Hukum Emas Digital dalam Islam dan Kajian Muamalah Kontemporer(Bag.1)

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

hukum emas digital dalam Islam, riba, jual beli emas, dan perbedaan ulama tentang qabdh dalam transaksi modern.( poto : bareksa.com )

hukum emas digital dalam Islam, riba, jual beli emas, dan perbedaan ulama tentang qabdh dalam transaksi modern.( poto : bareksa.com )

Jakarta, dorlanhikmah.com – Hukum emas digital dalam Islam menjadi perhatian penting dalam kajian muamalah modern karena masyarakat kini banyak melakukan transaksi emas melalui platform digital tanpa menerima emas secara fisik.

Kajian ini membahas posisi syariat terhadap transaksi tersebut dengan meninjau dalil Al-Qur’an, hadis, serta pandangan ulama terkait riba dan konsep qabdh dalam jual beli emas.

Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk aktivitas ekonomi. Syariat tidak hanya membatasi ibadah mahdhah, tetapi juga menetapkan aturan rinci dalam transaksi agar manusia terhindar dari kezaliman dan praktik riba.

Islam Menata Sistem Muamalah

Syariat Islam hadir untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama. Dalam bidang ekonomi, Islam menetapkan prinsip keadilan dan kejelasan dalam setiap transaksi.

Allah Ta’ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Hal itu karena mereka mengatakan bahwa jual beli sama dengan riba, padahal Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah membedakan antara transaksi halal dan transaksi haram. Islam menutup seluruh pintu yang mengarah pada ketidakadilan ekonomi, termasuk riba.

Islam sebagai Rahmat dalam Aktivitas Ekonomi

Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Tidaklah Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Syekh Abdul Karim Zaidan menjelaskan bahwa risalah Islam membawa manfaat besar bagi kehidupan dunia dan akhirat. Ia menegaskan bahwa syariat selalu mencegah kerusakan dan menghadirkan kemaslahatan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk ekonomi.

Pengertian Emas Digital

Masyarakat modern mengenal emas digital sebagai bentuk investasi emas tanpa kepemilikan fisik langsung. Platform digital mencatat kepemilikan emas pengguna dalam sistem elektronik.

Penyedia layanan menyimpan emas fisik dalam vault khusus. Pengguna kemudian mendapatkan bukti kepemilikan dalam bentuk saldo digital yang dapat diperdagangkan atau dicetak menjadi emas fisik sesuai ketentuan platform.

Baca Juga :  Kewajiban Zakat Perusahaan dalam Islam dan Regulasi

Model ini menawarkan kemudahan transaksi karena pengguna dapat membeli emas dalam jumlah kecil dan melakukan transaksi secara cepat.

Status Emas dalam Fikih Muamalah

Islam telah mengatur jual beli emas sejak masa Rasulullah ﷺ karena emas termasuk harta ribawi. Oleh sebab itu, setiap transaksi emas harus mengikuti aturan syariat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ… مِثْلًا بِمِثْلٍ، سَوَاءً بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ

“Emas ditukar dengan emas… harus sama dan dilakukan secara tunai.”

Hadis ini menunjukkan dua syarat utama: kesamaan nilai jika sejenis dan serah terima langsung tanpa penundaan.

Syekh Muhammad at-Tuwaijiri menjelaskan bahwa emas dan perak termasuk alat tukar yang masuk kategori harta ribawi. Ia juga membagi enam jenis barang ribawi yang mencakup emas, perak, dan bahan makanan pokok.

Konsep Riba dalam Transaksi Emas

Ulama menjelaskan riba dalam transaksi emas dalam dua bentuk utama yang perlu dihindari.

Riba Fadhl

Riba fadhl muncul ketika seseorang menukar emas dengan emas dalam jumlah tidak sama meskipun transaksi berlangsung langsung. Misalnya, satu gram emas ditukar dengan dua gram emas secara tunai.

Riba Nasi’ah

Riba nasi’ah terjadi ketika transaksi mengandung penundaan dalam penyerahan atau pembayaran. Misalnya, seseorang meminjamkan uang dengan syarat pengembalian lebih besar di masa depan.

Syekh Abdul Karim al-Lahim menjelaskan bahwa riba muncul ketika terdapat kelebihan pada barang ribawi sejenis atau ketika terjadi penundaan dalam serah terima.

Syarat Transaksi Emas dengan Uang

Dalam praktik modern, emas sering diperdagangkan menggunakan mata uang seperti rupiah. Karena emas dan uang termasuk kategori ribawi yang berbeda jenis, Islam membolehkan transaksi tersebut dengan syarat dilakukan secara tunai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Jika jenisnya berbeda, maka jual belilah sesuka kalian selama dilakukan secara tunai.”

