Kemerdekaan Tanpa Diskriminasi Menurut Al-Hujurat Ayat 13

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 4 September 2026 - 20:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Surat Al-Hujurat ayat 13.(poto: ist).

Surat Al-Hujurat ayat 13.(poto: ist).

Jakarta, dorlanhikmah.com – Momentum kemerdekaan senantiasa memanggil ingatan masyarakat pada perjuangan panjang para pahlawan bangsa. Para pejuang telah mempertaruhkan harta, pikiran, hingga nyawa demi mewujudkan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Namun, makna kemerdekaan sejati melampaui kebebasan fisik dari cengkeraman penjajah kolonial. Suatu bangsa belum mengenyam kemerdekaan tanpa diskriminasi kemanusiaan jika perlakuan tidak adil berbasis suku, ras, gender, dan status sosial masih merajalela.

Landasan Kesetaraan Manusia dalam Al-Qur’an

Islam menetapkan prinsip kesetaraan derajat manusia secara tegas sejak awal kemunculannya. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 menjadi landasan utama penegakan nilai kemanusiaan tersebut:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

Artinya, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Asbabun Nuzul Melawan Sikap Rasisme

Syekh Wahbah az-Zuhaili merinci riwayat sebab turunnya ayat tersebut dalam Tafsir Al-Munir. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan kisah Bilal bin Rabah yang mengumandangkan azan di atas Ka’bah saat penaklukan Kota Makkah.

Beberapa orang saat itu mempertanyakan kepantasan seorang mantan budak hitam memimpin azan. Allah SWT kemudian menurunkan Surat Al-Hujurat ayat 13 untuk menegur prasangka rasial tersebut.

Rasulullah SAW melarang umatnya membanggakan garis nasab, mengagungkan harta, atau menghina warga miskin. Ibnu Asakir dalam Al-Mubhamat juga mencatat riwayat senada terkait lamaran Abu Hindun.

Baca Juga :  Keutamaan Nabi dan Rasul dalam Islam Menurut Dalil

Rasulullah SAW memerintahkan Bani Bayadhah agar menikahkan Abu Hindun dengan putri mereka. Kalangan Bani Bayadhah sempat keberatan menikahkan anak perempuan mereka dengan mantan budak.

Sikap penolakan tersebut memicu turunnya ayat kesetaraan ini. Islam menolak keras segala bentuk pembedaan manusia berdasarkan warna kulit, pekerjaan, maupun kedudukan sosial.

Kesamaan Asal-usul dan Derajat Manusia

M. Quraish Shihab menegaskan dalam Tafsir Al-Mishbah bahwa ayat ini membongkar klaim superioritas golongan. Tidak ada tempat bagi siapa pun untuk merasa lebih tinggi atas dasar suku, keturunan, maupun jenis kelamin.

Laki-laki dan perempuan memegang peran yang sama penting dalam menjaga kelangsungan hidup manusia. Penggunaan kata ta’arafu menuntut interaksi aktif untuk saling mengenal dan bekerja sama secara harmonis.

Larangan Merusak Persaudaraan

Saling mengenal harus berlanjut pada komitmen menjaga kehormatan sesama warga. Rasulullah SAW mengingatkan bahaya prasangka dalam hadits riwayat Imam Muslim:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Artinya, “Yahya bin Yahya meriwayatkan kepada kami. Ia berkata, ‘Aku membacakan kepada Malik, dari Abu az-Zinad, dari Al-A‘raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Jauhilah prasangka buruk karena prasangka buruk adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari kabar buruk, mencari-cari kesalahan, saling bersaing, saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.’” (Shahih Muslim, no. 4646).

Baca Juga :  Cara Al-Qur'an Menguatkan Hati Nabi Muhammad Saat Ditolak

Prasangka buruk sering kali memicu perlakuan diskriminatif, perundungan, hingga pengucilan sosial. Karena itu, Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat Muslim membentengi persaudaraan dari benih permusuhan.

