Menjaga Akhlak Mulia dalam Islam Lewat Empati dan Menghormati Sesama

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ahmad Fauzan Arifin, Lc., M.H., dari Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kalimantan Selatan, saat menjadi narasumber Program Ngobras di RRI Pro 1 Banjarmasin, Kamis malam, 16 Juli 2026.(poto: RRI).

Ahmad Fauzan Arifin, Lc., M.H., dari Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kalimantan Selatan, saat menjadi narasumber Program Ngobras di RRI Pro 1 Banjarmasin, Kamis malam, 16 Juli 2026.(poto: RRI).

Banjarmasin, dorlanhikmah.com – Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kalimantan Selatan mengajak masyarakat untuk terus membangun empati tinggi terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari. Upaya membangun empati tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga perasaan orang lain dalam setiap bentuk pergaulan.

Pesan mendalam mengenai pentingnya menerapkan akhlak mulia dalam Islam ini hadir langsung dari Ahmad Fauzan Arifin, Lc., M.H. Perwakilan IKADI Kalimantan Selatan tersebut menyampaikan materi tersebut dalam Program NGOBRAS RRI Pro 1 Banjarmasin pada Kamis, 16 Juli 2026.

Dialog interaktif bertajuk “Obrolan di Malam Hari (Deep Talk Islami)” ini menggunakan kisah inspiratif sebagai pengantar diskusi. Narasumber mengemas pembahasan tentang empati, adab, dan akhlak melalui cerita sepasang sepatu tua milik petani miskin.

Belajar Empati Melalui Kisah Sepasang Sepatu Tua

Ahmad Fauzan menceritakan kisah seorang syekh yang sedang berjalan bersama muridnya di sebuah hamparan sawah. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sepasang sepatu tua milik petani yang sedang ditinggal pemiliknya makan siang.

Sang murid kemudian mengusulkan ide jail untuk menyembunyikan sepatu tersebut demi melihat kepanikan sang petani. Namun, sang syekh langsung menolak usulan muridnya dan memilih tindakan yang jauh lebih mulia.

Baca Juga :  Aa Gym Tegaskan Akhlak Mulia Lebih Utama dari Jabatan dan Harta dalam Kehidupan

Ulama tersebut memilih untuk memasukkan sejumlah uang ke dalam kedua sepatu tua milik petani miskin tersebut. Tindakan bijak ini langsung mengubah rencana candaan menjadi sebuah pertolongan yang sangat berarti.

Petani tersebut sangat terkejut ketika menemukan sejumlah uang di dalam sepatu tuanya setelah selesai makan. Ia langsung bersujud sambil menangis haru mengucap syukur atas rezeki tidak terduga dari Allah Swt.

Petani itu merasa sangat terbantu karena uang tersebut dapat menghidupi keluarganya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Kisah nyata ini menjadi bukti nyata bagaimana empati dapat menyelamatkan kehidupan seseorang yang sedang kesusahan.

Larangan Menjadikan Kemiskinan Sebagai Bahan Candaan

Ahmad Fauzan menegaskan masyarakat tidak boleh menghibur diri dengan mengorbankan perasaan orang-orang miskin atau fakir. Kebahagiaan sejati manusia akan terwujud ketika mereka mampu membahagiakan orang lain dengan tulus.

Baca Juga :  UIN Imam Bonjol Padang Perkuat Kolaborasi Global Lewat SEIBA International Festival Ke-4

Kisah sepatu tua ini mengajarkan masyarakat bahwa orang miskin bukanlah bahan candaan atau olok-olok. Setiap manusia memiliki kemuliaan tinggi yang wajib dihormati sebagai makhluk ciptaan Allah Swt.

Tindakan mengejek kondisi ekonomi, fisik, maupun pekerjaan seseorang sama saja dengan merendahkan ciptaan Allah Swt. Masyarakat seharusnya lebih mengedepankan sikap bersyukur atas nikmat dan selalu menghargai kondisi orang lain.

Batasan Syariat Dalam Bercanda Menurut Ajaran Islam

Islam sebenarnya tetap membolehkan umatnya bercanda selama tidak menyakiti perasaan orang lain secara sengaja. Candaan yang melukai hati seseorang secara otomatis kehilangan nilai hiburan dan berubah menjadi kezaliman.

Ahmad Fauzan menyatakan kegiatan bercanda sepenuhnya legal selama semua pihak merasa senang dan tidak tersakiti. Jika candaan tersebut mulai melukai hati orang lain, maka tindakan itu merupakan bentuk kezaliman nyata.

Warga Muslim harus senantiasa menjaga lisan mereka dengan baik dalam setiap proses pergaulan masyarakat. Ucapan yang baik terbukti ampuh mempererat persaudaraan sekaligus menghadirkan keberkahan melimpah dalam kehidupan sehari-hari.(ust)

Berita Terkait

MUI dan Baznas Latih Mujahid Digital Kuasai Teknologi AI
Gubernur Sumbar Tekankan Pentingnya Penguatan Fikih Wasathiyah Jaga Persatuan Umat
Warga Tanjung Agung dan Satgas TMMD Ke-129 Kodim Bungo Renovasi Langgar Al-Hikmah
Praktik Tajhizul Janaiz Santri Lirboyo Diikuti Ribuan Peserta
Kader Senior NU Ingatkan Peserta Muktamar Pilih Pemimpin Independen
KUII VIII Desak Pemerintah Bentuk Satgas Khusus Penanganan Kasus Dugaan Korupsi Febrie
Wamenko Polkam Lodewijk F Paulus Menegaskan Hakikat Politik Adalah Ibadah Pengabdian Kepada Bangsa
Baznas Buka Suara Soal Wacana Zakat Pengganti Pajak
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:00 WIB

MUI dan Baznas Latih Mujahid Digital Kuasai Teknologi AI

Kamis, 30 Juli 2026 - 07:00 WIB

Gubernur Sumbar Tekankan Pentingnya Penguatan Fikih Wasathiyah Jaga Persatuan Umat

Kamis, 30 Juli 2026 - 05:42 WIB

Warga Tanjung Agung dan Satgas TMMD Ke-129 Kodim Bungo Renovasi Langgar Al-Hikmah

Selasa, 28 Juli 2026 - 05:00 WIB

Praktik Tajhizul Janaiz Santri Lirboyo Diikuti Ribuan Peserta

Senin, 27 Juli 2026 - 19:00 WIB

Kader Senior NU Ingatkan Peserta Muktamar Pilih Pemimpin Independen

Berita Terbaru

Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) MUI berkolaborasi dengan Baznas RI untuk memperkuat literasi keislaman digital AI.(poto: hidayatullah.com).

Berita Islam

MUI dan Baznas Latih Mujahid Digital Kuasai Teknologi AI

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:00 WIB