Jakarta, Dorlanhikmah.com – Khatib menggemakan makna cinta tanah air secara lugas melalui mimbar ibadah salat Jumat. Oleh karena itu, jemaah menyerap seruan moral tersebut sebagai fondasi spiritual utama dalam mengawal keutuhan bangsa.
Selain itu, kesadaran menjaga negeri berakar kuat pada nilai-nilai keagamaan yang luhur. Khatib mengawali khutbah pertama dengan melafalkan puji-pujian serta pengakuan keesaan ilahi secara khusyuk:
اَلسَّلَامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةاُللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ مَكَانًا عَلِيًّا.
أَشْهَدُ أَن لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً مَنْ هُوَ خَيْرُ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
أَللّٰهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَادِقِ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلَامَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا.
أّمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ مُحْكَمِ تَنْزِيْلِهِ: (يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوااتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)
Seruan Syukur dan Landasan Takwa
Selanjutnya, khatib mengajak seluruh jemaah untuk memanjatkan rasa syukur yang mendalam ke hadirat Allah SWT. Pasalnya, nikmat sehat dan kesempatan hidup memungkinkan umat menunaikan kewajiban salat Jumat secara berjemaah.
Kemudian, khatib melantunkan selawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat. Beliau menegaskan bahwa ketakwaan menjadi bekal paling berharga bagi setiap manusia untuk mengarungi kehidupan dunia dan akhirat.
Karena itu, bekal iman ini memicu keberanian moral warga dalam menjaga kedaulatan tanah tumpah darah. Umat yang bertakwa tentu menyadari tanggung jawab besar mereka terhadap keselamatan tanah airnya.
Percikan Sejarah Pasca Proklamasi 1945
Namun demikian, rakyat Indonesia menyadari bahwa proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah garis akhir perjuangan. Sebab, tentara Sekutu yang membonceng pasukan NICA segera datang untuk mengancam kedaulatan negeri yang masih belia ini.
Akibatnya, ancaman kembalinya belenggu penjajahan memantik kesadaran para kiai dan kaum santri di berbagai wilayah. Mereka bergerak cepat menyatukan barisan demi mempertahankan kemerdekaan tanah air dari cengkeraman penjajah.
Keluarnya Maklumat Resolusi Jihad 1945
Oleh sebab itu, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama Nahdlatul Ulama mencetuskan fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa bersejarah ini membakar semangat juang santri dan masyarakat luas untuk membela kedaulatan Indonesia secara gigih.
Tak lama kemudian, kobaran perlawanan rakyat mencapai puncaknya dalam pertempuran dahsyat di Surabaya pada 10 November 1945. Pemerintah lalu menetapkan tanggal bersejarah tersebut sebagai Hari Pahlawan guna mengenang keberanian para pejuang.
Pengakuan Negara terhadap Perjuangan Santri
Akhirnya, negara memberikan apresiasi resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 dengan menetapkan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober. Kebijakan ini meneguhkan peran historis ulama dan santri setelah tujuh puluh tahun fatwa Resolusi Jihad berkumandang.
Bahkan, pemerintah dan DPR semakin memperkuat posisi lembaga pesantren lewat pengesahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019. Regulasi ini mengakui kontribusi nyata pesantren dalam ranah pendidikan, dakwah keagamaan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Makna Doktrin Hubbul Wathan Minal Iman
Selain catatan sejarah, perjuangan gigih kaum santri bertumpu pada doktrin luhur hubbul wathan minal iman. Prinsip ini menegaskan bahwa rasa cinta kepada tanah air merupakan bukti nyata dari keimanan yang sejati.
Meskipun kalimat tersebut bukan matan hadis atau ayat suci Al-Qur’an, para ulama merumuskannya secara arif. Dengan demikian, pesan doktrin ini selaras dengan ajaran ilahi dan teladan luhur para nabi.
