Jakarta, dorlanhikmah.com – Banyak orang menganggap liang lahat sebagai tempat peristirahatan terakhir yang tenang bagi jasad manusia. Namun, bagi sebagian jiwa, tanah yang sunyi tersebut justru menjadi awal dari pengadilan yang sesungguhnya di hadapan Sang Pencipta. Berbagai riwayat sahih menjelaskan bahwa manusia akan menghadapi misteri azab kubur yang sangat mengerikan jika mengabaikan perintah agama selama hidup di dunia.
Imam Al-Qurthubi dalam kitab klasik At-Tadzkirah mengisahkan fenomena gaib ini agar menjadi pelajaran berharga bagi umat Muslim. Beliau mendapatkan cerita dari sahabatnya yang tepercaya mengenai suara aneh dari dalam tanah. Sahabat tersebut mengaku mendengar suara rantai besi yang sedang diseret dengan keras di dalam kuburan.
ولقد أخبرني بعض أصحابنا أنه سمع صوت جر السلسلة في القبر
Wa laqad akhbaranii ba’dhu ashaabinaa annahu sami’a shauta jarris-silsilati fil qabr.
Artinya: “Sungguh telah mengabarkan kepadaku sebagian sahabat kami bahwa ia mendengar suara rantai yang diseret-seret di dalam kubur.”
Kisah Ular Hitam di Makam Gubernur
Al-Qurthubi juga menuliskan kisah yang jauh lebih menegangkan dari wilayah Konstantinopel. Cerita ini berasal dari ulama terkemuka sekaligus ahli thariqah bernama Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Qashri. Saat itu, seorang gubernur setempat meninggal dunia dan pihak keluarga segera menyiapkan prosesi pemakaman.
Para penggali kubur langsung terkejut saat melihat seekor ular hitam besar berada di dasar liang lahat pertama. Karena merasa ketakutan, mereka memutuskan untuk membatalkan pemakaman di lubang tersebut. Mereka kemudian memilih lokasi yang berbeda dan mulai menggali lubang kubur baru. Anehnya, ular hitam misterius itu selalu muncul kembali di setiap lubang baru yang mereka siapkan.
Para penggali terus berpindah lokasi hingga membuat sekitar tiga puluh lubang kubur yang baru. Namun, ular hitam tersebut tetap berjaga di dasar setiap lubang seolah menanti kedatangan jenazah sang gubernur. Akhirnya, pemuka agama menyuruh petugas untuk tetap menyatukan jenazah tersebut bersama sang ular karena mereka tidak memiliki pilihan lain.
Imam Al-Qurthubi menuliskan kejadian tersebut secara rinci dalam kitabnya:
ولقد أخبر ني أيضا صاحبنا الفقيه الإمام العالم شيخ الطريقة أبو عبد الله محمد بن أحمد القصري أنه توفي بعض الولاة بقسطنطينية فحفر له ، فلما فرغوا من الحفر وأرادوا أن يدخلوا الميت في القبر إذ بحية سوداء داخل القبر فهابوا أن يدخلوه فيه ، فحفروا له قبرا آخر فلما أرادوا أن يدخلوه. إذا بتلك الحية فيه ، فحفروا له قبرا آخر فإذا بتلك الحية فيه ، فحفروا له قبرا آخر فإذا بتلك الحية ، فلم يزالوا يحفرون له نحوا من ثلاثين قبرا وإذا بتلك الحية تتعرض لهم في القبر الذي يريدون أن يدفنوه فيه. فلما أعياهم ذلك سألوا ما يصنعون ? فقيل لهم: ادفنوه معها نسأل الله السلامة والستر في الدنيا والآخرة.
Wa laqad akhbaranii aidhan shaahibunaa al-faqiih al-imam al-‘aalim syaikh ath-thariqah Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qashri annahu tuwuffiya ba’dhul wulaati bi Qusthanthiniyyah fahufira lahu. Falamma faraghu minal hafri wa araadu an yudkhilul mayyita fil qabri idza bi hayyatin saudaa’a daakhilal qabri. Fahaabuu an yudkhiluuhu fiihi. Fahafaruu lahu qabran aakhar. Falamma araadu an yudkhiluuhu idza bitilka al-hayyati fiihi. Fahafaruu lahu qabran aakhar fa idza bitilka al-hayyati fiihi. Falam yazaaluu yahfiruuna lahu nahwan min tsalaatsiina qabran wa idza bitilka al-hayyati tata’arradhu lahum fil qabri alladzi yuriiduuna an yadfinuuhu fiih. Falamma a’yaahum dzaalik sa’aluu maa yashna’uun. Faqiila lahum: idfinuuhu ma’ahaa, nas’alullaahas-salaamata was-satra fid-dunyaa wal-aakhirah.
Artinya: “Telah mengabarkan kepadaku sahabat kami, seorang fakih, imam, ulama, dan syekh thariqah Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Qashri, bahwa salah seorang gubernur di Konstantinopel meninggal dunia. Maka digalilah kuburan untuknya. Ketika mereka selesai menggali dan hendak memasukkan jenazah ke dalam kubur, tiba-tiba terdapat seekor ular hitam di dalamnya. Mereka pun takut memasukkannya ke sana. Lalu mereka menggali kuburan yang lain. Namun ketika hendak memasukkan jenazah, ular itu kembali ada di dalamnya. Mereka menggali kuburan lain lagi, tetapi ular itu juga berada di sana. Mereka terus menggali hingga mendekati tiga puluh kuburan, namun ular itu selalu muncul di kuburan yang hendak dijadikan tempat pemakamannya. Ketika mereka tidak lagi mampu mencari jalan keluar, mereka bertanya apa yang harus dilakukan. Maka dikatakan kepada mereka: ‘Kuburkanlah dia bersama ular itu. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan perlindungan di dunia dan akhirat.'”