Baca Juga :  Shalat Jumat Bisa Tidak Sah? Ini Syarat dan Rukunnya

Hadis ini menegaskan bahwa perbedaan jenis membolehkan perbedaan nilai, tetapi tidak membolehkan penundaan serah terima.

Qabdh dalam Fikih Islam

Ulama membahas konsep qabdh (serah terima) dalam dua bentuk utama.

Qabdh Hakiki

Qabdh hakiki terjadi ketika barang berpindah secara fisik dari penjual kepada pembeli. Pembeli menerima barang secara langsung.

Qabdh Hukmi

Qabdh hukmi terjadi ketika kepemilikan sudah sah secara hukum meskipun barang belum berpindah secara fisik. Pembeli sudah memiliki hak penuh atas barang tersebut.

Syekh Dubyan bin Muhammad ad-Dubyan menjelaskan bahwa ulama berbeda pandangan dalam menentukan bentuk qabdh yang sah. Mazhab Hanafi menerima kepemilikan sebagai bentuk qabdh, sedangkan jumhur ulama mensyaratkan serah terima langsung.

Analisis Qabdh dalam Emas Digital

Transaksi emas digital menimbulkan persoalan baru dalam fikih muamalah. Pembeli membayar dengan rupiah, lalu sistem langsung mengurangi saldo mereka. Namun emas tidak berpindah secara fisik, karena penyedia layanan tetap menyimpannya dalam vault.

Situasi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah pencatatan digital sudah memenuhi syarat qabdh, atau masih membutuhkan penguasaan fisik?

Sebagian ulama kontemporer menerima konsep qabdh hukmi jika pengguna memiliki kendali penuh atas emas yang dibeli. Mereka menilai sistem digital sudah cukup menunjukkan kepemilikan yang sah.

Namun sebagian ulama lain tetap mensyaratkan perpindahan fisik untuk menghindari potensi riba, terutama karena emas termasuk barang ribawi yang memiliki aturan ketat.

Perbedaan pendapat muncul karena ulama menggunakan pendekatan ijtihad yang berbeda dalam memahami illat hukum dan penerapan qabdh pada sistem digital.

Sebagian ulama menilai sistem digital modern sudah mencerminkan kepemilikan penuh sehingga dapat diterima sebagai qabdh hukmi. Ulama lain menolak pandangan tersebut karena mereka menganggap emas tetap membutuhkan serah terima fisik agar transaksi sah secara syar’i.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa fikih Islam tetap fleksibel dalam menghadapi perkembangan teknologi tanpa meninggalkan prinsip dasar syariat.(ust)

Bersambung ke bag.2

Berita Terkait

Pencucian Uang di Pesantren: Hukum Islam dan Jerat Pidana
Bahaya Penyakit Hasad yang Merusak Hati dan Agama
Adab dan Doa Meminum Air Zamzam Sesuai Sunnah
Konsep Sabar Menurut Imam Al-Ghazali dalam Islam
Hukum Mengulang Surat Sama dalam Salat Dua Rakaat
Doa Saat Sulit Mencari Nafkah Sesuai Anjuran Rasulullah
Solusi Syariat Bisnis Dropship dan Rambu Jual Beli Online bag.2
Hukum Jual Beli Online dalam Islam dan Rambu Syariat bag.1
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:00 WIB

Pencucian Uang di Pesantren: Hukum Islam dan Jerat Pidana

Rabu, 29 Juli 2026 - 17:00 WIB

Bahaya Penyakit Hasad yang Merusak Hati dan Agama

Selasa, 28 Juli 2026 - 15:00 WIB

Adab dan Doa Meminum Air Zamzam Sesuai Sunnah

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:00 WIB

Konsep Sabar Menurut Imam Al-Ghazali dalam Islam

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:00 WIB

Hukum Mengulang Surat Sama dalam Salat Dua Rakaat

Berita Terbaru

Hukum Islam dan UU TPPU terkait dana haram untuk pesantren.(ilustrasi poto: riau online).

Fiqih

Pencucian Uang di Pesantren: Hukum Islam dan Jerat Pidana

Kamis, 30 Jul 2026 - 13:00 WIB

Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi) MUI berkolaborasi dengan Baznas RI untuk memperkuat literasi keislaman digital AI.(poto: hidayatullah.com).

Berita Islam

MUI dan Baznas Latih Mujahid Digital Kuasai Teknologi AI

Kamis, 30 Jul 2026 - 09:00 WIB