6 Adab Imam Sholat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 16 Juli 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah merinci enam adab penting bagi imam.(poto: republika).

Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah merinci enam adab penting bagi imam.(poto: republika).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Seorang pemimpin sholat memikul tanggung jawab besar ketika memimpin ibadah di masjid. Selain memenuhi syarat dan rukun sholat, mereka wajib menerapkan adab imam sholat berjamaah secara tepat. Penerapan etika ini bertujuan agar seluruh makmum dapat meraih kekhusyukan yang sempurna.

Ulama besar Imam Abu Hamid Al-Ghazali membagikan panduan berharga mengenai hal ini. Beliau menuliskan sedikitnya enam adab penting bagi seorang pemimpin sholat dalam kitab klasik Bidayatul Hidayah. Panduan tersebut menuntun para imam agar selalu memperhatikan kondisi jamaah mereka.

Memulai Takbiratul Ihram Tanpa Tergesa-Gesa

Imam yang bijak tidak akan terburu-buru memulai ibadah sesaat setelah iqamah berkumandang. Beliau menyarankan imam untuk menunggu muadzin menyelesaikan lantunan iqamah terlebih dahulu. Setelah itu, imam perlu memeriksa dan merapikan barisan shaf para makmum.

Ketika memulai sholat, pemimpin wajib mengeraskan suara takbiratul ihram dan takbir perpindahan gerakan. Langkah ini membantu makmum mengikuti setiap gerakan sholat secara presisi. Sementara itu, makmum hanya perlu melafalkan takbir dengan suara lirih yang terdengar oleh diri sendiri.

Mengenai adab pertama ini, Imam Al-Ghazali menuliskan kutipan berikut secara lengkap sesuai kitab aslinya:

وَلَا يُكَبِّرُ مَا لَمْ يَفْرُغِ الْمُؤَذِّنُ مِنَ الْإِقَامَةِ، وَمَا لَمْ تَسْتَوِ الصُّفُوفُ، وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرَاتِ، وَلَا يَرْفَعُ الْمَأْمُومُ صَوْتَهُ إِلَّا قَدْرَ مَا يُسْمِعُ نَفْسَهُ.

Wa la yukabbiru ma lam yafrughil mu’dzdzinu minal iqamah, wa ma lam tastawish shufuf, wa yarfa’u shautahu bit takbiraat, wa la yarfa’ul ma’mumu shautahu illa qadra ma yusmi’u nafsah.

Artinya: “Janganlah bertakbiratul ihram sebelum muadzin selesai mengumandangkan iqamah dan sebelum shaf-shaf telah lurus. Hendaknya imam mengeraskan suaranya ketika bertakbir, sedangkan makmum tidak mengeraskan suaranya kecuali sekadar terdengar oleh dirinya sendiri.”

Menghadirkan Niat Menjadi Imam

Kitab Bidayatul Hidayah menganjurkan seorang pemimpin sholat untuk berniat mengimami jamaah sejak awal ibadah. Niat yang tulus ini membantu sang imam meraih keutamaan pahala berjamaah yang melimpah. Keputusan ini memperkuat nilai spiritual dari kepemimpinannya dalam sholat.

Namun, kelalaian imam dalam berniat mengimami tidak merusak keabsahan sholat para makmum. Sholat jamaah tetap sah asalkan makmum berniat mengikuti imam sejak awal takbir. Makmum pun tetap berhak membawa pulang pahala keutamaan berjamaah yang sempurna.

Penjelasan lengkap mengenai niat ini tertuang dalam kutipan berikut:

وَيَنْوِي الْإِمَامَةَ لِيَنَالَ الْفَضْلَ، فَإِنْ لَمْ يَنْوِ، صَحَّتْ صَلَاةُ الْمَأْمُومِينَ إِذَا نَوَوُا الِاقْتِدَاءَ بِهِ، وَنَالُوا فَضْلَ الْقُدْوَةِ.

Wa yanwil imaamata li yanaalal fadhl, fa in lam yanwi shahhat shalaatul ma’muumiina idza nawawul iqtidaa’a bih, wa naaluu fadhlal qudwah.

Baca Juga :  Kesalahan dalam Ibadah Qurban yang Masih Sering Terjadi Saat Idul Adha

Artinya: “Hendaknya imam berniat menjadi imam agar memperoleh keutamaan berjamaah. Jika imam tidak berniat menjadi imam, sholat para makmum tetap sah selama mereka berniat mengikuti imam dan mereka tetap memperoleh keutamaan berjamaah.”

