Jakarta, dorlanhikmah.com – Masyarakat kerap sibuk memperbincangkan perubahan cuaca saat musim kemarau panjang melanda suatu wilayah. Namun, ajaran Islam justru menekankan pentingnya introspeksi diri dan memohon ampunan Allah SWT ketimbang sekadar mengeluhkan kondisi alam.
Oleh karena itu, umat Islam tidak hanya menengadahkan tangan ketika memohon keturunan hujan deras dari langit. Perintah tata cara shalat istisqa juga mengharuskan kaum muslimin memperbanyak taubat, bersedekah, memperbanyak istigfar, serta menghentikan segala bentuk kezaliman.
Bahkan, ibadah ini mengajarkan bahwa rahmat dan keberkahan langit hanya akan turun kepada hamba-hamba yang mau merendahkan diri. Al-Qadhi Abu Syuja’ rahimahullah memberikan penjelasan terperinci mengenai panduan pelaksanaan ibadah ini dalam kitab Matan Abu Syuja’.
فَصْلٌ
وَصَلَاةُ الِاسْتِسْقَاءِ مَسْنُونَةٌ، فَيَأْمُرُهُمُ الْإِمَامُ بِالتَّوْبَةِ، وَالصَّدَقَةِ، وَالْخُرُوجِ مِنَ الْمَظَالِمِ، وَمُصَالَحَةِ الْأَعْدَاءِ، وَصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ يَخْرُجُ بِهِمْ فِي الْيَوْمِ الرَّابِعِ فِي ثِيَابِ بِذْلَةٍ، وَاسْتِكَانَةٍ، وَتَضَرُّعٍ، وَيُصَلِّي بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْعِيدَيْنِ، ثُمَّ يَخْطُبُ بَعْدَهُمَا، وَيُحَوِّلُ رِدَاءَهُ، وَيُكْثِرُ مِنَ الدُّعَاءِ وَالِاسْتِغْفَارِ، وَيَدْعُو بِدُعَاءِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا سُقْيَا رَحْمَةٍ، وَلَا تَجْعَلْهَا سُقْيَا عَذَابٍ، وَلَا مَحْقٍ، وَلَا بَلَاءٍ، وَلَا هَدْمٍ، وَلَا غَرَقٍ. اللَّهُمَّ عَلَى الظِّرَابِ، وَالْآكَامِ، وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ، وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ. اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، هَنِيئًا مَرِيئًا، مَرِيعًا، سَحًّا، عَامًّا، غَدَقًا، طَبَقًا، مُجَلِّلًا، دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ. اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ مِنَ الْجَهْدِ، وَالْجُوعِ، وَالضَّنْكِ، مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ.
اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ، وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ، وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا.
وَيَغْتَسِلُ فِي الْوَادِي إِذَا سَالَ، وَيُسَبِّحُ لِلرَّعْدِ وَالْبَرْقِ.
Pasal: Shalat istisqa’ (minta hujan) hukumnya sunnah. Imam memerintahkan kaum muslimin untuk bertobat, bersedekah, keluar dari berbagai kezaliman, berdamai dengan pihak-pihak yang bermusuhan, dan berpuasa selama tiga hari. Setelah itu, imam keluar bersama mereka pada hari keempat dengan pakaian sederhana, dalam keadaan merendahkan diri dan penuh ketundukan kepada Allah.
Imam lalu mengerjakan shalat bersama mereka dua rakaat seperti shalat Id. Setelah itu, imam berkhutbah setelah dua rakaat tersebut, membalik selendangnya, memperbanyak doa dan istigfar, serta berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan rahmat. Jangan Engkau jadikan ia sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan bangunan, dan banjir yang menenggelamkan. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit kecil, dataran-dataran tinggi, tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah.
Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan hujan yang membahayakan kami. Turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, bermanfaat, menyenangkan, membawa kebaikan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menutupi seluruh wilayah, menyelimuti, dan terus-menerus hingga hari kiamat.
Allahumma Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa. Sesungguhnya para hamba dan negeri-negeri ini sedang mengalami kesulitan, kelaparan, dan kesempitan hidup yang tidak kami adukan kecuali kepada-Mu.
Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman untuk kami. Lancarkanlah air susu hewan ternak kami. Turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit. Tumbuhkanlah untuk kami keberkahan dari bumi. Singkapkanlah dari kami bencana yang tidak dapat disingkapkan oleh siapa pun selain Engkau.
Sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah hujan dari langit kepada kami dengan lebat.”
Disunnahkan mandi di lembah apabila airnya telah mengalir, dan bertasbih ketika ada guruh dan kilat.
