Jakarta, dorlanhikmah.com – Masyarakat Indonesia berkesempatan besar untuk mengukur arah kiblat akurat secara mandiri pada pertengahan Juli ini. Fenomena alam langka yang bernama Rashdul Qiblat atau Istiwa A’dham ini akan menempatkan posisi Matahari tepat berada di atas Ka’bah.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sirril Wafa mengonfirmasi peristiwa unik ini melalui surat edaran resmi pada Selasa (14/7/2026). Ia menjelaskan bahwa dari sudut pandang Bumi, posisi Matahari akan menempati titik zenith atau tepat di atas kiblat umat Islam tersebut.
Siklus gerak semu tahunan Matahari memicu fenomena alam ini terjadi secara berkala. Kombinasi antara putaran Bumi mengelilingi Matahari dan kemiringan sumbu rotasi Bumi membuat posisi sang surya tampak berpindah-pindah dari utara ke selatan.
Gerak Semu Tahunan Matahari Picu Fenomena Langka
Matahari secara teratur bergerak semu di antara Garis Balik Utara (23,5º LU) dan Garis Balik Selatan (23,5º LS). Setiap tahunnya, Matahari akan mencapai titik zenith Garis Balik Utara pada tanggal 20 atau 21 Juni.
Sebaliknya, sang surya akan berada di atas Garis Balik Selatan pada setiap tanggal 21 atau 22 Desember. Sementara itu, Matahari akan melintasi garis khatulistiwa pada tanggal 20 atau 21 Maret serta 22 atau 23 September.
Setiap wilayah yang berada di antara kedua garis balik tersebut akan mengalami momen Matahari tepat di atas kepala sebanyak dua kali setahun. Kota Makkah yang berada pada lintang 21º 25’ LU juga mendapatkan siklus alamiah yang sama ini.
Jadwal Lengkap Peristiwa Rashdul Qiblat Juli 2026
Nilai deklinasi Matahari yang sangat dekat dengan garis lintang Makkah memicu terjadinya kulminasi atas yang sempurna. Peristiwa Rashdul Qiblat kali ini akan berlangsung selama dua hari berturut-turut dengan jadwal yang sangat spesifik.
Momen pertama jatuh pada Rabu Pon, 15 Juli 2026, tepat pukul 12:26:42 waktu Saudi Arabia atau pukul 16:26:42 WIB. Sementara momen kedua terjadi pada Kamis Wage, 16 Juli 2026, pada pukul 12:26:48 waktu setempat atau pukul 16:26:48 WIB.
Masyarakat di wilayah Indonesia bagian tengah dapat menyesuaikan waktu tersebut pada pukul 17:26 WITA. Warga di sebagian besar wilayah Indonesia bisa memanfaatkan momen berharga ini secara langsung untuk mengecek arah sajadah mereka.
Panduan Mudah Kalibrasi Kiblat Lewat Bayangan Matahari
Pengukuran ini sayangnya tidak berlaku untuk wilayah Provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Hal ini terjadi karena Matahari sudah terbenam di wilayah Indonesia timur sebelum prosesi Rashdul Qiblat dimulai.
Untuk wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara, posisi Matahari juga sudah cukup rendah mendekati ufuk barat saat fenomena berlangsung. Warga setempat masih bisa mengamati arah kiblat asalkan cuaca cerah dan posisi barat tidak terhalang awan tebal.
Masyarakat hanya perlu menyiapkan benda tegak lurus seperti sudut bangunan atau tali dengan pemberat bandul. Tandai ujung bayangan benda tersebut tepat pada pukul 16:27 WIB atau 17:27 WITA menggunakan jam digital ponsel yang sudah terkalibrasi.(ar)










Komentar