode dakwah merangkul, bukan memukul atau memusuhi pihak yang berbeda pendapat. Sikap santun ini menjadi jalan utama untuk mengantarkan umat menuju taraf kehidupan yang jauh lebih bermartabat.
Pengesahan jajaran kepengurusan PBNU masa khidmah 2026–2031 sendiri tertuang resmi dalam Surat Keputusan Nomor 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026. Susunan struktur organisasi ini memuat formasi lengkap Mustasyar, Pengurus Harian Syuriyah, A’wan, hingga Pengurus Harian Tanfidziyah.
Agenda pelantikan akbar tersebut turut mengundang sejumlah tokoh penting dan pimpinan daerah ibu kota. Hadir di lokasi antara lain Pengasuh Pesantren Al-Hamid KH Luqman Hakim Hamid, Walikota Jakarta Timur Munjirin, jajaran Forkopimda, Ketua DPRD DKI Jakarta Suhur Alynudin, serta Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Sutikno.(ar)










Komentar