Ketentuan Hukum Ibadah Istisqa
Secara hukum, shalat istisqa berstatus sunnah bagi orang yang menetap maupun para musafir ketika membutuhkan air. Sebab, kondisi ini mencakup peristiwa terputusnya curah hujan, kekeringan mata air, dan musibah sejenisnya.
Bahkan, para ulama membolehkan umat Islam mengulang shalat ini berkali-kali jika kekeringan masih melanda. Ibadah tersebut terus berlangsung sampai Allah SWT akhirnya menurunkan air hujan kepada mereka.
Selanjutnya, imam atau pemimpin masyarakat bertugas menyerukan perintah bertaubat kepada seluruh warga. Syariat pun mewajibkan masyarakat mematuhi imbauan pemimpin tersebut sebagaimana fatwa penegasan dari Imam An-Nawawi.
Sebenarnya, perbuatan bertaubat atas seluruh dosa bersifat wajib bagi setiap muslim. Kewajiban moral tersebut berlaku mengikat, baik ketika ada perintah imam maupun tanpa ajakan sama sekali.
Amalan Menjelang Hari Pelaksanaan Shalat
Selain taubat, pemimpin juga mengimbau warga agar rajin bersedekah dan segera menyelesaikan tindak kezaliman antarsesama. Kemudian, masyarakat turut diminta menyudahi perselisihan dengan musuh serta menunaikan puasa sunnah tiga hari berturut-turut.
Setelah itu, kaum muslimin menuju tempat shalat pada hari keempat dalam keadaan tetap berpuasa. Uniknya, mereka melangkah keluar tanpa menggunakan wewangian maupun berhias secara berlebihan.
Sebaliknya, seluruh jamaah mengenakan pakaian tsiyab bidzlah atau busana kerja yang sangat sederhana. Dengan demikian, mereka melangkahkan kaki dengan penuh kehusyukan, ketundukan, serta kepasrahan diri di hadapan Sang Pencipta.
Tak hanya dewasa, masyarakat juga membawa serta anak-anak, para lansia, wanita sepuh, hingga hewan-hewan ternak menuju lapangan. Kehadiran pihak-pihak lemah ini diharapkan mampu memancing datangnya kasih sayang dari Allah SWT.
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Istisqa
Pada hari H, imam mendirikan shalat sebanyak dua rakaat secara berjamaah seperti tata cara shalat Id. Rangkaian ibadah melingkupi pembacaan doa pembuka, ta’awudz, serta pengangkatan tangan saat bertakbir.
Secara teknis, rakaat pertama mengusung tujuh kali takbir tambahan di luar takbiratul ihram. Sementara itu, rakaat kedua menerapkan lima kali takbir sebelum pembacaan surat Al-Fatihah.
Lalu, imam menyampaikan dua sesi khutbah seusai menyelesaikan dua rakaat shalat di lapangan. Penyampaian khutbah ini tetap mengikuti aturan rukun serta syarat khutbah shalat Id.
Namun, perbedaannya terletak pada pembacaan lafaz istigfar yang menggantikan seruan takbir pada awal khutbah. Akhirnya, khatib memanjatkan istigfar sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua.
Berikut lafaz bacaan istigfar yang dibaca oleh khatib:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Aku bertobat kepada-Nya.”
Sunnah Saat Khutbah dan Setelah Hujan Turun
Di pertengahan khutbah, khatib memindahkan posisi selendangnya dengan mengubah sisi kanan ke kiri dan bagian atas ke bawah. Seketika itu pula, seluruh jamaah pria mengikuti gerakan khatib dalam membalikkan selendang atau sorban mereka.
Selain itu, khatib memanjatkan doa secara berulang-ulang, baik menggunakan suara pelan maupun lantang. Sebaliknya, jamaah mengaminkan setiap doa khatib ketika suara khatib terdengar jelas di area lapangan.
Tidak lupa, khatib melantunkan istigfar dan menyisipkan firman Allah SWT dari kitab suci Al-Qur’an:
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (QS. Nuh: 10–11)
Di samping itu, naskah kitab matan memuat doa lengkap Rasulullah SAW untuk memohon siraman hujan yang membawa rahmat. Doa tersebut memohon perlindungan dari mara bencana, banjir bandang, kelaparan, dan kesempitan hidup.
Ketika hujan turun, syariat juga menyunnahkan umat Islam untuk mandi di aliran lembah begitu airnya mulai mengalir. Bahkan, kaum muslimin hendaknya mengagungkan nama Allah dengan bertasbih setiap kali mendengar guruh dan melihat kilat.
Seluruh uraian doa serta amalan sunnah tersebut melengkapi teks matan yang bersifat ringkas. Maka dari itu, penjelasan mengenai ibadah meminta hujan ini ditutup dengan kalimat Wallahu a’lam.(ust)










Komentar