Mengatur Volume Bacaan secara Tepat

Pemimpin ibadah harus memahami kapan harus melafalkan bacaan secara lirih (sirr) dan kapan harus mengeraskannya (jahr). Imam membaca doa iftitah serta ta’awudz dengan suara pelan layaknya orang yang sholat sendirian. Aturan ini menjaga kekhusyukan awal sholat sebelum membaca surat utama.

Selanjutnya, imam mengeraskan suara saat membaca surat Al-Fatihah, surat pendek, dan ucapan “Aamiin”. Ketentuan ini berlaku penuh pada sholat Subuh serta dua rakaat awal sholat Maghrib dan Isya. Makmum juga harus mengucapkan “Aamiin” secara serentak bersamaan dengan imam.

Tuntunan praktis mengenai aturan suara tersebut berbunyi demikian:

وَيُسِرُّ بِدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ كَالْمُنْفَرِدِ، وَيَجْهَرُ بِالْفَاتِحَةِ وَالسُّورَةِ فِي جَمِيعِ الصُّبْحِ، وَأُولَيَيِ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، وَكَذَلِكَ الْمُنْفَرِدُ، وَيَجْهَرُ بِقَوْلِهِ آمِينَ فِي الْجَهْرِيَّةِ، وَكَذَلِكَ الْمَأْمُومُ، وَيُقَارِنُ الْمَأْمُومُ تَأْمِينَهُ بِتَأْمِينِ الْإِمَامِ.

Wa yusirru bi du’aa’il istiftaah wat ta’awwudz kal munfarid, wa yajharu bil Faatihati was suurati fii jamii’ish shubhi wa ulayail maghribi wal ‘isyaa’, wa yajharu bi qaulihi aamiin fil jahriyyah, wa yukaarinul ma’muumu ta’miinahu bi ta’miinil imaam.

Artinya: “Hendaknya imam membaca doa iftitah dan ta’awudz secara pelan. Ia mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat pada seluruh rakaat Subuh serta dua rakaat pertama Maghrib dan Isya. Demikian pula bacaan Aamiin dibaca keras pada sholat jahr, dan makmum membacanya bersamaan dengan imam.”

Menyediakan Jeda Singkat Setelah Al-Fatihah

Setelah menyelesaikan surat Al-Fatihah dan mengucap “Aamiin”, imam sebaiknya diam sejenak. Jeda waktu ini sangat berguna agar imam bisa mengatur kembali napasnya dengan rileks. Sikap tenang ini menghindarkan imam dari rasa lelah atau tergesa-gesa.

Selain membantu fisik imam, jeda singkat tersebut memberikan kesempatan emas bagi makmum untuk membaca Al-Fatihah. Makmum dapat menyelesaikan bacaan wajib tersebut secara khusyuk sebelum imam melangkah ke surat berikutnya. Pola komunikasi batin ini menciptakan keharmonisan gerakan berjamaah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan rahasia jeda tersebut dalam kutipan kitabnya:

وَيَسْكُتُ الْإِمَامُ سَكْتَةً عَقِيبَ الْفَاتِحَةِ لِيَثُوبَ إِلَيْهِ نَفَسُهُ، وَيَقْرَأُ الْمَأْمُومُ الْفَاتِحَةَ فِي الْجَهْرِيَّةِ فِي هَذِهِ السَّكْتَةِ.

Wa yaskutul imaamu saktatan ‘aqiibal Faatihah li yatsuuba ilaihi nafasuh, wa yaqra’ul ma’muumul Faatihata fil jahriyyati fii haadzihis saktah.

Baca Juga :  Nasihat Ibnu Al-Qayyim: Pentingnya Menjaga Lisan

Artinya: “Hendaknya imam diam sejenak setelah membaca Al-Fatihah agar napasnya kembali tenang, sementara makmum memanfaatkan jeda tersebut untuk membaca Al-Fatihah.”

Membatasi Durasi Sholat Demi Kemudahan Makmum

Seorang pemimpin sholat wajib berempati terhadap kondisi fisik dan kesibukan para pengikutnya. Al-Ghazali melarang imam memperpanjang bacaan sholat hingga memberatkan fisik atau urusan makmum. Imam yang bijaksana akan menyesuaikan tempo gerakan dengan kemampuan rata-rata jamaah.

