Jakarta, dorlanhikmah.com – Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Helmi Nasaruddin Umar memberikan arahan strategis mengenai pentingnya penguatan karakter generasi muda. Pesan Penasihat DWP Kemenag ini disampaikan secara langsung di hadapan para siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) serta SMA di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah Kementerian Agama demi mencegah perkawinan anak dan kenakalan remaja melalui mekanisme edukasi teman sebaya. Program tersebut menempatkan para pelajar pilihan sebagai agen pembawa perubahan positif di lingkungan sekolah masing-masing.
Helmi menegaskan bahwa masa remaja merupakan fase paling krusial dalam pembentukan jati diri, karakter, dan arah masa depan. Pemerintah tidak boleh hanya memandang remaja dari sisi risiko, tetapi harus memfokuskan perhatian pada pengembangan potensi besar mereka.
Menjadi Pribadi Sehat Terampil Serta Siap Memimpin
Pesan pertama menekankan pentingnya pembentukan remaja yang sehat secara fisik, kuat mental, matang spiritual, serta berakhlak mulia. Helmi mengajak para siswa memanfaatkan masa pertumbuhan dengan terus belajar, memperluas pengalaman, membangun kemandirian, dan melatih kepemimpinan.
Ia mengingatkan para pelajar agar fokus menyelesaikan pendidikan, menjaga kesehatan, menguasai literasi digital, dan mengembangkan keterampilan diri. Pergaulan yang merusak, keputusan yang tergesa-gesa, maupun lingkungan tidak mendukung jangan sampai mempersempit masa depan remaja.
Membangun Keluarga Kuat Sebagai Ruang Aman Anak
Pesan kedua menggarisbawahi bahwa remaja yang kuat memerlukan dukungan penuh dari keluarga, sekolah, madrasah, komunitas keagamaan, serta masyarakat. Keluarga wajib menjadi ruang utama yang aman bagi anak untuk berbicara jujur tanpa merasa takut disalahkan atau dipermalukan.
Helmi juga menyoroti pentingnya kualitas komunikasi antara orang tua dan anak di tengah maraknya penggunaan gawai sehari-hari. Waktu makan bersama tanpa gawai bisa menjadi momentum berharga untuk mendiskusikan aktivitas, prestasi, hingga berbagai persoalan anak.
Pihaknya memastikan bahwa layanan keagamaan Kementerian Agama hadir lebih awal sejak usia sekolah, tanpa menunggu remaja siap menikah. Kehadiran layanan ini membantu remaja membangun nilai dasar, mengenali potensi diri, dan menentukan arah perjalanan hidup secara bijak.
Menjadi Teman Sebaya Yang Membawa Perubahan Positif
Pesan ketiga mengajak peserta pelatihan untuk tampil aktif menjadi Peer Educator yang membagikan pengaruh positif kepada kawan-kawan di sekolah. Helmi mengibaratkan peran pendidik sebaya seperti satu lilin menyala yang siap menerangi lilin-lilin lainnya di sekeliling mereka.
Dalam menjalankan peran ini, remaja di minta menerapkan lima prinsip 5M, yakni Mendengarkan, Mendukung, Membawa informasi yang benar, Menguatkan, serta Merujuk. Prinsip ini mengajarkan remaja cara hadir tanpa menghakimi, memberikan dukungan moral, dan menyebarkan informasi terverifikasi terkait kesehatan maupun perkawinan.
Prinsip Merujuk mengingatkan remaja untuk mengenali batas kemampuan diri saat mendampingi persoalan yang terlampau berat. Jika menghadapi masalah rumit, pendidik sebaya dapat mengarahkan temannya meminta bantuan kepada orang tua, guru konseling, penghulu, maupun penyuluh agama.(ust)










Komentar