Jakarta, dorlanhikmah.com – Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin mendorong agar para imam masjid adaptasi teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence. Langkah tersebut krusial agar ekosistem keagamaan tetap relevan dengan dinamika zaman dan kebutuhan masyarakat modern.
Kamaruddin menyampaikan pandangan itu usai menghadiri International Grand Imam Conference 2026 di Masjid Istiqlal Jakarta. Ia menegaskan bahwa jajaran pimpinan keagamaan tidak boleh gagap menghadapi pesatnya arus gelombang digital.
Menurutnya, pemahaman mendalam terhadap AI menjadi kapasitas wajib bagi setiap pemimpin umat saat ini. Penguasaan tersebut membantu para imam memahami perubahan sosial sekaligus memberikan panduan keagamaan yang kontekstual.
Pemanfaatan teknologi canggih ini juga perlu ditempatkan secara bijak dalam konteks pendidikan nasional. Selain itu, nilai moral dan pedoman kemasyarakatan tetap menjadi landasan utama pemanfaatan inovasi.
Kamaruddin menilai kemampuan literasi digital sangat penting agar pimpinan agama senantiasa hadir memberikan solusi. Dengan demikian, tokoh agama dapat memandu masyarakat di tengah laju perubahan sosial yang cepat.
Adaptasi teknologi digital membuka peluang besar untuk memperkuat partisipasi aktif generasi muda di masjid. Masjid perlu bertransformasi menjadi ruang kreatif yang inklusif serta dekat dengan keseharian anak muda.
Para remaja masjid harus mendapatkan ruang seluas-luasnya untuk berorganisasi, belajar, dan berkreasi secara bebas. Penggunaan media digital akan mempermudah penyebaran syiar keagamaan kepada khalayak luas.
Teknologi modern dapat menjadi sarana komunikasi efektif dalam menjangkau kelompok muda secara terukur. Melalui pendekatan digital, pesan keagamaan dapat tersampaikan secara interaktif tanpa mengurangi bobot nilai spiritual.
Kamaruddin menekankan bahwa kemajuan digital ini merupakan modal penting dalam membangun ekosistem keagamaan masa depan. Generasi muda yang dekat dengan teknologi perlu dirangkul agar terus memakmurkan masjid.
Keterlibatan mereka tidak cukup hanya sebatas menghadiri ritual ibadah rutin di dalam masjid. Tempat ibadah juga harus menjadi pusat peradaban dan pengembangan potensi sosial masyarakat.
menjaga nilai moral agama di tengah kemajuan
Kamaruddin mengingatkan seluruh pihak bahwa kecerdasan artifisial pada dasarnya hanyalah sebuah alat bantu. Nilai agama, etika, dan kemanusiaan wajib menjadi pijakan utama dalam pemanfaatannya.
Para imam perlu memahami pola komunikasi generasi muda tanpa sedikit pun mengorbankan ajaran inti. Tokoh agama tetap memegang teguh pedoman Al-Qur’an dan Sunnah dalam menyampaikan pesan moral.
Kemampuan beradaptasi dengan teknologi harus berjalan selaras dengan penguatan fondasi keagamaan umat. Hal ini memastikan bahwa masjid tidak kehilangan fungsi moral dan sosial di tengah perubahan.
Pemahaman mendalam mengenai dunia digital membuat penyampaian dakwah menjadi semakin efektif dan relevan. Fleksibilitas metode penyampaian pesan akan memperkuat daya jangkau syiar Islam di masyarakat.
Gagasan mengenai adaptasi digital ini menjadi salah satu topik utama dalam gelaran konferensi internasional. Seluruh peserta mendorong kepemimpinan keagamaan agar terus berakar kuat pada nilai keagamaan.(ust)







Komentar