Khutbah Jumat: Jadi Manusia yang Menenangkan, Bukan Meresahkan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 7 Juli 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Khatib sedang membaca khutbah.( poto : istimewa)

Khatib sedang membaca khutbah.( poto : istimewa)

Jakarta, dorlanhikmah.com – Khutbah Jumat Menenangkan Manusia menjadi pengingat bahwa syariat Islam bertujuan menghadirkan kedamaian, ketenteraman, dan rasa aman bagi seluruh umat manusia. Islam mengajarkan setiap muslim agar menjadi pribadi yang membawa manfaat, bukan sumber keresahan bagi orang lain.

Naskah khutbah Jumat berjudul “Jadi Manusia yang Menenangkan, Bukan yang Meresahkan” menegaskan bahwa nilai rahmat dalam Islam harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga lewat cara berbicara, bersikap, dan berinteraksi dengan sesama.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيمِ. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Khatib mengawali khutbah dengan mengajak jamaah memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas seluruh nikmat yang telah diberikan. Selanjutnya, khatib mengajak jamaah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Khatib kemudian mengingatkan pentingnya meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan menjadi bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia sekaligus meraih keselamatan di akhirat.

Takwa Harus Tercermin dalam Akhlak

Khutbah menegaskan bahwa ketakwaan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah seperti shalat dan puasa. Seorang muslim juga harus menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari sehingga keberadaannya membawa rasa nyaman bagi lingkungan sekitar.

Sebagai teladan utama, Rasulullah SAW diutus untuk membawa rahmat bagi seluruh alam sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya, “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).

Khutbah juga mengutip penjelasan Ibnu Abbas yang dinukil Imam Al-Baghawi bahwa rahmat Nabi Muhammad SAW berlaku bagi seluruh manusia, baik yang telah beriman maupun yang belum beriman.

Baca Juga :  Kesehatan Mental dalam Islam: Sabar, Takdir, dan Ketenangan Jiwa

Dalam kitab Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’anil Azim jilid V halaman 359 disebutkan:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هُوَ عَامٌ فِي حَقِّ مَنْ آمَنَ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ

Artinya, “Ibnu Abbas berkata: ‘Rahmat itu bersifat umum, berlaku bagi siapa saja yang beriman maupun tidak beriman sekali pun.”

Tiga Cara Menjadi Muslim yang Menenangkan

Khutbah menjelaskan sedikitnya tiga sikap yang dapat di terapkan agar seorang muslim menjadi pribadi yang menghadirkan ketenangan.

Menjaga Lisan dan Perbuatan

Khatib mengingatkan jamaah agar menjaga ucapan sehingga tidak melukai perasaan orang lain. Lisan dapat menjadi sarana menyebarkan kesejukan, tetapi juga mampu memicu perpecahan apabila di gunakan secara keliru.

Selain itu, umat Islam juga perlu menjaga tindakan, termasuk saat menggunakan media sosial. Setiap tulisan, komentar, maupun unggahan harus mencerminkan akhlak yang baik.

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya, “Seorang muslim sejati adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Menumbuhkan Sikap Penyayang

Khutbah juga mengajak umat Islam membangun sifat kasih sayang melalui sikap pemaaf, ringan membantu, dan peduli terhadap sesama. Dengan karakter tersebut, seseorang tidak akan menikmati penderitaan orang lain ataupun menjadi penyebabnya.

Rasulullah SAW bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ! ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Artinya, “Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Pengasih! Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidzi).

Mengendalikan Amarah

Khatib turut mengingatkan jamaah agar mampu mengendalikan emosi. Kemarahan yang tidak terkendali kerap memicu tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Karena itu, seorang muslim perlu melatih kesabaran dan menghadapi persoalan dengan kepala dingin. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Artinya, “Orang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat, tetapi ia yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari & Muslim).

Baca Juga :  Ekonomi Islam Ajarkan Harta sebagai Amanah( Khutbah: 1 )

Ajakan Meneladani Akhlak Rasulullah

Pada penutup khutbah pertama, khatib mengajak seluruh jamaah meneladani akhlak Rasulullah SAW dengan menjadi pribadi yang menghadirkan ketenangan, bukan keresahan. Khatib juga memohon agar Allah SWT membimbing umat Islam supaya mampu menjaga lisan, perbuatan, dan seluruh sikap dalam kehidupan sehari-hari.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

حَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Berita Terkait

Teks Ceramah Hari Santri Nasional Penuh Makna
Khutbah Jumat Hari Santri Meneguhkan Moral Bangsa
Makna Jihad Santri Era Modern: Dari Perang Fisik ke Intelektual
Khutbah Jumat Cinta Tanah Air: Napas Perjuangan Santri Mengawal Negeri
Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan
Khutbah Jumat Hari Santri: Mengganti Peran Kiai
Khutbah Jumat: Ajakan Solidaritas Warga Hadapi Karhutla
Khutbah Jumat Hari Santri: Meneguhkan Jihad Ilmu dan Bangsa
Berita ini 49 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 17:10 WIB

Teks Ceramah Hari Santri Nasional Penuh Makna

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:33 WIB

Khutbah Jumat Hari Santri Meneguhkan Moral Bangsa

Kamis, 22 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Makna Jihad Santri Era Modern: Dari Perang Fisik ke Intelektual

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:55 WIB

Khutbah Jumat Cinta Tanah Air: Napas Perjuangan Santri Mengawal Negeri

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:38 WIB

Khotbah Hari Santri 2026: Jihad Baru Menuju Masa Depan

Berita Terbaru

Ilustrasi Suasana kultum di masjid, seorang penceramah di mimbar menyampaikan tausiyah penuh hikmah kepada jamaah yang khusyuk.(poto: AI).

Kultum

Teks Ceramah Hari Santri Nasional Penuh Makna

Sabtu, 24 Okt 2026 - 17:10 WIB

Ilustrasi Suasana belajar kitab kuning Matan Taqrib tentang bersuci bersama kiai dan santri di serambi pesantren yang damai.(poto: AI).

Fiqih

Enam Sebab Mandi Wajib Menurut Panduan Matan Taqrib

Sabtu, 24 Okt 2026 - 17:04 WIB

Suasana hangat ibu menyusui bayi di rumah, didampingi anak perempuan dan putra sulungnya yang sedang membaca.(ilustrasi poto: AI).

Fiqih

Hukum Saudara Kandung Anak Susuan Jadi Mahram

Sabtu, 24 Okt 2026 - 16:50 WIB