Kebutuhan Ruang Hidup yang Berdaulat
Pada hakikatnya, rasa cinta tanah air mencakup kebutuhan dasar manusia akan tempat tinggal yang aman dan bermartabat. Wilayah yang berdaulat memberikan ruang luas bagi masyarakat untuk menjalankan syiar agama secara bebas.
Maka dari itu, Islam memerintahkan kaum beriman untuk melakukan pembelaan jika ada kekuatan asing yang merampas tanah air mereka. Prinsip pembelaan diri ini menjadi bagian integral dari hak asasi setiap bangsa yang merdeka.
Jaminan Keadilan dalam Surah Al-Mumtahanah
Terkait prinsip hidup bersama, Al-Qur’an menggariskan panduan hubungan sosial yang adil dan beradab. Khatib membacakan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 8 sebagai landasan hukum yang kokoh:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
Oleh sebab itu, ayat tersebut menegaskan bahwa Islam memerintahkan umatnya berbuat baik kepada siapa saja yang menjaga perdamaian. Allah SWT mencintai hamba-Nya yang senantiasa mengedepankan nilai keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun sebaliknya, ayat ini menyejajarkan perlindungan agama dengan perlindungan terhadap tempat tinggal dan negeri. Dengan kata lain, membela tanah tumpah darah dari perampasan bangsa lain merupakan manifestasi langsung dari perintah agama.
Ikatan Batin Rasulullah dengan Makkah
Bahkan, Rasulullah SAW memberikan teladan nyata mengenai rasa cinta mendalam terhadap tanah kelahirannya, Kota Makkah. Beliau menumpahkan rasa rindunya saat kaum musyrik memaksa beliau untuk berhijrah ke negeri lain.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan ungkapan syahdu Rasulullah SAW yang menggambarkan ketulusan cinta beliau:
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُوْنِيْ مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
Sabda tersebut menunjukkan bahwa kepergian Nabi ke Madinah murni akibat kekejaman pihak penguasa yang mengusirnya. Kendati demikian, beliau senantiasa menyimpan kenangan indah dan keterikatan jiwa yang kuat pada tanah kelahirannya.
Doa Nabi bagi Keberkahan Kota Madinah
Setelah menetap di tempat hijrah, Rasulullah SAW segera menata kehidupan sosial masyarakat Madinah dengan penuh cinta. Oleh karena itu, beliau memanjatkan doa istimewa agar Allah menganugerahkan rasa cinta yang besar terhadap kota baru tersebut.
Kitab Shahih Bukhari merekam permohonan tulus Nabi Muhammad SAW saat membangun peradaban di Madinah:
اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِيْنَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
Melalui doa ini, beliau mencontohkan bahwa seseorang wajib merawat dan mencintai tempat tinggal barunya secara sungguh-sungguh. Akibatnya, peradaban Madinah tumbuh menjadi pusat ketenteraman, toleransi, dan persaudaraan yang kukuh.
Wujud Nyata Patriotisme Santri Hari Ini
Sejalan dengan keteladanan tersebut, rasa cinta menuntut tindakan nyata untuk merawat dan memajukan bangsa. Seseorang yang mencintai tanah airnya tentu berupaya sekuat tenaga memperbaiki berbagai kekurangan yang ada di sekitarnya.
Selain itu, warga negara yang tulus pantang mengkhianati tanah airnya melalui korupsi maupun perbuatan yang memicu perpecahan. Mereka rela berkorban waktu dan tenaga demi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, masyarakat masa kini memikul amanah untuk memelihara warisan perjuangan para ulama dan santri terdahulu. Pembangunan nasional membutuhkan partisipasi aktif setiap warga negara agar buah kemerdekaan dapat dinikmati generasi mendatang.
Selanjutnya, khatib mengakhiri sesi khutbah pertama seraya memohon keberkahan ayat-ayat suci bagi segenap hadirin:
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Rangkaian Doa dan Penutup Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.







Komentar