Jakarta, dorlanhikmah.com – Umat Islam senantiasa memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap bulan Rabiul Awal. Momentum peringatan ini menjadi sarana tepat untuk memperkuat ketegasan dan kebijaksanaan Rasulullah dalam ranah kepemimpinan.
Rasulullah SAW menunjukkan ketegasan luar biasa saat menegakkan aturan hukum. Beliau tidak pernah memihak siapapun, baik pejabat, masyarakat kecil, maupun keluarga sendiri.
Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu
Nabi Muhammad SAW menolak keras praktik tebang pilih dalam menetapkan keputusan hukum. Rasulullah SAW menyampaikan khutbah penting mengenai keadilan melalui riwayat Urwah bin Zubair:
أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Amma ba’du: Sesungguhnya telah membinasakan umat sebelum kalian, ketika di antara orang-orang terpandang yang mencuri, mereka dibiarkan (tidak dikenakan hukuman). Namun ketika orang-orang lemah yang mencuri, meeka mewajibkan dikenakan hukuman hadd. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Kebijaksanaan Rasulullah Mengambil Keputusan
Rasulullah SAW selalu mempertimbangkan setiap perkara secara matang berdasarkan panduan Al-Qur’an. Kebijaksanaan beliau terlihat jelas ketika menangani pengaduan seorang wanita dari suku Ghamidiyyah.
Wanita tersebut mendatangi Rasulullah SAW untuk mengakui perbuatan maksiat yang dilakukannya. Beliau menyikapi pengaduan tulus itu secara bijak dengan meminta wanita tersebut pulang.
Sikap Pengampun dan Tenggang Waktu
Wanita Ghamidiyyah kembali menghadap keesokan harinya sambil mengabarkan kondisi kehamilannya. Rasulullah SAW memerintahkan wanita itu datang kembali setelah melahirkan jabang bayinya.
Beliau memberi kesempatan sang ibu menyusui bayinya hingga masa sapih selesai. Setelah masa menyusui berakhir, beliau menyerahkan pengasuhan anak kepada seorang muslim sebelum menetapkan hukuman.
Mewujudkan Masyarakat Aman dan Harmonis
Keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW membawa dampak positif bagi kehidupan berbangsa. Penerapan sikap tegas dan bijak mampu menciptakan kehidupan masyarakat yang aman serta tenteram.
Masyarakat berharap Allah SWT senantiasa membimbing para pemimpin negeri ini. Peneladanan terhadap kepemimpinan Nabi SAW menjadi kunci utama mencapai harmonisasi sosial.
Naskah Lengkap Khutbah Jumat
Khutbah I
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ. القَائِلِ فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ (المائدة: ٨). وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُصَلُّونَ. اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Segala puji dan syukur terhatur kepada hadirat Allah SWT atas semua limpahan nikmat, karunia, serta hidayah-Nya. Sehingga kita bisa melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu shalat Jumat.
Shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada baginda kita, Nabi agung Muhammad SAW. Penutup para Nabi dan Rasul, yang senantiasa kita tunggu syafaatnya di hari kiamat kelak.
Tidak lupa khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi, dan kepada jama’ah sekalian, untuk meningkatkan takwa dan iman kita kepada Allah. Sebab hanya dengan iman dan takwa yang menjadi bekal bagi kita, untuk masuk ke dalam surga dan selamat dari siksa api neraka.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Setiap bulan Rabiul Awal kaum muslimin senantiasa memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Momentum ini hendaknya dijadikan sebagai sarana memperkuat untuk meneladani kehidupan Nabi SAW, salah satunya dalam masalah kepemimpinan.
Rasulullah SAW adalah pemimpin yang tegas dalam masalah penegakan hukum. Tidak pernah menetapkan suatu hukum dengan rasa belas kasihan, pilih kasih, dan tebang pilih. Beliau tidak memihak siapa pun, baik pada pejabat pemerintahan, sahabat, masyarakat kecil maupun anggota keluarganya sendiri, termasuk anaknya.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Dari Urwah bin Zubair, ia berkata bahwa Nabi SAW pernah berkhutbah dan menyampaikan,
أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Amma ba’du: Sesungguhnya telah membinasakan umat sebelum kalian, ketika di antara orang-orang terpandang yang mencuri, mereka dibiarkan (tidak dikenakan hukuman). Namun ketika orang-orang lemah yang mencuri, mereka mewajibkan dikenakan hukuman hadd. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Selain tegas, Nabi SAW pemimpin yang bijaksana dalam mengambil keputusan. Sebelum memutuskan perkara, beliau selalu memikirkannya secara matang, dan mengacu kepada kaidah yang ditetapkan dalam Alquran. Misalnya, pada saat memutuskan sanksi rajam terhadap pelaku perzinahan.
Dalam shahih Muslim, suatu waktu ada seorang wanita dari suku Ghamidiyyah menghadap Nabi SAW. Dia berkata, ”Ya Rasululah, sungguh aku telah berbuat lacur. Maka, aku mohon bersihkanlah aku.” Nabi dengan arif menolak pengaduan tulus wanita tersebut.
Karena penasaran pertemuannya dengan Nabi tidak membawa hasil, wanita Ghamidiyyah kembali mendatangi Nabi keesokan harinya seraya berkata, ”Ya Rasulullah mengapa engkau tidak menjawab pengaduanku? Apa barangkali engkau meragukanku sebagaimana engkau meragukan pengaduan Ma’iz? Demi Allah, aku sekarang sedang hamil.” Kali ini Nabi menjawab, ”Datanglah sesudah kamu melahirkan.”
Beberapa bulan kemudian, wanita Ghamidiyyah itu melahirkan anak yang dikandungnya, lalu dia menghadap Nabi. Sambil membawa serta si jabang bayi dalam gendongannya dia berkata, ”Rasulullah, aku telah melahirkan.” Nabi menjawab dengan ramah, ”Pergilah kamu menyusui anakmu hingga kamu menyapihnya.”
Setelah masa menyusui anaknya berakhir, ia kembali menghadap Nabi. ”Wahai Nabi Allah, ini aku. Sekarang anakku telah kusapih dan dia sudah bisa makan.” Berikutnya si anak yang masih kecil tersebut diserahkan kepada seseorang dari kaum Muslimin dan akhirnya Nabi memutuskan agar wanita tersebut dirajam, sebagai hukuman atas perbuatan zina yang dilakukannya.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Itulah contoh ketegasan dan kebijaksanaan dalam kememimpinan Nabi SAW. Jika sikap tegas dan bijak ini diimplementasikan dalam memimpin bangsa maka akan dapat mengantarkan kepada kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, dan harmonis.
Semoga Allah membimbing para pemimpin di negeri ini agar dapat meneladani sikap tegas dan bijak dalam kememimpinan Nabi SAW. Amin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ








Komentar