Jakarta, dorlanhikmah.com – Wanita muslimah sering menghadapi dilema saat mengalami hukum haid putus nyambung di kehidupan sehari-hari. Mereka kerap mengira kondisi tanpa darah sebagai tanda suci sehingga langsung menjalankan shalat serta puasa.
Darah haid tersebut ternyata keluar lagi pada hari berikutnya selama masih berada dalam batas maksimal lima belas hari. Para ulama fikih membagi keadaan berhentinya darah ini menjadi dua istilah penting, yakni naqo’ dan fatroh.
Perbedaan Istilah Naqo dan Fatroh
Istilah fatroh menggambarkan keadaan saat aliran darah berhenti, tetapi bekas warnanya masih menempel pada kapas. Kitab al-Inba’ halaman 14 menjelaskan kondisi khusus tersebut secara rinci melalui redaksi berikut:
الفترة هي: الحالة التي ينقطع فيها جريان الدم ويبقى لون وأثر بحيث لو أدخلت في فرجها قطنة يخرج عليها أثر الدم من حمرة أو صفرة أو كدرة، فهي في هذه الحالة حائض قولاً واحداً، طال ذلك أم قصر. والنقاء هو: أن يصير فرجها بحيث لو أدخلت القطنة فيه لخرجت بيضاء
Al-Fatrah (masa jeda/terputusnya darah) adalah keadaan ketika aliran darah berhenti tetapi masih tersisa warna dan bekasnya, sehingga jika dimasukkan kapas ke dalam kemaluan (farji), kapas tersebut akan keluar membawa bekas darah, baik berupa warna merah, kuning, atau keruh. Maka dalam keadaan ini, perempuan tersebut dianggap sedang haid menurut pendapat yang disepakati (tanpa perbedaan), baik masa jeda tersebut panjang maupun pendek. Adapun an-Naqa’ (kesucian) adalah: keadaan kemaluannya menjadi sedemikian rupa sehingga jika kapas dimasukkan ke dalamnya, kapas tersebut akan keluar dalam keadaan putih (bersih, tidak ada bekas darah sama sekali).
Tanda Kesucian Wanita dari Haid
Para ulama menandai kesucian wanita melalui berhentinya cairan merah maupun lendir keruh secara total. Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha memberikan petunjuk penting lewat sebuah riwayat hadist:
كنَّ نساءٌ يبعثنَ إلى عائشةَ بالدَّرجةِ فيها الكُرسُفَ فيه الصُّفرةُ فتقولُ لا تعجلنَ حتّى ترينَ القصَّةَ البيضاءَ
“Beberapa wanita datang menemui sayyidah Aisyah dengan membawa durjah (sesuatu yang digunakan oleh wanita untuk mengetahui masih ada atau tidaknya sisa-sisa darah haid) yang di dalamnya terdapat kapas dengan cairan berwarna kekuningan (shufrah), maka ‘Aisyah berkata: Janganlah kalian tergesa-gesa (untuk bersuci) hingga kalian melihat al-qashshatul baidha.”
Status Suci di Sela Keluar Darah
Wanita yang mendapati darahnya berhenti wajib segera mandi janabah untuk kembali menunaikan shalat dan puasa. Kitab Al-Ibanah wal Ifadhoh halaman 23 memaparkan dua pandangan ulama mengenai status hari-hari bersih tersebut:
اذا رأت الحائضُ يوماً دماً ويوماً نقاءً، أو ساعةً دماً وساعةً نقاءً، وهكذا، فلا خلاف في المذهب أن أيام الدم حيض، ولا خلاف أنها إذا رأت النقاء يجب عليها أن تغتسل وتصلي وتصوم، ويجوز للزوج وطؤها؛ لأن الظاهر بقاء الطهر وعدم معاودة الدم. واختلفوا في النقاء الذي يكون بين دمي الحيض، والطهر: أنه حيض بالشروط التالية
Pendapat sahb (adzhar) mengategorikan seluruh waktu jeda tersebut sebagai masa haid. Sementara itu, pendapat laqt menetapkan waktu berhentinya darah sebagai masa suci sebagaimana landasan Kitab Nihayah al-Muhtaj juz 1 halaman 350:
والثاني: أنه طهر؛ لأنه إذا دلَّ الدم على الحيض وجب أن يدلَّ النقاء على الطهر، ويُسمَّى هذا: قول اللقط
Dampak Hukum Terhadap Keabsahan Ibadah
Pendapat sahb menganggap shalat maupun puasa pada masa jeda tersebut tidak sah sehingga wanita wajib mengqodho’ puasanya. Sebaliknya, pendapat laqt mengesahkan seluruh ibadah tersebut tanpa mewajibkan qodho’ puasa.
Kitab Nihayah al-Muhtaj juz 1 halaman 350 menegaskan batas pengecualian untuk kedua pandangan tersebut:
وعلى القولين في الصلاة والصوم ونحوهما، فلا يُجعل النقاء طهراً في انقضاء العدة
Masyarakat dapat memakai pendapat laqt sebagai rujukan hukum sesuai penjelasan Kitab Kanzu ar-Raghibin. Puasa wanita tetap sah mengacu pendapat laqt selama darah tidak keluar sejak terbit fajar hingga maghrib.(ust)










Komentar