Jakarta, dorlanhikmah.com – Hukum bacaan mim sukun (مْ) dalam ilmu tajwid menjadi dasar penting yang wajib dipahami setiap Muslim. Dalam pembahasan hukum bacaan mim sukun, para ulama menjelaskan tiga aturan utama yang mengatur cara melafalkan huruf mim ketika bertemu huruf tertentu, sehingga pembaca dapat membaca Alquran dengan lebih tepat, tartil, dan teratur.
Pengantar Ilmu Tajwid dan Mim Sukun
Ilmu tajwid mengarahkan umat Islam untuk membaca Alquran sesuai makhraj dan sifat huruf. Selain itu, ilmu ini juga menjaga keindahan serta ketepatan bacaan agar tidak mengubah makna ayat.
Karena itu, setiap Muslim perlu memahami aturan dasar tajwid sebelum membaca Alquran secara tartil. Allah SWT menegaskan pentingnya membaca Alquran dengan benar dalam firman-Nya:
“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.”
(QS. Al-Baqarah: 121)
Dengan demikian, hukum bacaan mim sukun menjadi salah satu bagian penting dalam pembelajaran tajwid yang tidak bisa diabaikan.
Pengertian Mim Sukun dalam Tajwid
Mim sukun adalah huruf mim (م) yang tidak memiliki harakat (مْ). Ketika huruf ini bertemu dengan huruf hijaiyah lain, cara membacanya akan berubah sesuai aturan tajwid.
Selanjutnya, para ulama tajwid membagi hukum mim sukun menjadi tiga bagian utama, yaitu ikhfa syafawi, idgham mimi, dan idzhar syafawi. Masing-masing hukum memiliki cara baca yang berbeda, sehingga pembaca harus memahami perbedaannya dengan baik.
Imam Ibn Al-Jazari menjelaskan pentingnya tajwid dengan tegas:
“الأخذ بالتجويد حتم لازم، من لم يجود القرآن آثم”
Artinya, seseorang wajib memperbaiki bacaan Alquran sesuai tajwid agar tidak meremehkan aturan yang sudah ditetapkan.
1. Ikhfa Syafawi
Ikhfa syafawi terjadi ketika mim sukun bertemu huruf ba (ب). Dalam kondisi ini, pembaca tidak melafalkan mim secara jelas, melainkan menyamarkannya sambil memberikan dengungan (ghunnah).
Pertama, pembaca menahan bunyi mim dengan lembut. Kemudian, ia mengalirkan suara menuju huruf ba dengan durasi 2–4 harakat. Selain itu, bibir tidak menutup rapat agar suara tetap samar.
Contoh hukum ini muncul dalam QS. Al-Insan ayat 15:
“وَيُطَافُ عَلَيْهِم بِـَٔانِيَةٍ مِّن فِضَّةٍ…”
Wa yutāfu ‘alaihim bi-ānīyatin min fiddatin…
Artinya: “Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak…”
Ciri ikhfa syafawi:
- Mim sukun bertemu ba (ب)
- Suara mim tersamarkan
- Mengandung ghunnah 2–4 harakat
- Bibir tidak menutup rapat
2. Idgham Mimi (Mutamatsilain)
Idgham mimi terjadi ketika mim sukun bertemu mim berharakat (م). Karena hurufnya sama, pembaca langsung melebur keduanya menjadi satu bunyi.
Selanjutnya, pembaca menutup bibir rapat dan mengucapkan satu bunyi mim yang diperkuat dengan dengungan. Dengan demikian, suara terdengar lebih tebal dan menyatu.
Contoh terdapat dalam QS. Al-Muthaffifin ayat 14:
“كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”
Kallā bal rāna ‘alā qulūbihim mā kānū yaksibūn
Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
Ciri idgham mimi:
- Mim sukun bertemu mim (م)
- Dua mim melebur menjadi satu
- Mengandung ghunnah
- Bibir tertutup rapat
3. Idzhar Syafawi
Idzhar syafawi terjadi ketika mim sukun bertemu huruf selain ba (ب) dan mim (م). Dalam kondisi ini, pembaca melafalkan mim secara jelas tanpa dengungan.
Pertama, pembaca menutup bibir saat mengucapkan mim sukun. Setelah itu, ia langsung melanjutkan ke huruf berikutnya dengan suara terang dan tegas.
Contoh bacaan terdapat dalam QS. Al-Fatihah ayat 2:
“الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”
Alhamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
Ciri idzhar syafawi:
- Mim sukun bertemu huruf selain ba dan mim
- Dibaca jelas tanpa dengung
- Suara terdengar tegas
- Tidak ada penyamaran
Pentingnya Memahami Hukum Mim Sukun
Memahami hukum bacaan mim sukun sangat penting karena aturan ini menjaga ketepatan bacaan Alquran. Selain itu, pembaca juga dapat meningkatkan kualitas tartil ketika menerapkan aturan ini dengan benar.
Lebih lanjut, pemahaman tajwid membantu pembaca menghindari kesalahan dalam pelafalan. Akibatnya, bacaan menjadi lebih jelas, indah, dan sesuai dengan kaidah yang diajarkan ulama.
Oleh karena itu, setiap Muslim sebaiknya mempelajari tajwid secara bertahap. Misalnya, mereka dapat mulai dari hukum mim sukun sebelum melanjutkan ke hukum tajwid lainnya.
Kesalahan Umum dalam Membaca Mim Sukun
Sering kali, pembaca pemula mencampuradukkan tiga hukum mim sukun. Mereka kadang tidak membedakan kapan harus mendengung dan kapan harus membaca jelas.
Selain itu, sebagian pembaca juga terlalu berlebihan dalam menerapkan dengung. Akibatnya, bacaan menjadi kurang jelas dan tidak sesuai kaidah.
Namun demikian, latihan rutin dapat membantu memperbaiki kesalahan tersebut secara bertahap.(ust)









Komentar