Keberagaman Sebagai Sarana Bekerja Sama

Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim bahwa syu’ub mencakup kelompok bangsa yang luas, sedangkan qaba’il merujuk pada tingkatan suku. Struktur sosial yang berjenjang ini merefleksikan kekayaan identitas manusia.

Buya Hamka menegaskan dalam Tafsir Al-Azhar bahwa keberagaman suku dan bangsa bukan penyekat antarmanusia. Perbedaan latar belakang justru mendorong masyarakat untuk memperluas jaringan kerja sama.

Ketakwaan Ukuran Utama Kemuliaan

Syekh Syamsuddin Al-Qurthubi mengulas makna inno akramakum ‘indallahi atqakum dalam Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an. Allah SWT menilai derajat seseorang murni dari tingkat ketakwaannya, bukan kekayaan atau tingginya nasab.

Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kedudukan mulia di sisi Tuhan. Atribut duniawi tidak otomatis mengangkat derajat suatu kelompok di atas kelompok lainnya.

Menghidupkan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Masyarakat Indonesia mendiami wilayah luas dengan latar belakang suku, bahasa, serta agama yang sangat beragam. Pengelolaan keragaman secara adil menjadi kunci utama pencegahan konflik horizontal.

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika berjalan seirama dengan pesan moral Surat Al-Hujurat ayat 13. Pemerintah dan warga wajib menjamin hak serta perlindungan yang setara bagi setiap individu tanpa terkecuali.

Mengisi kemerdekaan menuntut tindakan nyata dalam memberantas diskriminasi dan menegakkan keadilan. Bangsa Indonesia harus menjadikan keragaman sebagai modal sosial untuk membangun peradaban yang berdaulat.(ust)

Berita Terkait

Membedah Standar Kebenaran Tafsir Alquran Lewat Timbangan Filsafat
Rahasia Balaghah Al-Qur’an: Mengapa Perintah Disampaikan Lewat Kalimat Berita?
Hukum Tajwid dan Seni Baca Al-Qur’an: Mana Lebih Utama?
Mengapa Surat Yasin Disebut Jantung Alquran?
Alasan Mengapa Manusia Membutuhkan Kitab Allah SWT
Rahasia Surat Al-Falaq: Kisah Ujian Sihir Rasulullah SAW
Tiga Makna Iqra dalam Pendidikan Karakter di Pesantren
Peran Manusia sebagai Khalifah Menjaga Ekosistem Laut
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:43 WIB

Membedah Standar Kebenaran Tafsir Alquran Lewat Timbangan Filsafat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:38 WIB

Rahasia Balaghah Al-Qur’an: Mengapa Perintah Disampaikan Lewat Kalimat Berita?

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Hukum Tajwid dan Seni Baca Al-Qur’an: Mana Lebih Utama?

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Mengapa Surat Yasin Disebut Jantung Alquran?

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Alasan Mengapa Manusia Membutuhkan Kitab Allah SWT

Berita Terbaru

Ilustrasi Suasana belajar kitab kuning Matan Taqrib tentang bersuci bersama kiai dan santri di serambi pesantren yang damai.(poto: AI).

Fiqih

Enam Sebab Mandi Wajib Menurut Panduan Matan Taqrib

Sabtu, 24 Okt 2026 - 17:04 WIB

Suasana hangat ibu menyusui bayi di rumah, didampingi anak perempuan dan putra sulungnya yang sedang membaca.(ilustrasi poto: AI).

Fiqih

Hukum Saudara Kandung Anak Susuan Jadi Mahram

Sabtu, 24 Okt 2026 - 16:50 WIB

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan.(poto: istimewa).

Berita Islam

Pesantren Naik Kelas: Dari Lembaga Umat ke Motor Kemajuan

Sabtu, 24 Okt 2026 - 16:43 WIB

Pengurus Muslimat NU Jakarta Timur pada pelantikan PBNU 2026-2031 di Pesantren Al-Hamid, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).(poto: nu online).

Berita Islam

Harapan Muslimat dan Fatayat NU untuk PBNU 2026–2031

Sabtu, 24 Okt 2026 - 16:38 WIB