Jakarta, Dorlanhikmah.com – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama merancang terobosan baru bernama Passport Talent Santri. Program ini memetakan keahlian santri sejak dini agar potensi mereka langsung terhubung dengan kebutuhan dunia industri.
Wakil Ketua Umum PBNU H. Irfan Asy’ari Sudirman Wahid membeberkan rencana besar tersebut saat menghadiri Rapat Koordinasi PBNU di Depok, Jawa Barat. Pria yang akrab disapa Gus Ipang Wahid ini menilai banyak lulusan pesantren menghadapi kendala saat memasuki pasar kerja.
Menurut Gus Ipang, persoalan utama dunia pendidikan saat ini berakar pada ketidakmampuan mengenali bakat peserta didik. Akibatnya, jutaan anak muda memilih jalur studi yang sama sekali tidak mendukung bakat alami mereka.
Ia memaparkan temuan lapangan yang cukup mengejutkan di hadapan para pengurus. Sebanyak 97 persen pelajar mengaku bingung menentukan program studi lanjutan sebelum mendaftar kuliah.
Kondisi tersebut berbuntut panjang ketika mereka mulai menempuh bangku perkuliahan. Sekitar 83 persen mahasiswa merasa salah mengambil jurusan di tengah masa studi mereka.
Dampaknya langsung terasa pada dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan. Sekitar 82 persen perusahaan akhirnya merekrut tenaga kerja yang tidak sesuai dengan kebutuhan posisi kerja.
Hasil Uji Coba Lapangan di Kampus Tebuireng Jombang
PBNU menguji coba sistem pemetaan ini secara langsung di Universitas Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Lembaga ini mengumpulkan data riil dari 1.360 mahasiswa untuk membaca karakter kepribadian dan arah minat karier.
Hasil asesmen menunjukkan keragaman bakat para santri, mulai dari kemampuan mengejar target kerja hingga tingkat perfeksionisme. Sistem ini membaca secara detail kelebihan serta kekurangan yang tersimpan dalam diri setiap mahasiswa.
Menariknya, pemetaan tersebut menemukan minat kuat mahasiswa pada bidang perikanan dan perkebunan. Padahal, kampus bersangkutan belum membuka program studi untuk kedua sektor agribisnis itu.
Gus Ipang menegaskan perguruan tinggi harus berani membuka jurusan baru berdasarkan hasil pemetaan nyata ini. Langkah tersebut membuat lembaga pendidikan tidak lagi asal membuka kelas tanpa melihat minat calon mahasiswa.
Model evaluasi ini memudahkan penyaluran lulusan menuju bidang kerja yang tepat. Industri manufaktur, sektor kelautan, maupun operator pabrik bisa langsung melacak profil santri yang paling unggul di bidangnya.
PBNU Gandeng Kemenag Perluas Pemetaan ke Pesantren Besar
PBNU tidak berhenti pada uji coba di lingkungan perguruan tinggi saja. Pihaknya telah mengajukan rencana strategis ini ke Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama.
Pemerintah menyambut baik inisiatif tersebut dan bersiap menerapkan sistem serupa ke pondok pesantren besar di berbagai daerah. Kolaborasi ini memastikan jutaan santri di seluruh Indonesia memperoleh peta jalan karier yang terukur.
Santri kini tidak lagi hanya mendalami ilmu agama di dalam bilik pesantren. Melalui portofolio talenta yang rapi, mereka memegang bukti kompetensi nyata yang diakui langsung oleh para pelaku usaha.
PBNU menargetkan program ini mampu menekan angka pengangguran terdidik dari kalangan santri. Setiap generasi muda pesantren kini memiliki ruang tumbuh yang luas untuk memimpin berbagai sektor industri strategis nasional.(ar)










Komentar