Jakarta, dorlanhikmah.com – Khazanah keilmuan Islam kerap menghadirkan perbedaan pendapat para ulama dalam memandang pelbagai persoalan agama. Pendiri Pesantren Tebuireng sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari, memberikan petunjuk tegas bagi para santri saat menghadapi fenomena tersebut.
Tokoh besar Muslim ini menguraikan pandangannya secara mendalam lewat kitab karangannya yang berjudul Adab al Alim wa Mutaalim. Beliau mengingatkan para penuntut ilmu agar tidak gegabah dalam merespons silang pendapat di tengah masyarakat.
Menahan Diri dan Menjaga Ketenangan Hati
Sejak awal menimba ilmu, seorang santri harus mampu menahan diri dari pusaran perbedaan pandangan antarulama. Mengikuti perdebatan pemikiran maupun mendengarkan perselisihan pendapat secara berlebihan dapat memicu keraguan hati serta merusak ketenangan pikiran.
Para pencari ilmu sebaiknya fokus memantapkan pemahaman melalui satu kitab pegangan terlebih dahulu. Santri baru boleh menggunakan beberapa literatur yang berbeda setelah mengantongi izin resmi dari guru atau kiai pembimbing.
Kiai Hasyim turut mengutip pandangan Imam Al Ghazali mengenai bahaya metode pengajaran yang kurang tepat. Jika seorang guru sekadar memindahkan kutipan dari berbagai mazhab tanpa memiliki sikap pasti, santri wajib meningkatkan kewaspadaan.
Mengikuti Bimbingan Guru dan Menjaga Fokus
Mempelajari terlalu banyak buku secara bersamaan di fase awal belajar berisiko menyita waktu dan memecah konsentrasi. Santri perlu menyerahkan seluruh materi serta kitab pelajarannya kepada guru untuk diperiksa secara berkala.
Langkah tersebut membantu pembimbing dalam mengarahkan keyakinan dan pemahaman murid secara tepat. Kebiasaan berpindah dari satu buku ke buku lain tanpa alasan mendesak justru menandakan munculnya rasa bosan.
Sikap tidak konsisten dalam menuntut ilmu juga menjadi isyarat kuat hilangnya keberuntungan bagi seorang pelajar. Oleh karena itu, ketekunan pada satu materi menjadi kunci utama keberhasilan proses belajar.
Mendalami Teori dan Mengamalkan Ilmu
Santri yang telah memiliki dasar kemampuan memadai sebaiknya tidak terburu-buru menciptakan hal-hal baru dalam bidang hukum. Mereka perlu mengarahkan energi untuk mendalami teori keilmuan secara matang dan berbudi pekerti luhur.
Pembersihan diri dari kebodohan serta keteguhan dalam memegang prinsip ilmu akan mendatangkan kebahagiaan sejati. Pada akhirnya, seorang penuntut ilmu yang bijak tidak akan pernah meremehkan amal perbuatan yang menjadi tujuan utama dari seluruh proses belajar.(ust)










Komentar