Jakarta, dorlanhikmah.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya diplomasi keagamaan imam masjid untuk membangun harmoni di tengah berbagai konflik global. Oleh karena itu, kedekatan para pemimpin keagamaan dengan masyarakat menjadi modal utama dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian.
Menag menyampaikan gagasan tersebut saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta. Selain itu, beliau mengajak seluruh pihak untuk menjadikan masjid sebagai titik temu antarumat manusia.
Peran Strategis Imam Masjid Mendorong Perdamaian Global
Sebab, imam memiliki intensitas komunikasi yang sangat tinggi dengan masyarakat melalui aktivitas ibadah rutin harian. Bahkan, intensitas perjumpaan tersebut melampaui frekuensi interaksi pemerintah atau pimpinan organisasi masyarakat.
Oleh sebab itu, pengaruh sosial yang kuat ini harus melampaui peran kepemimpinan ritual keagamaan semata. Sebaliknya, para imam perlu memperluas kontribusi mereka ke ruang sosial dan kemanusiaan.
Mengingat diplomasi formal sering kali menemui jalan buntu dalam menghentikan peperangan di berbagai kawasan. Namun, pendekatan berbasis nilai moral dan kemanusiaan dapat menjadi solusi alternatif yang efektif.
Sebab, kemanusiaan merupakan titik temu universal bagi seluruh manusia tanpa memandang perbedaan latar belakang. Dengan demikian, bahasa agama hadir untuk menyentuh sisi kemanusiaan tersebut demi meredam berbagai konflik.
Penguatan Ekoteologi dan Dialog Lintas Agama Dunia
Selain isu perdamaian, Menag juga menyoroti pentingnya peran imam dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Oleh karena itu, pemimpin agama perlu menyadarkan masyarakat untuk mencegah kerusakan alam dan eksploitasi berlebihan.
Bahkan, gagasan ekoteologi ini menjadi bagian penting dari agenda pembahasan dalam konferensi internasional tersebut. Hasilnya, masjid dapat berkembang menjadi pusat kepedulian yang mempertemukan isu keagamaan dan kelestarian alam.
Selanjutnya, Kementerian Agama merencanakan pertemuan lanjutan dengan para pimpinan rumah ibadah non-Muslim. Tentu saja, forum lintas agama tersebut bertujuan memperkuat rasa persaudaraan serta solidaritas kemanusiaan global.
Bahkan, Menag juga memperkenalkan konsep persaudaraan sesama makhluk atau ukhuwah makhluqiyah untuk memperluas jangkauan kebersamaan. Hal ini melengkapi bentuk persaudaraan keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan yang sudah ada.
Sementara itu, Ketua Panitia IGIC 2026 M Sabilul Alif mengonfirmasi kehadiran 49 delegasi internasional dari 39 negara. Adapun para peserta terdiri atas Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai belahan dunia.
Secara keseluruhan, konferensi internasional pertama ini berlangsung pada 25–28 September 2026 dengan mengusung tema Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace. Akhirnya, para tokoh dunia berkumpul untuk membahas peran masjid, diplomasi keagamaan, perdamaian, hingga potensi ekonomi kemasjidan.(ust)










Komentar