Jakarta, dorlanhikmah.com – Masyarakat muslim telah lama mengenal keistimewaan pohon bidara islam sebagai sarana pengobatan ruqyah syar’iyyah. Padahal khazanah Islam menempatkan tumbuhan berduri ini pada posisi yang jauh lebih luas dan istimewa.
Alquran secara gamblang menyebut pohon bernama latin Ziziphus mauritiana ini sebagai salah satu tumbuhan surga. Rasulullah SAW juga kerap menganjurkan pemanfaatan daunnya untuk berbagai kebutuhan syariat.
Secara geografis, pohon yang populer dengan sebutan sidr ini tumbuh subur di wilayah tropis maupun subtropis. Masyarakat Timur Tengah, Asia Selatan, hingga sebagian benua Afrika sangat akrab dengan tanaman peneduh ini.
Sejarah mencatat pohon bidara turut menghiasi kawasan penting peradaban Islam, termasuk area sekitar Gua Hira. Lokasi bersejarah tersebut menjadi saksi turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
kedudukan pohon bidara sebagai kenikmatan surga abadi
Allah SWT menegaskan kemuliaan pohon bidara dalam Alquran saat menggambarkan balasan bagi golongan kanan atau ashabul yamin. Gambaran keindahan surga tersebut termaktub jelas di dalam Surat Al-Waqi’ah ayat 27-28:
وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ, فِي سِدْرٍ مَّخْضُودٍ
Wa as haabul yameeni maaa as haabul Yameen. Fee sidrim makhdood. Ayat agung ini bermakna: “Dan golongan kanan, siapakah golongan kanan itu. (Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri.”
Ulama Ibnu Dihyah dalam kitab Hadits-hadits Tarbiyah karya Wafi Marzuqi Ammar menguraikan tiga keistimewaan utama pohon ini. Tanaman ini memiliki karakter istimewa yang menjadikannya sangat layak menjadi perumpamaan kenikmatan surgawi.
Karakter pertama adalah dzillun mamdud yang menghadirkan naungan luas nan sejuk bagi siapa saja di bawahnya. Selanjutnya terdapat tha’amun ladzidz berupa buah lezat serta ra’ihah zakiyyah yang menebarkan aroma wangi menyegarkan.
anjuran rasulullah memanfaatkan daun bidara untuk bersuci
Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam memanfaatkan daun bidara untuk menunjang kebersihan serta pelaksanaan ibadah. Salah satu anjuran utama mencakup proses pembersihan tubuh saat memandikan jenazah muslim.
Nabi SAW memerintahkan para sahabat memandikan jenazah seorang pria yang wafat terjatuh dari unta memakai campuran air bidara. Perintah serupa kembali beliau sampaikan kepada Ummu Athiyyah RA ketika memandikan jenazah putri beliau.
Selain perawatan jenazah, daun bidara memegang peranan penting dalam tata cara bersuci bagi wanita setelah haid. Riwayat Aisyah RA menyebutkan Rasulullah SAW menuntun Asma’ binti Yazid RA menggosok rambut memakai olahan daun ini sampai bersih.
Perawatan rambut menggunakan daun sidr juga menjadi solusi bagi wanita yang menjalani masa ‘iddah wafat. Tuntunan ini membantu para wanita tetap merawat rambut tanpa melanggar larangan memakai wewangian secara berlebihan.
Islam bahkan melarang keras siapa pun menebang pohon bidara di alam bebas secara semena-mena. Rasulullah SAW mengingatkan ancaman tegas tersebut melalui sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud:
مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ
Man qata’a sidratan sawwaballahu ra’sahu fin-nar. Hadis ini menegaskan: “Barangsiapa menebang pohon bidara maka Allah akan membenamkan kepalanya dalam api neraka.”
Imam Abu Dawud menerangkan bahwa larangan tersebut melindungi keberlangsungan pohon bidara di tengah padang pasir tandus. Keberadaan pohon rindang ini menjadi tumpuan utama musafir serta satwa liar untuk berteduh dari sengatan terik matahari.(ust)










Komentar