Banjarmasin, dorlanhikmah.com – Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kalimantan Selatan mengajak masyarakat untuk terus membangun empati tinggi terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari. Upaya membangun empati tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga perasaan orang lain dalam setiap bentuk pergaulan.
Pesan mendalam mengenai pentingnya menerapkan akhlak mulia dalam Islam ini hadir langsung dari Ahmad Fauzan Arifin, Lc., M.H. Perwakilan IKADI Kalimantan Selatan tersebut menyampaikan materi tersebut dalam Program NGOBRAS RRI Pro 1 Banjarmasin pada Kamis, 16 Juli 2026.
Dialog interaktif bertajuk “Obrolan di Malam Hari (Deep Talk Islami)” ini menggunakan kisah inspiratif sebagai pengantar diskusi. Narasumber mengemas pembahasan tentang empati, adab, dan akhlak melalui cerita sepasang sepatu tua milik petani miskin.
Belajar Empati Melalui Kisah Sepasang Sepatu Tua
Ahmad Fauzan menceritakan kisah seorang syekh yang sedang berjalan bersama muridnya di sebuah hamparan sawah. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sepasang sepatu tua milik petani yang sedang ditinggal pemiliknya makan siang.
Sang murid kemudian mengusulkan ide jail untuk menyembunyikan sepatu tersebut demi melihat kepanikan sang petani. Namun, sang syekh langsung menolak usulan muridnya dan memilih tindakan yang jauh lebih mulia.
Ulama tersebut memilih untuk memasukkan sejumlah uang ke dalam kedua sepatu tua milik petani miskin tersebut. Tindakan bijak ini langsung mengubah rencana candaan menjadi sebuah pertolongan yang sangat berarti.
Petani tersebut sangat terkejut ketika menemukan sejumlah uang di dalam sepatu tuanya setelah selesai makan. Ia langsung bersujud sambil menangis haru mengucap syukur atas rezeki tidak terduga dari Allah Swt.
Petani itu merasa sangat terbantu karena uang tersebut dapat menghidupi keluarganya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Kisah nyata ini menjadi bukti nyata bagaimana empati dapat menyelamatkan kehidupan seseorang yang sedang kesusahan.
Larangan Menjadikan Kemiskinan Sebagai Bahan Candaan
Ahmad Fauzan menegaskan masyarakat tidak boleh menghibur diri dengan mengorbankan perasaan orang-orang miskin atau fakir. Kebahagiaan sejati manusia akan terwujud ketika mereka mampu membahagiakan orang lain dengan tulus.
Kisah sepatu tua ini mengajarkan masyarakat bahwa orang miskin bukanlah bahan candaan atau olok-olok. Setiap manusia memiliki kemuliaan tinggi yang wajib dihormati sebagai makhluk ciptaan Allah Swt.
Tindakan mengejek kondisi ekonomi, fisik, maupun pekerjaan seseorang sama saja dengan merendahkan ciptaan Allah Swt. Masyarakat seharusnya lebih mengedepankan sikap bersyukur atas nikmat dan selalu menghargai kondisi orang lain.
Batasan Syariat Dalam Bercanda Menurut Ajaran Islam
Islam sebenarnya tetap membolehkan umatnya bercanda selama tidak menyakiti perasaan orang lain secara sengaja. Candaan yang melukai hati seseorang secara otomatis kehilangan nilai hiburan dan berubah menjadi kezaliman.
Ahmad Fauzan menyatakan kegiatan bercanda sepenuhnya legal selama semua pihak merasa senang dan tidak tersakiti. Jika candaan tersebut mulai melukai hati orang lain, maka tindakan itu merupakan bentuk kezaliman nyata.
Warga Muslim harus senantiasa menjaga lisan mereka dengan baik dalam setiap proses pergaulan masyarakat. Ucapan yang baik terbukti ampuh mempererat persaudaraan sekaligus menghadirkan keberkahan melimpah dalam kehidupan sehari-hari.(ust)










Komentar