Jakarta, Dorlanhikmah.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar meyakini potensi pesantren bangun peradaban Islam di Indonesia sangat terbuka lebar melalui tradisi keilmuan khasnya. Oleh karena itu, penguatan fondasi pendidikan ini harus memadukan nalar rasional dengan kedalaman spiritual secara seimbang.
Pernyataan tersebut disampaikan Menag dalam agenda resmi Kementerian Agama di Jakarta, Senin (12/10/2026). Selain itu, forum penting ini membahas Finalisasi dan Penetapan Hasil Rekrutmen Anggota Majelis Masyayikh Masa Khidmat 2026–2031.
Nasaruddin Umar mengajak seluruh kalangan pesantren memperkuat cara pandang keilmuan yang menjadi dasar pendidikannya. Sebab, lembaga tradisional ini menyimpan kekayaan intelektual melimpah guna menjawab berbagai tantangan zaman modern.
Integrasi Nalar Rasional Dan Kedalaman Batin Santri
Lebih lanjut, pimpinan Kemenag tersebut menggarisbawahi pentingnya perjumpaan antara pemikiran rasional dan olah batin spiritual. Dengan demikian, kedua pendekatan ini saling melengkapi dalam membentuk pemahaman hidup yang utuh bagi para santri.
Bahkan, Nasaruddin mengibaratkan sinergi dua kutub pengetahuan itu seperti fenomena pertemuan dua lautan lepas. Melalui gambaran tersebut, ia menegaskan tradisi pemikiran analitis dan keheningan zikir dapat berkembang bersama tanpa saling berbenturan.
Di samping itu, Menag turut menyinggung rekam jejak kejayaan intelektual pada era peradaban Baitul Hikmah. Pasalnya, semangat keilmuan yang inklusif pada masa lampau berhasil memicu lompatan peradaban melalui berbagai cabang pengetahuan.
Kekuatan Tradisi Sendiri Menjawab Berbagai Tantangan Zaman
Selanjutnya, Nasaruddin mengingatkan pengelola pesantren agar memajukan lembaga dengan bersandar penuh pada kekuatannya sendiri. Pasalnya, kedalaman ilmu agama, pembinaan akhlak, dan keteladanan para ulama merupakan modal utama yang tak tergantikan.
Oleh sebab itu, kekayaan tradisi internal pesantren harus terus dijaga demi memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat luas. Hasilnya, institusi pendidikan berbasis asrama ini tetap relevan memimpin perubahan di tengah era globalisasi.
Sementara itu, kriteria seleksi anggota Majelis Masyayikh periode 2026–2031 harus mempertimbangkan kemampuan calon dalam merawat marwah tersebut. Karenanya, panitia seleksi wajib menyaring figur berintegritas tinggi yang memahami betul denyut nadi pesantren.
Seleksi Majelis Masyayikh Menentukan Arah Pendidikan Bangsa
Tentunya, para tokoh terpilih memikul amanah besar dalam merumuskan arah kebijakan serta standar mutu pendidikan pesantren. Pada akhirnya, pemahaman mendalam para pengurus baru akan menjaga orisinalitas lembaga sembari terus mendorong transformasi pembelajaran.
Di sisi lain, Menag menatap masa depan lembaga pendidikan khas nusantara ini dengan rasa optimisme yang sangat tinggi. Sebab, model pendidikan asrama membina akal pikiran sekaligus menyucikan hati generasi penerus bangsa.
Dengan cara demikian, proses pembinaan tersebut melahirkan sumber daya manusia unggul yang mendedikasikan ilmunya bagi kemaslahatan publik. Akhirnya, langkah strategis bersama Majelis Masyayikh ini mempertegas peran sentral pesantren dalam memajukan peradaban Indonesia ke depan.(ust)







Komentar