Saat rukuk dan sujud, imam sebaiknya membatasi bacaan tasbih sebanyak tiga kali saja. Ketika berada di posisi tasyahud awal, imam cukup membaca sholawat nabi tanpa menambah doa-doa lain. Pada dua rakaat terakhir, imam juga hanya perlu membaca Al-Fatihah tanpa surat tambahan.

Pedoman batasan durasi sholat tersebut tertulis sebagai berikut:

وَلَا يَزِيدُ الْإِمَامُ عَلَى الثَّلَاثِ فِي تَسْبِيحَاتِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، وَلَا يَزِيدُ فِي Tَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ بَعْدَ قَوْلِهِ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَيَقْتَصِرُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأَخِيرَتَيْنِ عَلَى الْفَاتِحَةِ، وَلَا يُطَوِّلُ عَلَى الْقَوْمِ.

Wa laa yaziidul imaamu ‘alats tsalaatsi fii tasbiihaatir rukuu’i was sujuud, wa laa yaziidu fit tasyahhudil awwali ba’da qaulihi Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad, wa yaqtashiru fir rak’atainil akhiirataini ‘alal Faatihah wa laa yuthawwilu ‘alal qaum.

Artinya: “Janganlah imam menambah bacaan tasbih rukuk dan sujud lebih dari tiga kali. Jangan menambah bacaan pada tasyahud awal setelah sholawat kepada Nabi, cukup membaca Al-Fatihah pada dua rakaat terakhir, dan jangan memanjangkan bacaan sehingga memberatkan jamaah.”

Meniatkan Doa Keselamatan Lewat Salam

Gerakan salam di penghujung ibadah sholat bukan sekadar penanda berakhirnya ritual semata. Saat mengucapkan salam, seorang imam harus meniatkan ucapan tersebut sebagai doa keselamatan untuk makmum. Niat ini memancarkan rasa kasih sayang imam kepada seluruh jamaahnya.

Sebaliknya, para makmum juga wajib menyambut doa keselamatan tersebut di dalam hati mereka. Makmum meniatkan ucapan salam mereka sebagai jawaban atas salam dari sang pemimpin sholat. Interaksi batin yang indah ini mempererat tali persaudaraan sesama umat muslim.

Aturan indah mengenai salam penutup ini terangkum dalam teks berikut:

وَيَنْوِي الْإِمَامُ عِنْدَ التَّسْلِيمِ السَّلَامَ عَلَى الْقَوْمِ، وَيَنْوِي الْقَوْمُ بِتَسْلِيمِهِمْ جَوَابَهُ.

Wa yanwil imaamu ‘indat tasliimi as-salaama ‘alal qaum, wa yanwil qaumu bi tasliimihim jawaabah.

Artinya: “Hendaknya imam ketika mengucapkan salam berniat mendoakan keselamatan bagi jamaah, sedangkan jamaah berniat menjawab salam imam melalui salam yang mereka ucapkan.(ust)

Berita Terkait

Nasihat KH Hasyim Asy’ari tentang Menghadapi Perbedaan Pendapat Ulama
4 Tipe Manusia Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Menyikapinya
Etika Bisnis dalam Islam: Panduan Lengkap Menurut Syariat
Adab Memperbaiki Bacaan Imam Salat yang Keliru Menurut Ulama
Quraish Shihab Ungkap Bukti Rasulullah Simbol Damai
Arti Akhlak Menurut Prof Quraish Shihab dan Hak Jalanan
Makna Berpakaian tetapi Telanjang Menurut Hadis Nabi
Generasi Sandwich dalam Islam: Batas Nafkah dan Aturan Fikih
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 21:00 WIB

Nasihat KH Hasyim Asy’ari tentang Menghadapi Perbedaan Pendapat Ulama

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:00 WIB

4 Tipe Manusia Menurut Imam Al Ghazali dan Cara Menyikapinya

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:00 WIB

Etika Bisnis dalam Islam: Panduan Lengkap Menurut Syariat

Sabtu, 25 Juli 2026 - 05:00 WIB

Adab Memperbaiki Bacaan Imam Salat yang Keliru Menurut Ulama

Sabtu, 18 Juli 2026 - 19:00 WIB

Quraish Shihab Ungkap Bukti Rasulullah Simbol Damai

Berita Terbaru

Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) MUI berkolaborasi dengan Baznas RI untuk memperkuat literasi keislaman digital AI.(poto: hidayatullah.com).

Berita Islam

MUI dan Baznas Latih Mujahid Digital Kuasai Teknologi AI

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:00 WIB