Alasan Allah Menyembunyikan Penampakan Siksaan
Banyak orang sering bertanya mengenai alasan Allah SWT menyembunyikan penampakan siksaan tersebut dari mata manusia. Rasulullah SAW menegaskan bahwa manusia akan kehilangan ketenangan hidup jika mendengar jeritan mengerikan dari dalam kubur. Ketakutan yang sangat luar biasa tersebut bahkan bisa menghentikan manusia untuk menguburkan jenazah sesamanya.
Nabi Muhammad SAW menyampaikan hal tersebut dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim:
لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ
Law laa an laa tadaafanuu lada’autullaaha an yusmi’akum min ‘adzaabil qabri alladzi asma’.
Artinya: “Seandainya kalian tidak akan berhenti menguburkan orang mati, sungguh aku akan memohon kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian azab kubur yang aku dengar.” (HR Muslim).
Hakikat Sifat Gaib Alam Barzakh
Meskipun mata manusia tidak melihatnya, keberadaan siksaan tersebut sangat nyata seperti halnya embusan angin atau gelombang radio. Allah sengaja menutup alam barzakh dengan tabir gaib demi menjaga kemaslahatan hidup manusia di dunia. Keimanan seorang Muslim sejati justru teruji dari kemampuannya memercayai hal gaib ini sebelum hari kiamat tiba.
Kematian fisik manusia bukanlah akhir yang menghapus dosa secara otomatis tanpa adanya pertobatan yang tulus semasa hidup. Beberapa dosa yang sering anggap remeh oleh manusia ternyata bisa memicu siksaan yang sangat pedih di alam barzakh. Rasulullah SAW pernah menjelaskan hal ini saat berjalan melewati dua gundukan tanah makam.
Konsekuensi Kelalaian Kecil Umat Manusia
Beliau bersabda mengenai penyebab siksaan kedua penghuni makam tersebut:
أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَبْرِئُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
Amma ahaduhumaa fakaana laa yastabri’u minal baul, wa ammal aakharu fakaana yamsyii bin namiimah.
Artinya: “Salah seorang dari keduanya tidak bersuci dengan baik setelah buang air kecil, sedangkan yang lainnya suka mengadu domba.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hal ini membuktikan bahwa kelalaian dalam bersuci dan lisan yang gemar mengadu domba memiliki konsekuensi yang fatal. Umat Muslim harus memahami bahwa kematian tidak menghapus dosa yang melekat pada diri manusia. Hanya taubat nasuha, istighfar, serta amal kebajikan yang dapat menyelamatkan manusia dari jeratan dosa tersebut.
Fase Awal Pertanyaan Munkar dan Nakir
Perjalanan rohani yang sesungguhnya baru dimulai saat para pelayat melangkah pulang meninggalkan area pemakaman. Rasulullah SAW menyebut liang kubur sebagai gerbang pertama yang harus dilewati manusia menuju akhirat yang kekal.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ
Innal qabra awwalu manzilin min manazilil aakhirah.
Artinya: “Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama dari beberapa persinggahan akhirat.” (HR Tirmidzi).
Saat jasad telah sendiri, dua malaikat bernama Munkar dan Nakir akan segera datang untuk menguji keimanan jenazah tersebut.
Ujian Umat di Hadapan Dua Malaikat
Kedatangan kedua malaikat ini bertepatan dengan momen ketika jenazah masih mendengar suara langkah kaki para pelayat. Situasi menegangkan ini menegaskan bahwa alam barzakh memiliki fase ujian yang sangat nyata bagi setiap manusia.
Nabi Muhammad SAW menjelaskan awal mula ujian tersebut melalui sabdanya:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ أَتَاهُ مَلَكَانِ
Innal ‘abda idza wudhi’a fii qabrihi wa tawallaa ‘anhu ashaabuhu wa innahu layasma’u qar’a ni’aalihim ataahu malakaan.
Artinya: “Sesungguhnya seorang hamba ketika telah diletakkan di dalam kuburnya dan para sahabatnya telah pergi meninggalkannya, sementara ia masih mendengar suara sandal mereka, maka datanglah dua malaikat kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Tiga Pertanyaan Paling Fundamental
Kedua malaikat tersebut akan melontarkan tiga pertanyaan fundamental mengenai ketuhanan, agama, dan kenabian:
مَنْ رَبُّكَ؟ وَمَا دِينُكَ؟ وَمَنْ نَبِيُّكَ؟
Man rabbuka? Wa maa diinuka? Wa man nabiyyuka?
Artinya: “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?”
Orang yang beriman dan konsisten mengamalkan syariat Islam semasa hidupnya akan menjawab dengan sangat mudah:
رَبِّيَ اللَّهُ، وَدِينِيَ الْإِسْلَامُ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ ﷺ
Rabbiyallaah, wa diiniyal Islam, wa nabiyyi Muhammadun shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Artinya: “Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad SAW.”
Sebaliknya, para pendosa dan orang munafik hanya bisa kebingungan dan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui apa pun. Jawaban sukses di alam kubur ini sepenuhnya bergantung pada kualitas iman dan amal nyata manusia selama menjalani kehidupan di dunia.(ust)










Komentar